Sejarah Thawaf 7 Kali Putaran Hikmah Ibadah Haji

apa hikmah thawaf 7 kali

Jika anda mencari jawaban dari sejarah Thawaf 7 kali. Maka tidak lepas dari sejarah Haji sendiri. Namun sebelum kita membahas panjang mengenai sejarah Haji. Kami akan membahas mengenai hikmah dibalik Ibadah Thawaf.

Apa hikmah dibalik rangkaian Ibadah yang anda lakukan ini. Sedikit mengenai sejarah Thawaf 7 kali, itu sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, ketika beliau melakukan Haji pertama dan terakhirnya. Beliau telah mencontohkan dari tahapan awal sampai akhir.

Untuk angka 7 sendiri, beberapa Ulama mensimbolkan itu sebagai tujuh langit dan bumi. Arti lainnya Thawaf 7 kali adalah 7 sifat Allah sendiri. Sifat- sifat Allah yakni Hayat, Ilmu, Iradat, Qudrat Sama’, Basher dan Kalam. Berputar sendiri menunjukan kehidupan yang bergerak.

Kedinamisan tetapi tetap merujuk pada satu yakni Allah Ta’ala. Hidup bermula dari lahir, tumbuh, berkembang, dan kematian. Itulah pegerakan layaknya orang mengelilingi Ka’bah. Dijelaskan bahwa apabila masih ada orang berthawaf.

Insha Allah. Maka kiamat tidak akan terjadi kepada Bumi ini.

Thawaf Mengeliling Ka’bah di Mekkah

Rasulullah datang untuk mensucikan kembali Ka’bah. Dari kaum Quraish yang menaruh berhala- berhala disana. Ibadah Haji adalah perintah langsung Allah. Melalui Surah Al Quran langsung, QS. Al Hajj Ayat ke 29, yang berarti:

“Hendaknya mereka Thawaf di sekeliling Bait al Atiq (Ka’Bah),” QS Al Hajj:29

Dilakukan tujuh putaran bermula dan berakhir pada Hajar Aswad. Tujuh kali putaran juga bisa bermakna sesuai edaran Bumi selama seminggu. Disini merupakan tempat bertemunya kita, Umat Muslim dengan Allah pada titik terdekat, dan tanpa halangan apapun doa kita dihaturkan.

Berputar tujuh kali tanpa mengenakan perhiasan. Berdoa dengan Khusyuk apapun Jabatan dan berapapun banyak uang kita. Titik penyerahan diri seorang Hamba kepada Dzat sempurna. Kita meninggalkan kehidupan kita cuma ada nama Allah.

Hanya ada dalam Dzikir dan Doa ketika berkeliling Ka’bah. Disini merupakan tempat kita berkumpul. Seperti bunyi Al Quran Surah Ali Imron Ayat 191, bahwasanya kita berdiri, duduk, dan berbaring berdoa kepada Allah.

Apa yang terjadi di dunia ini merupakan Sunnatullah. Yang artinya tidak ada keadaan selain karena Allah. Setiap hal menunjukan keberadaan Allah Azza Wa Jalla. Anda perlu tau bahwa aliran darah berjalan berlawanan arah.

Begitupula atom berjalan berlawanan arah jarum jam, layaknya Thawaf. Mengecup Hajar Aswad merupakan Sunnah Nabi. Melambakan kecintaan akan Allah, dan bahwa kita bahagia akan Ibadah kita tanpa beban disana.

Tubuh terdiri dari atom yang memiliki intinya. Putaran atom seperti minatur Ka’bah ketika Jamaah berthawaf. Bulan juga berthawaf kepada Bumi sebanyak tujuh kali. Galaksi juga memiliki intinya yakni Matahari sebagai Ka’bah.

Kemudian Allah menyediakan Ka’bah sebagai pusat manusia. Semua hal di dunia seolah melakukan Thawaf dan arahnya sama, yakni ke kiri yang menunjukan keberadaan Allah sendiri. Bukti bahwa Ibadah Thawaf langsung bersumber dari Allah sendiri.

Ketika kita berputar maka kecil lah manusia. Karena jaga raya juga melakukan hal yang sama. Mereka berdizikir dalam putaran yang sama. Lantas apa yang bisa disombongkan manusia. Selepas Haji jadilah manusia baru yang lebih baik.

Sholat kita menghadap ke Ka’bah dan terputar dengan Thawaf. Anda perlu tau melakukan Thawaf tidak cuma ketika Haji. Bahkan kita disunnahkan Thawaf kapanpun, bahkan tanpa harus Umroh dulu, Sunnah bagi penduduk Mekkah untuk berthawaf di Masjidil Haram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *