Bolehkan Thawaf Tanpa Ihram Kumpulan Pertanyaan Haji

kumpulan pertanyaan thawaf

Thawaf adalah Ibadah utama ketika beribadah Haji atau Umroh. Sifatnya bahkan disandingkan dengan Sholat. Untuk penduduk Mekkah mengelilingi Ka’bah adalah keberuntungan. Berbeda dengan Jamaah Muslim kita yang posisinya diluar Mekkah.

Bolehkan Thawaf tanpa Ihram diluar Haji atau Umroh?

Sifat Thawaf merupakan bentuk pemujaan setara Shalat. Muslim kalau bisa melakukan sebanyak mungkin. Jika tidak diluar Mekkah, atau buat mereka yang melalukan Ibadah Haji atau Umroh. Muslim yang diluar keduanya maka tidak harus melakukan Ihram.

Jika Muslim mau melakukan Thawaf diluar Ibadah, maka diperbolehkan tidak melakukan Ihram karena posisi sudah menetap.

Diperbolehkan mengeliling Thawaf di Masjidil Haram dulu. Kemudian dilanjut melakukan Sholat dua rakaat ketika berada di Ka’bah. Kapanpun boleh dilakukan tanpa melakukan Ihram. Diperbolehkan disambung Sholat apapun setelah melakukan Thawaf.

Hadist tentang Thawaf tanpa Ihram

“Jangan halangi siapapun mengelilingi Al Bayt (nama lain Ka’bah) dan berdoa disana kapanpun dia inginkan, ketika siang ketika malam,” Imam Ahmad

Hadist tentang Thawaf tanpa Ihram tersebut, sudah diyakini Sahih karena juga didukung oleh empat Imam lain, yakni Imam Abu Dawud, Al Tirmidhi, Al Nasa’y dan Ibnu Majah.

Apakah Bisa Thawaf Ifadah Tanpa Memakai Ihram?

Perlu dijelaskan Thawaf Ifadah merupakan satu rukun Haji. Sifatnya wajib tidak bisa sengaja ditinggalkan. Rangkaian Ibadah ini juga disebut Thawaf Rukn. Prosesinya juga sudah diatur oleh Rukun dan Syarat Haji. Bukan Sunah yang bisa ditinggalkan karena akan menghalangi Sah Haji.

Ibadah yang dilakukan setelah Jumroh Aqobah, menyembelih, dan bercukur. Prosesinya dilakukan setelah rangkain panjang. Untuk posisi dikatakan boleh didahulukan, sebelum melepmar Jumroh atau bercukur Tahallul.

Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wa Sallam, menyampaikan tidak mengapa jika berbeda urutannya. Namun sendaknya mengikuti Sunah Nabi yaitu: Melempar Jumroh, menyembelih, bercukur, barulah anda melakukan Thawaf Ifadah.

Selepas melempar Jumroh Aqobah dan Tahallul. Maka inilah yang disebut Tahallul awal Ibadah Haji. Larang Ihram sudah bisa dilepaskan. Ketika itu boleh melepaskan kain Ihram dan memakai baju biasa. Boleh memakai wangi- wangian. Jamaah kemudian berangkat Masjidil Haram melakukan Thawaf Ifadah.

Jadi kesimpulannya diperbolehkan jika sudah Tahallul awal. Disini Jamaah Haji diperbolehkan memakai baju biasa. Semuanya diperbolehkan kecuali berhubungan suami- istri. Untuk Hadist sendiri ada sehingga anda tidak perlu khawatir.

“Jika kalian telah melempar jumrah ‘aqobah, maka telah halal segala sesuatu kecuali berhubungan intim dengan wanita.” (HR. Ibnu Majah no. 3041 dan An Nasai no. 3086. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ihram Memakai Celana Apakah Boleh?

Memakai pakaian berjahit adalah larangan dalam berihram. Namun menurut Kumpulan Fatwa Haji, bahwa ini dilarang namun tidak membatalkan. Artinya tidak apa- apa jika anda lupa tetap memakai celana. Tetapi jika sengaja maka anda harus membayar Kifarat karena itu.

Bentuknya bisa berupa Fidyah memberi makan orang miskin. Selain itu anda bisa menyembelih atau berpuasa sebagai Fidyah. Memberi makan orang miskin harus di dalam Mekkah. Sedangkan berpuasa bisa dilakukan dimana saja.

Tidaklah berdosa jika anda membayar Khifarat tertunda. Itu karena anda lengah dalam waktu lama. Jika anda melakukan Ihram dengan pakain berjahit. Dan anda masih dalam aturan Ihram ketika Thawaf. Maka anda diwajibkan membayar Dam atau denda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *