Siapa Uwais Al Qarni Anak Sholeh Penghuni Langit

siapa uwais al qarniDiceritakan siapa Uwais Al Qarni, nama seseorang yang tidak dikenal di bumi, tetapi namanya dikenal oleh penduduk langit. Kenapa dia begitu terkenal diantara penduduk langit. Apakah kisah dibalik siapa Uwais Al Qarni, hingga namanya pantas menghuni surga tanpa meragukan.

Terlahir sebagai anak laki- laki biasa dari keluarga miskin. Uwais berperawakan kurus, dan memiliki penyakit kulit sopak. Tubuh kurus itu belang- belang hingga jadi bahan ejekan. Serba kekurangan Uwais sosok yang rajin beribadah, Sholeh, dan mencintai ibunya.

Seorang anak yang sangat berbakti kepada orang tua. Terutama kepada ibu yang melahirkan dia di dunia ini. Ibunya seorang wanita tua yang lumpuh. Permintaan sang ibu selalui dipenuhi Uwais sekuat tenaga. Namun satu hal sulit diwujudkan Uwais karena kendala uang.

“Anakku, mungkin ibu tidak akan lama lagi akan bersama dirimu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan Ibadah Haji,” ujar ibu Uwais.

Kesholehan Umais Al Qarni Diuji

Dia termenung akan permintaan sang ibu. Mengingat perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh. Butuh biaya dan tenaga tidak sedikit menjalankan Ibadah Haji. Sang ibu harus melewati gurun pasir tandus, dan tidak mungkin sendirian maka Uwais harus ikut serta.

Lantas bagaimana caranya dia membawa ibunya ke Mekkah. Mereka hidup dalam kemiskinan tidak punya apa- apa. Tidak mungkin memiliki kendaraan bahwa sekedar menyewa. Lantas bagaimana anak Sholeh ini memenuhi permintaan Ibadah Haji, sang ibu.

Kemudian Uwais membeli seekor kambing sendiri. Anak kambing kurus yang akan diurusnya sendiri. Dibuatkan sebuah kandang sederhana dari kayu. Apakah satu kambing bisa membiyai keduanya berangkat Haji.

Uwais membuat satu kandang di puncak bukit. Setiap pagi dia naik- turun menggendong anak kambing. Orang- orang yang melihatnya kemudian mengolok.

“Uwais gila, Uwais gila,” mereka melihat prilaku Uwais yang ganjil.

Berjalan waktu anak kambing semakin besar. Ukurannya semakin besar digendongan Uwais. Sehingga dia membutuhkan lebih besar tenaga. Karena menggendong setiap hari tubuh Uwais berubah. Otot- otot mulai muncul membuat tubuh kurusnya berubah.

Tubuh kurus Uwais sekarang berotot karena menggendong. Itu semua karena dia terus belatih menggendong. Tidak terasa lagi berat ketika Uwais menggendong kambing itu. Delapan bulan berlalu, hingga musim Haji tiba, dan berat kambing Uwais 100 kilogram.

Lantas apakah kambing tersebut akan dijual. Yang pasti Uwais sekarang menjadi sangat kuat. Dia kuat untuk menggendong ibunya di pundak. Uwais kemudian menggendong sang ibu dari Yaman ke Mekkah. Begitulah caranya menunaikan keinginan sang ibu sebagai anak Sholeh.

Siapa Uwais Al Qarni Penghuni langit

“Belum dikatakan berbuat baik kepada Islam, orang yang belum berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya,” Syaikhul Jihad Abdullah Azzam.

Dia berjalan tegap menggendong sang ibu di pundak. Ibu Uwais terharu dan menangis ketika melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah lantas Uwais berdoa untuk ibunya.

“Ya Allah ampunilah semua dosa ibu.”

“Bagaimana dosa mu Uwais?”

“Dengan terampuni dosa ibu, maka Beliau akan masuk Surga. Cukuplah Ridha dari ibu yang membawaku ke Surga.”

Allah mendengar doa Uwais Al Qarni tersebut. Sebagai balasan dia disembuhkan dari penyakit. Semua bercak putih tersebut hilang. Yang tertinggal hanyalah satu bulatan putih di tengkuk. Selesai berhaji keduanya kembali ke Kota Yaman.

Uwais kemudian mencari Rasulullah ingin bertemu. Dia pergi ke Madinah mencari rumah Rasulullah. Sesampai di sana, dia mengetuk pintu seraya mengucapkan salam. Dia tidak bertemu dengan Rasulullah saat itu.

Rasulullah tengah berada di medan pertempuran. Uwais hanya bertemu istri Rasulullah, Siti Aisyah RA. Dia merasa kecewa karena tidak bertemu. Ia ingin menunggu Rasulullah hingga pulang. Namun dia teringat pesan ibunya untuk lekas pulang ke Yaman.

Karena Uwais adalah anak Sholeh maka kembalilah dia. Ibunya sudah tua dan sering sakit- sakitan. Dia langsung pulang tanpa menunda- nunda. Dia sangat taat kepada ibu yang melahirkan. Melawan perasaan sendiri untuk menunggu dan berjumpa Rasulullah.

Nabi Muhammad Mengenal Uwais Al Qarni

Sepulang dari peperangan Nabi Muhammad bertanya. Beliau bertanya tentang seseorang kepada Aisyah RA. Nabi Muhammad bertanya tentang tamu ketika sampai di Madinah. Siti Aisyah RA tertegun mendengar Beliau mengenal sosok Uwais.

Aisyah RA membenarkan bahwa ada seseorang yang mencari Beliau. Dia kemudian pulang karena ibunya sakit- sakitan dan perlu dijaga.

“Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Rasulullah lalu memandang Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab, dan berkata:

“Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Mereka tertegun mendengar bahwa dia adalah penghuni langit. Rasulullah lantas menjelaskan tentang kelebihan Uwais. Tentang sifat Sholeh kepada orang tua yang wajib dicontoh manusia. Waktu berganti, Rasulullah telah Wafat, Khafilah Abu Bakar RA juga sudah digantikan Umar bin Khattab RA.

Suatu hari Beliau mengingat perkataan Rasulullah tentang Uwais. Ketika ada Kafilah asal Yaman datang ke Madinah, Beliau dan Ali bin Abi Thalib RA kemudian bertanya tentang keberadaan Uwais.

Rombongan Kafilah dari Yaman silih berganti. Hingga saatny, Uwais Al Qarni ikut dalam rombongan, dan kembali Khalifah Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib bertanya. Dimanakah sosok Uwais Al Qarni, ternyata dia sedang menjaga unta- unta di perbatasan Kota.

Beliau berdua segera berangkat bersama menuju perbatasan. Saat itu dia sedang melalukan Sholat, setelah mengakhiri Shalat dan salam. Kalifah Umar mengucapkan salam kepadanya langsung. Dia menjawab dan mendekati kedua Sahabat Rasulullah tersebut.

Begitu akan bersalaman Khalifah Umar langsung melihat tangan. Beliau ingin membuktikan ucapan Rasulullah dan ternyata benar. Ada tanda putih di telapak tangan, dan wajab Uwais bercahaya seperti Rasulullah pernah sampaikan.

Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib kemudian bertanya nama. “Abdullah,” tuturnya. Khalifah dan Ali bin Abi Thalib menjawab, “kami juga Abdullah, hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Laki- laki itu lantas menjawab,”nama saya Uwais Al Qarni.”

Melalui perbincangan mereka terbuka fakta. Bahwa ibu Uwais sudah meninggal, sehingga dia bisa pergi ke Mekkah sekarang. Jadi hampir seumur hidup Uwais menjaga ibunya tanpa henti. Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib lantas meminta doa dan Istighfar seperti diucapkan Rasulullah.

Ia sadar diri seharusnya Uwais yang harus meminta doa. Mengingat di depannya adalah Sahabat dan Sepupu Nabi Muhammad. Harusnya dia bukan Beliau berdua yang meminta doa. Kemudian keduanya menceritakan tentang ucapan Rasulullah jauh hari sebelum Wafat.

Akhirnya Uwais Al Qarni setuju memanjatkan doa dan Istighfar. Ketika Khalifah akan memberikan sumbangan Baitul Mal. Yang mana akan diberikan ke Uwais agar terjamin hidupnya. Uwais menolak pemberian tersebut, dan dia meminta untuk dirahasiakan tentang dirinya kepada orang.

“Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *