Sejarah Haji Wada dan Cerita Umroh Pertama Nabi Muhammad

foto kabah lama

Ibadah Haji sudah ada sebelum jaman Rasulullah. Tetapi sudah dikotori oleh ritual- ritual menyesatkan. Oleh karena itulah Nabi Muhammad diperintahkan mensucikan. Inilah sejarah Haji Wada, sebagai bentuk puncak Ibadah Umat Muslim menyempurnakan agama.

Artikel ini membahas mengenai sejarah Haji Wada dan Umroh pertama. Siapa biang kerok rusaknya Agama Allah ditanah Haram. Dia lah Ammar bin Luhay, orang pertama yang menyebarkan perintah menyembah berhala di Kota Mekkah.

Semenjak pengaruh tersebut orang Arab menyimpang jauh. Peribadatan sudah tidak lagi sesuai dengan Agama Tauhid mereka. Mereka mengindahkan perintah Rasul dan Nabi selepas Nabi Ibrahim. Peribadatan di Ka’bah dinodai dengan banyaknya patung- patung berhala.

Antara agama satu dan lain berbaur dalam satu tempat. Ritual seperti bernyanyi, minum arak, dan berjoget lazim berada disekitar Ka’bah. Bahkan Ibadah kurban dislewengkan menjadi persembahan. Kambing dipotong untuk darahnya disiramkan ke Ka’bah, sementara daginya digantung untuk persembahan.

Perintah Haji dan Umroh Nabi Muhammad SAW

Kalimat Talbiah dislewengkan ditambahi kalimat- kalimat sesat. Para peziarah melakukan keamsiatan disekitar bangunan Ka’bah. Mereka menyesatkan Ibadah yang dicontohkan Nabi Ibrahim. Maka lahirlah Rasul kembali dikalangan mereka bangsa Arab.

Sesuai Surah Al Baqarah Ayat 129 menyebutkan kelahiran Rasul. Beliau datang untuk mengembalikan ayat- ayat Allah, mengajarkan kitab Al Quran, dan mengajarkan Sunnah mensucikan. Perintah ini sudah mengandung kewajiban Rasul membersihkan Ka’bah.

Rasulullah diperintahkan mengembalikan ritual Haji. Menghilangkan upacara menyesatkan kaum Jahiliah disana. Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad adalah Umroh. Dia menyuruh Kaum Anshor mengerjakan Umroh sesuai ajaran Nabi Ibrahim.

Beliau sengaja tidak ikut karena blokade Kaum Quraih. Kaum Anshor tidak akan dicurigai jika datang berziarah disana. Ini juga sebagai cara Nabi mengetahui keadaan Mekkah pasca Hijrah. Perjalanan Umroh mereka berjalan lancar, hanya ada keraguan diantara mereka soal Ibadah Sai di bukit Safa dan Marwa.

Mereka ragu karena diantara kedua bukit ada dua berhala raksasa. Kaum Anshor akan sah Ibadah Sa’i diantara kaki berhala Asaf dan Nai’lah. Hingga turunlah Wahyu dari Allah mengenai ritual Sa’i mereka. Bahwasanya berjalan diantara Safa dan Marwa merupakan ritual wajib Umroh dan Haji.

Di bulan April 628 M Nabi Muhammad bermimpi melakukan Ibadah Umroh. Tepatnya 6 Dzulkaidah Nabi mengajak para sahabat berangkat ke Mekkah. Dengan berani Beliau mengajak 1.500 sehabat menuju Mekkah. Mereka berpakaian Ihram berniat melakukan Umroh pertama Nabi.

Kaum Quraish datang menghadang menghalangi Kaum Muslimin. Mereka mengerahkan pasukan skala besar diluar Kota Mekkah. Tertahan di tempat bernama Hudaibiyyah berjarak 20 m sebelah barat. Diutuslah Suhail Ibn Amr melakukan diskusi hingga melahirkan perjanjian Hudaibiyyah.

Inilah sejarah perjanjian Hudaibiyyah yang terkenal itu. Kaum Muslimin menunda melakukan Umroh dan mengadakan genjatan senjata. Muslimin baru boleh melakukan Umroh setelah setahun. Itupun cuma diberi waktu tiga hari saja untuk beribadah.

Umroh Masuk Kembali ke Kota Mekkah

Sejarah perjanjian Hudaibiyyah merupakan terpenting. Bukan kekalahan justru kemenangan Kaum Muslimin karena pengakuan. Quraish mengakui kedaulatan Kaum Muslimin di Madinah. Ketika perjalanan kembali ke Madinah, turunlah Surah Al Fath Ayat 27.

“Sungguh Allah akan memenuhi mimpi RasulNya dengan sebenar-benarnya. , bahwa kamu akan memasuki Masjidil Haram insya Allah dengan aman. Kamu akan mencukur kepalamu atau menggunting rambut (menyelesaikan umroh) dengan tidak merasa takut. Dia mengetahui apa yang tidak kau ketahui dan DIA menjadikan selain itu sebagai kemenangan yang dekat.” (QS Al Fath : 27)

Sesuai isi perjanjian Hudaibiyyah, maka pada tahun berikutnya barulah Rasulullah melakukan Umroh pertama. Yakni 629 M Maret atau 7 Zulkaidah, tahun Hijriyah, dimana Beliau mengajak kembali para sahabat sejumlah 2.000 orang masuk ke Mekkah.

Setiba di depan Ka’bah mereka melakukan Thawaf pertama. Sementara Kaum Quraish menontong diatas bukit Qubais. Mereka meneriaki Kaum Muslimin karena kelihatan letih. Kaum Quraish meneriaki bahwa mereka tidak akan mampu melakukan Thawaf.

Sesudah mencium Hajar Aswad, Rasulullah SAW, dan para sahabat memulai Thawaf berkeliling mengitari Ka’bah. Diputaran ke empat Thawaf mereka yang usil akhirnya bubar. Rasulullah dan sahabat yang sebelumnya berlari kecil, kemudian berjalan biasa diputaran ke empat.

Apa yang dicontohkan Rasul menjadi panduan Ibadah. Inilah sejarah tata cara Thawaf, seperti berlari kecil di tiga putaran pertama, memperlihatkan bahu kanan (Idhtiba), dan keduanya memiliki makna. Lari kecil dan memperlihatkan bahu kanan untuk menunjukan bahwa Kaum Muslimin kuat.

Selesai tujuh putaran Nabi Muhammad menuju Makam Ibrahim. Kemudian mereka meminum air zam zam dan dilanjutkan tahalul. Lepas sudah larangan Ihram, kemudian mereka melakukan Khirasy atau bercukur. Waktu Dzuhur tiba, maka diperintahkan Bilal ibn Rabah RA mengumandangkan Adzan pertama.

Inilah sejarah Adzan pertama berkumandang di dunia. Indahnya Adzan digemakan Bilal mengundang perhatian. Para penduduk Mekkah merasakan kagum akan “suara aneh” tersebut. Disana mereka melihat bagaimana rapihnya Sholat yang dilakukan Kaum Muslim.

Hari itu, pada 17 Zulkaidah atau 7 Hijriyah (17 Maret 629 M), disana pertama kalinya Adzan berkumandang di Mekkah dan Nabi Muhammad SAW menjadi Imam Sholat di depan Ka’bah. Sesuai perjanjian bahwa Rasulullah hanya boleh Umroh selama tiga hari, tetapi itu cukup menempelkan kesan dikaum Quraish.

Sejarah Haji Wada Perpisahan Nabi Muhammad SAW

Tiga orang petinggi Quraish yakni Khalid bin Walid, Amru bin Ash dan Utsman bin Thalah, kemudian menyusul ke Madinah untuk mengucapkan Syahadat. Beberapa bulan setelah Umroh tersebut perjanjian batal. Kaum Quraish memilih melanggar perjanjian melanggar gencatan senjata.

Pada 20 Ramadhan, 8 Hijriyah, atau 11 Januari 630 M, Rasulullah berangkat ke Mekkah untuk penaklukan tanpa pertumpahan darah. Ada 10.000 pasukan dibawa masuk ke Mekkah tanpa perlawanan. Bahkan Kaum Muslimin memberikan amnesti kepada warga Mekkah yang dulu memusuhi.

Jatuhnya Kota Mekkah dilanjut perintah pemusnahan berhala. Nabi Muhammad membersihkan Ibadah Haji dari unsur kemusyrikan. Beliau mengembalikan itu ke Syariat Nabi Ibrahim semula. Pada Dzulhijah 9 H (Maret 631), Abu Bakar Ash Shiddiq diperintahkan melakukan Ibadah Haji pertama kali.

Kemudian Abu Bakar Ash Shiddiq menyampaikan pesan Rasulullah. Kenapa Nabi Muhammad tidak melakukan Haji. Karena ketika itu harus menghadapi perang Tabut melawan Romawi. Perintah ini sesuai dengan Al Quran Surah At Taubah Ayat 28.

Pada bulan Syawal Rasulullah mengumumkan Beliau akan berhaji. Nabi Muhammad sendiri yang akan memimpin Haji tersebut. Pada Sabtu, 26 Dzulhijah (22 Februari 631 M), Rasulullah menaiki untanya kemudian mengucapkan niat Haji.

Sejarah Haji Wada dimulai ketika Nabi Muhammad masuk Mekkah. Pada hari Ahad, 4 Dzulhijah (1 Maret), yang mana ribuan Umat Muslim datang bersamaan. Jamaah mencapai 100.000, dimana Rasulullah masuk dari gerbang Banu Syaibah atau yang terkenal bernama gerbang Baabussalam.

Sejarah Haji Wada dilakukan sebelum ada bangunan Masjidil Haram. Karena fondasi Masjid baru dibuat pada zaman Khalifah Umar bin Khattab (634- 644 M). Rasulullah sendiri tidak memeritahkan khusus masuk dari gerbang mana, dan gerbang itu juga sudah tidak ada karena perluasan Masjid.

Rasulullah SAW melakukan tujuh kali putaran Thawaf. Setiap melewati Rukun Yamani Rasul cuma mengusap dengan tangan. Diantara Yamani dan Hajar Aswad Rasulullah mengucapkan doa:

“Robbanaa aatinaa fid duniya hasanah. Wafil aakhiroti hasanah. Waqinaa ‘adzaaban naar (Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat serta peliharalah kami dari adzb neraka).”

Setelah dia selesai tujuh putaran, Beliau melakukan Sholat dua rakaat dibelakang Maqam Ibrahim. Kemudian Beliau melanjutkan ke telaga zam zam dan membasahi kepala. Dilanjutkan melakukan Sa’i diantara bukit Safa dan Marwa.

Sejarah Tiga Macam Ibadah Haji

Beliau naik ke bukit, menghadapt Ka’bah, dan bertakbir 3 kali dan berdoa. Selesai Sa’i Rasulullah di Marwa menginstruksikan hal mengejutkan. Belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu Rasul memerintahkan seluruh sahabat untuk tidak membawa Hadyu atau hewan kurban, dan berniat Umroh.

Ini mengejukan terutama bagi Sahabat yang membawa Hadyu. Bagi mereka yang tidak membawa Hadyu, maka mereka bisa lepas Ihram dan Tahallul. Mereka terbebas dari kewajiban Umroh dan merubah niatnya menjadi Umroh bukan melakukan Ibadah Haji dulu.

Mereka yang membawa Hadyu dilanjut niat Umroh. Dimana Sahabat sempat ragu karena belum pernah Umroh ketika musim Haji. Apalagi karena Rasulullah tidak melakukan Tahallul Umroh. Keraguan ini kemudian dijawab oleh Nabi Muhammad.

Untuk mereka yang terlanjur membawa Hadyu, maka tidak perlu merubah niat menjadi Umroh. Sementara mereka yang belum maka berumroh dahulu. Selepas itu mereka barulah melakukan Ibadah Haji. Itupun setelah mereka membeli hewan kurban dan bebas Ihram beberapa hari.

Kedua rangkaian diatas merupakan cikal bakal dua jenis haji: Tamattu dan Qiran. Apa yang dilakukan Nabi Muhammada adalah Haji Ifrad. Atau melakukan dua ibadah Haji dan Umroh terpisah niat. Sementara sisanya melakukan apa yang disebut Haji Tamattu, karena ada jeda waktu bebas Ihram dahulu.

Sementara itu Haji Tamattu sendiri bukanlah karangan siapapun. Itu sudah tertuang dalam Surah Al Baqarah Ayat 196, dimana Allah memberikan keringan untuk menggabungkan keduanya, Haji dan Umroh menjadi satu atau gabungan.

Masuk 8 Dzulhijah, Rasulullah beserta Jamaah Haji menuju Mina untuk mempersiapkan air, karena pada 10 Dzulhijah mereka sepulang dari Arafah akan tinggal di Mina. Pada hari Jum’at, 9 Dzulhijah, sesudah matahari terbit Rasulullah berangkat menuju Arofah dimana mengejutkan Kaum Quraish.

Pasalnya mereka hanya melakukan Ibadah di Ka’bah Mekkah. Sementara Wukuf Arofah hanyalah bagi mereka yang bukan Quraish. Ini sesuai dengan perintah Allah tentang Wukuf di Arofah. Di padang Arofah Nabi Muhammad melakukan khotbah tanda dimulainya acara Wukuf.

Penutup Sejarah Haji Wada Rasulullah

Disinilah Beliau menyampaikan Khutbah perpisahan. Beliau dibantu Rabi’ah in Umayyah, sebagai penyambung suara Khutbah Beliau. Maka terdengarlah Khutbah tersebut kepada ribuan Jamaah Haji. Ketika Wahyu kembali turun, inilah pertanda bahwa Rasulullah tidak akan bersama mereka lagi.

Sahabat Abu Bakar RA menangis tersedu karena ini. Sementara Umar bin Khattab menenangkan Beliau agar Ikhlas. Sementara itu Rasulullah mengajak mereka melanjutkan rangkaian. Mereka berangkat ke Muzdalifah, dimana Beliau melarang berlari kencang dari Arafah karena bukan Adab baik.

Sampai di Mudzdalifah rombongan langsung melaksanakan Sholat. Mereka melakukan Sholat Maghrib dan Isya berjamaah disana. Tetapi Rasulullah mengijinkan mereka yang lemah, anak- anak, dan wanita untuk langsung ke Mina sesudah tengah malam.

Tujuannya agar mereka bisa melempar Jumrah dengan ringan. Sehabis Subuh di Muzdalifah, Rasulullah memimpin rombongkan ke Mina dan sampai pada 10 Dzulhijah (7 Maret). Sesampai di Mina Beliau tidak menuju Jumroh Ula ataupun Wustha, melainkan langsung melakukan Jumroh Aqobah.

Berbeda Jumroh Ula atau Wustha, Jumroh Aqobah dilakukan di kaki bukit. Itulah kenapa bentuk Jumroh Ula dan Wustha berbentuk lingkaran. Sementara Jumroh Aqobah berbentuk setengah lingkaran. Itu karena tempat terhalang oleh bukit cadas.

Kesimpulan Sejarah Haji dan Umroh Umat Muslim

Walaupun sekarang sudah rata dengan tanah bentuk masih tetap. Bentuknya tetap seperti setengah lingkaran karena takut Bid’ah. Rasulullah melempar Jumrah Aqobah sebanyak 7 kali, dan bertakbir disetiap lemaparan. Inilah lambang penolakan manusia maksimal kepada bujuk rayuan Syetan.

Kemudian dilanjut menyembelih kurban sebanyak 63 ekor unta. Dimana semua disembelih Rasulullah sendiri, dan sisanya 37 ekor disembelih Ali bin Abi Thalib. Setelah selesai Rasulullah melalukan cukur atau Tahallul.

Selanjutnya, Rasulullah SAW menuju Mekkah untuk Thawaf mengelilingi Ka’bah. Sehabis Sholat Dzuhur Beliau kembali ke Mina. Beliau melalukan Haji Qira, dimana 10 Dzulhijah tidak melakukan Sa’i, karena sudah Sa’i satu kali pada 4 Dzulhijah yang sudah mencangkup Sa’i Haji dan Umroh.

Sementara dalam sejarah Haji Wada itu, bagi Jamaah Haji yang menjalankan Haji Tamattu, maka melakukan Sa’i pada 10 Dzulhijah atau sesudahnya karena berumroh dahulu.

Pada Jaman jahiliyah ketika ada waktu kosong, orang membanggakan diri dan sukunya sendiri. Kebiasaan tersebut kemudian dihapus oleh Rasulullah. Mengganti setiap waktu senggang dengan Dzikir dan berdoa kepada Allah.

Pada 14 Dzulhijah, Rasulullah memerintahkan Aisya RA, untuk melakukan Umroh karena berhalangan. “Inilah pengganti Umroh mu yang gagal,” sabda Nabi. Maka Aisyah melakukan Umroh ketika Ibadah Haji Wada dan Umroh Nabi Muhammad telah selesai, atau mengerjakan keduanya terpisah.

Aisyah RA melalukan Haji Ifarad karena berhalangan Haid. Sementara pengalaman Abdurrahman bin Abu Bakar, juga melakukan Umroh lagi dengan berihram di Tan’im. Inilah sejarah Haji Wada menjadi contoh tiga macam Haji, yang mana boleh kita lakukan ketika berangkat Haji dan Umroh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *