Orang Beriman Kepada Allah Yang Dibakar Hidup- Hidup

cerita ashabul ukhdud

Semakin orang beriman kepada Allah, maka akan semakin banyak godaan datang. Iman mereka akan diuji namun Surga adalah ganjarannya. Inilah kisah yang dicertikan oleh Rasulullah langsung. Kisah Ashabul Ukhud, atau yang dibakar hidup hidup karena beriman kepada Allah.

Alkisah hidup seorang Raja Kafir dari Umat sebelum Muslim. Dan mereka dekat dengan ilmu sihir, dan sang Raja juga memiliki satu tukang sihir hebat. Suatu ketika sang tukang sihir ini meminta persembahan seorang pemuda.

Dia ingin mewariskan ilmu sihirnya kepada pemuda itu. Raja Kafir tersebut lantas mengambil seorang anak. Diajarinya anak tersebut berbagai ilmu oleh tukang sihir. Anak tersebut kemudian tumbuh menjadi pemuda.

Pemuda tersebut tinggal di tempat berbeda dari tukang sihir. Sang pemuda masih mempelajari ilmu sihir sejak kecil. Namun diantara rumah tukang sihir dan pemuda tersebut, ada seorang Rahib. Dia seorang taat kepada agama Allah sebelum Islam lahir.

Letak rumah pemuda adalah diantara tiga kampung berbeda. Maka setiap kali pemuda tersebut hendak belajar sihir. Otomatis dia akan melewati kampung sang Rahib. Siapa sangka hanya melewati saja, perasaan ingin belajar akan ilmu agama hadir dalam hati

Memilih Belajar Ilmu Agama Atau Ilmu Sihir

Di antara kampung tukang sihir dan pemuda. Tinggal seorang Rahib yang menyembah Allah Ta’ala. Ia memilih mengasingkan diri karena terdesak. Semua karena masyarakat lebih memilih beriman kepada Raja dan penyihir. Dia mengasingkan diri agar terselamat Akidah dari kesesatan mereka.

Untuk menentukan pilihan balajar ilmu agama atau ilmu sihir. Sang pemuda kemudian melakukan pengujian. Dia ingin menguji manakan lebih baik,” pelajaran ilmu agama atau ilmu sihir?” Hal pertama ia lakukan adalah mengujinya kepada seekor binatang.

Ada binatang besar yang selalu menganggu jalan manusia. Dia besar dan menakutkan, begitu berbahaya yang menutupi jalan. Suatu hari binatang tersebut berdiri diantara rumah Rahib dan penyihir. Sang pemuda lantas berdoa kepada Allah.

“Ya Allah, jika engkau lebih mencintai apa yang dibawa oleh rahib daripada apa yang dibawa oleh tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini, supaya manusia bebas dari gangguannya.”

Apakah pemuda itu akan menjadi orang beriman kepada Allah. Atau dia akan semakin tersesat kepad ajaran penyihir. Sang pemuda lantas melemparkan sebuah batu ke binatang tersebut.

Seketika binatang besar tersebut mati tanpa perlawanan. Hingga pemuda itu yakin untuk menjadi orang beriman kepada Allah. Ia baru menyadari kecucian ajaran Allah milik sang Rahib. Ia pun datang menemui Rahib untuk mengutarakan niat.

Sang Rahib menyambut pemuda dengan tangan terbuka. Dia mengatakan saat ini Iman pemuda diatas dirinya. Kepercayaan tersebut pasti akan mendapatkan cobaan. Bagi mereka orang beriman kepada Allah harus siap.

“Sesungguhnya engkau akan mendapatkan cobaan. Maka, jika benar demikian, janganlah menyebut nama ku,” ujar sang Rahib.

Sang pemuda tumbuh menjadi ahli penyembuh penyakit. Ditangannya aneka penyakit pasti sembuh tidak berbekas. Dia mahir menyembuhkan orang buta, penyakit kulit, dan lain- lain. Suatu hari datanglah seorang pejabat, dia menderita penyakit buta dan meminta disembuhkan seketika.

Cobaan Karena Beriman Kepada Allah

Pejabat tersebut membawa banyak hadiah untuk pemuda. Syaratnya dia harus disembuhkan hingga bisa melihat lagi. Dengan percaya diri, pemuda tersebut mengutarakan kepercayaanya kepada Allah. Bahwa hanya Allah yang mampu menyembuhkan, bukan pribadi dia.

“Allah lah yang menyembuhkan. Apabila engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepada-Nya agar menyembuhkan dirimu”

Ketika pejabat tersebut percaya kepada Allah Ta’ala. Maka sembuhlah kebutaanya hingga bisa melihat lagi. Ia segera melaporkan hal tersebut kepada Raja. Kemudian dia ditanyai Raja, siapakah yang menyebuhkan dia? “Rabb ku,” tegas sang pejabat buta tersebut.

Sang Raja kemudian bertanya siapa Rabb mu selain aku. Pejabat itu menjawab, “Rabb ku dan Rabb mu adalah Allah SWT.” Selesai mendengar ucapan pejabat maka tergeraklah. Raja meminta ditunjukan dimana pemuda tersebut berada.

Raja Kafir mencari pemuda tersebut untuk bertanya. Bagaimana sihir pemuda tersebut bisa menyembuhkan semua penyakit. Ya, sang Raja mengira pemuda tersebut masih menjadi pemuja sihir. Raja terkagum karena kekuatan pemuda tersebut melebihi batas sang penyihir.

“Aku tidak bisa menyembuhkan seorang pun. Allah lah yang menyembuhkan,” jelas pemuda itu.

Meskipun tidak diberitahu siapa yang mempengaruhi. Raja Kafir menyadari keberadaan Rahib diantara mereka. Segara dia mencari sang Rahib tersebut, lantas menangkap dan memaksanya menyembah Raja bukan Allah SWT.

Tentu sang Rahib menolak dan beriman kepada Allah saja. Sang Raja menghukum mati Rahib dengan keji. Dibelahnya tubuh Rahib menjadi dua bagian. Begitu selesai dia memotong sang pejabat menjadi dua bagian. Maka tinggalah sang pemuda yang percaya dan beriman kepada Allah.

Sang Raja memerintahkan pasukan membawa pemuda tersebut. Jikalau dipuncah pemuda tersebut memilih beriman kepada Raja; maka lepaskanlah. Kalau tidak maka lemparlah pemuda tersebut dari atas gunung.

Sang pemuda berdoa kepada Allah meminta perlindungan. Berkat doa tersebut gunung berguncang keras. Hingga semua prajurit jatuh dari gunung kemudian mati. Setelah itu, sang pemuda kembali, dan berniat menemui Raja Kafir untuk berhadapan.

Sang Raja kaget dan bertanya bagaimana bisa. Pemuda menjawab bahwa dirinya sudah dicukupkan Allah. Tidak ada yang bisa menyakitinya selain atas kehendak Allah. Kemudian Raja memerintahkan pasukan lain menangkap pemuda tersebut.

Dibawanya dia ke tengah lautan untuk diuji kembali. Apakah dia akan menyembah Raja dan meninggalkan Agama Allah. Jawabannya sama pemuda tersebut berdoa dan tenggelamlah mereka. Pemuda tersebut lantas kembali mengutarakan hal sama kepada Raja.

Entah kenapa sang pemuda merasa cukup atas semua. Dia malah menunjukan cara membunuhnya kepada Raja. Dia tidak akan bisa membuhun pemuda tersebut. Hanya dengan caranya sendiri bisa mencabut nyamanya.

“Kumpulkan manusia dalam satu tempat yang luas, saliblah aku pada batang pohon, lalu ambillah anak panah dari tempat anak panahku, kemudian katakanlah ‘Dengan menyebut Nama Allah, Rabb anak ini’ dan panahlah aku dengannya.”

Nasib orang beriman kepada Allah Ashabul Ukhdud

Sang Raja melakukan seperti diajarkan pemuda tersebut. Sebuah kalimat diucapkan “dengan menyebut nama Allah, Rabb anak ini.” Anak panah melesat mengenai pelipis pemuda tersebut. Dengan kehendak Allah maka pemuda tersebut meninggal.

Begitu banyak rakyat melihat kejadian hukuman mati tersebut. Mereka menyadari satu hal bahwa sang Raja tidak bisa menang. Tidak akan mati pemuda tersebut tanpa Raja memepercayai Rabb nya. Serta merta masyarakat yang berkumpul disana mengutarakan Iman kepada Allah SWT.

Apa yang dikhawatirkan pengikut Raja terjadi. Ini hanyalah jebakan agar masyarakat melihat. Bahwa Raja tidak ada apa- apanya tanpa kehendak Allah. Murka, Raja Khafir memerintahkan pasukan menangkap mereka yang beriman, dijadikan satu untuk dibakar hidup- hidup.

Pristiwa ini tertuang dalam Al Quran, yakni:

“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Al Buruj:4-9)

Dibuatlah parit- parit yang siap dinyalakan api. Mereka yang beriman dibuang, dimasukan kedalam api membara. Sebelum melempar mereka yang beriman satu- satu. Raja sempat mengajak mereka kembali menyembah dirinya.

Namun tidak berguna mereka tetap beriman kepada Allah. Maka dilemparlah mereka satu per- satu ke dalam parit. Hingga ada seorang ibu dan anaknya menunggu giliran. Wanita tersebut diberikan pilihan kembali diakhir- akhir.

Apakah dia akan mati dalam Iman, atau memilih hidup tetapi menjadi kafir setelahnya. Melihat bara api membara diatas kayu- kayu. Dia merasakan keraguan atas imannya kepada Allah. Ibu itu berpikir apakah bayi sucinya harus mati saat itu.

Kemudian Allah SWT memberikan kemampuan kepada bayi tersebut untuk berbicara.

”Wahai ibuku! Bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran”.”
(HR Muslim No. 3005)

Mendengar ucapan sang bayi maka kembalilah Iman. Sang ibu percaya kembali bahwa Allah hadir bersama mereka. Bulatlah kepercayaannya untuk meninggal dalam Qusnul Khatimah. Kisah ini mengajarkan bahwa Iman akan selalu mendapatkan cobaan, tetapi yakinlah Allah bersama orang yang beriman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *