Kisah Sahabat Nabi Abu Hurairah Hidup Miskin Bahagia

cerita sahabat Abu Hurairah

Jaman sekarang orang takut hidup miskin. Namun kisah Sahabat Nabi Abu Hurairah, patut anda teladani karena miskin bisa baruntung. Ke Islaman Beliau mampu membawanya menjadi salah satu Sahabat. Tiada nikmat kecuali mendapatkan Surga Allah karena ketakwaan.

Namanya begitu familiar karena merupakan satu Sahabat berbakat. Abu Hurairah dikenal sebagai penghafal Hadists. Masya Allah, walaupun hidup sederhana bahkan pernah hidup miskin. Allah memberikan kekayaan berupa Ilmu pengetahuan.

Hafalan Beliau sangatlah bagus tentang Sunnah Rasul. Beliau menjadi rujukan utama untuk mengenal sifat Nabi. Beberapa Ulama besar dan pendakwah mengutip perkataan Beliau. Siapa nama lengkap Abu Hurairah adalah Abdurrahman bin Shakhr Ad- Dausi Al Yamami, dari Bani Daus.

Beliau berumur 21 tahun sebelum Hijrah kelahiran 598M di Yaman. Satu hal menjadi ciri khas Sahabat ini adalah julukannya Abu Hurairah (Bapak Kucing Kecil). Memang dikenal sebagai pecinta binatang terutama kucing. Beliau memiliki seekor kucing lucu yang diajak bermain Siang dan Malam.

Sahabat Nabi Abu Hurairah Hidup Miskin

Kucing kecil Abu Hurairah selau bermain riang di rumah. Pada Siang hari Beliau tidak enggan mengajak bermain. Ketika Sore tiba kucing kecilnya bermain sambil mengembala. Pokoknya kucing merupakan keluarga terdekat Beliau, dimanapun selalu membuat tersenyum senang.

Siang hari ikut mengembala kambing keluarga atau saudara Beliau. Malam harinya kucing kecil ditempatkan di atas pohon.

Beliau dikenal sebagai sosok penghafal Hadists. Daya ingat Abu Hurairah sangat menakjubkan kita. Bahkan julukan penghafal Hadists terbesar disandangnya. Beliau mampu menghafal 5.374 buah Hadist. Daya ingat Sahabat Abu Hurairah memang sangat bagus, bahkan jenius.

Masa kecil Beliau sudah hidup dalam kemiskinan. Memang bukan kelompok golongan awal Sahabat Rasulullah. Abu Hurairah baru masuk Islam pada masa tahun ke 7H. Namun terhitung sejak masuk Islam, Beliau tidak pernah jauh dari Rasulullah, empat tahun dekat dengan manusia paling sempurna.

Lihat walaupun pernah hidup miskin tetapi pintar. Beliau memberi contoh bahwa nasib bisa berubah. Kerja keras beliau menghafal Hadist memberikan kekayaan. Abu Hurairah merupakan salah satu rujukan utama penceramah.

Setelah dewasa Beliau hidup sederhana mengembala ternak. Abu Hurairah banyak meriwayatkan Hadist Rasulullah. Para Sahabat lain bahkan keheranan akan kepintaran Beliau. Sayangnya, tidak sedikit mencurigai Beliau, justru ketika keraguan tersebut muncul Beliau membuktikan satu hal.

Beliau berkata bahwa Sahabat Muhajirin banyak bekerja. Mereka fokus berniaga tidak banyak menyampaikan Hadist. Karena hidup sederhana Abu Hurairah memiliki lebih banyak waktu. Maka Beliau abdikan itu untuk menghafal dibanding mereka Sahabat yang lebih dahulu masuk Islam.

Sementara itu, Sahabat Anshor sibuk pada kegiatan mengelola tanah, mereka adalah para petani ulet dan pekerja keras dibidangnya. Abu Hurairah terlalu miskin untuk mengerjakan sesuatu khusus. Maka Beliau memilih mendekat kepada Rasulullah, banyak belajar dari Rasul hingga wafat.

Beliau selalu hadir pada Majelis Nabi Muhammad, sementara Sahabat lain terkadang tidak hadir karena sibuk bekerja. Apakah sibuk mengurusi dunia merupakan kesalahan. Bukan. Abu Hurairah hanya menyampaikan bahwa orang miskin lebih memiliki banyak waktu beribadah.

Mangkanya orang miskin lebih mudah dihisab karena waktu luang. Tentu Abu Hurairah mengisi waktu dengan selalu hadir di Majelis. Beliau merasa bertanggung jawab karena kepintarannya. Waktu luang tersebut digunakan untuk menutupi para Sahabat lain.

Abu Hurairah hanya membantu Sahabat lain menyampaikan kebaikan. Hingga, suatu ketika, ada Sahabat Marwan bin Hakam ingin menguji hafalan Abu Hurairah tentang Hadist. Beliau diminta meriwayatkan beberapa Hadist. Sembunyi- bunyi Marwan bin Hakam memerintahkan orang mencatata itu.

Kemudian diwaktu sangat panjang, Beliau bertanya tentang Hadist sama ke Abu Hurairah. Jawaban Beliau lantas dicocokan dengan tulisan tersebut. Hasilnya tidak ada satupun huruf melenceng dari tulisan. Abu Hurairah mampu menyampaikan dengan sempurna tanpa perbedaan sehuruf pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *