Perjalanan Antara Safa dan Marwah Ibadah Sa’i

perjalanan sai

Sebagai bagian dari kegiatan ibadah Haji Umroh. Sa’i adalah rukun yang tidak boleh ditinggalkan. Disini Jamaah melakukan perjalanan dari bukit Shafa dan Marwah. Kewajiban mengerjakan ibadah tersebut tercatat di Surah Al- Baqarah ayat 158.

Hadist Nabi Muhammad SAW sendiri mengatakan

“Laksanakanlah Sa’i karena Allah telah mewajibkan Sa’i atas kalian,” HR. Daruquthni

Letak bukit Safa sendiri berada di dekat Ka’bah. Wajib dilakukan baik ketika Haji dan Umroh. Berapa jarak antara Shafa dan Marwah adalah 400 m. Sementara jarak antara Ka’bah ke kedua bukit tersebut 394,5m.

Melakukan ibadah ini berdasarkan kisah Ibu Nabi Ismail AS, yaitu Siti Hajar yang mencari air diantara kedua bukit tersebut. Masa itu Nabi Ismail masih bayi dan kehausan. Siti Hajar kehausan, tempat tersebut begitu tandus, dan tidak ada satupun orang bisa dimintai tolong.

Inilah kenapa Siti Hajar bolak- balik antara kedua bukit. Dia mencoba mencari- cari sumber air. Dari Safa menuju Marwah, dan sebaliknya Beliau melakukan sampai tujuh kali. Total semua jarak kegiatan tersebut berjarak 2761,5 m.

Bagaimana Cara Melaksanakan Sa’i

Keadaan kedua bukit tersebut tentu sudah berbeda. Jika datang pertama kali Haji Umroh, anda akan melihat berbeda karena tidak terlihat kembali bukit. Berjalan ke Shafa akan terlihat sedikit menanjak. Akan nampak hanya batu- batu kasar tetapi tidak terlihat seperti bukit.

Perjalanan dimulai dari bukit Shafa diakhiri ke Marwah. Jamaah melakukan tujuh kali putaran. Bagaimana menghitung putarannya. Hitungan satu kali dari Shafa ke Marwah. Dari Shafa ke Marwah dihitung satu putaran. Ibadah tersebut dilakukan setelah melakukan Thawaf, baik Qudum dan Ifadah.

Tinggi bukit Safa ataupun Marwah setinggi kurang lebih setubuh manusia. Banyaklah berdoa dan berdizikir sambil Sa’i di sana. Berjalan tenang sepanjang putaran. Berlarilah agak cepat di antara dua tanda hijau terlihat. Jamaah di setiap putaran dilakukan muwalah atau tidak terputus.

Sambil melakukan ibadah, perhatikan Ihram untuk Jamaah pria. Anda harus melakukan Idhthiba atau menjadikan kain ihram dibawah ketiak. Jaga kebersihan diri, harus terbebas hadas dan najis, jika anda berlari perhatikan Ihram anda agar tidak terlihat aurat.

Sa’i sendiri mengajarkan bagaimana berikhlas. Bagaimana Siti Hajar rela naik- turun mencari air. Semua demi mempertahankan hidup Nabi Ismail. Kita diajarkan bahwa lakukan sesuatu sepenuhnya. Ibadah harus ikhlas dan berjuang seperti Siti Hajar mencari air.

Ketika Nabi Ismail menghentak kakinya, munculah air zam- zam sehingga terbebas dari kehausan. Dari tempat gersang menjadi tempat yang subur karena air zam- zam. Inilah yang didapatkan kita ketika melakukan rangkaian ibadah. Kita akan mendapatkan keberuntungan dari keikhlasan menjalankan ibadah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *