Sejarah Masjid Al Baiat dan Perjanjian Aqabah

masjid al baiat aqabah

Apa dibalik sejarah Masjid Al Baiat dan perjanjian Aqabah. Cerita dibalik keajaiban Masjid berikut hingga terkenal. Kenapa bangunannya tetap terjaga meski terpendam di dalam tanah. Atau bagaimana kendaraann berat tidak mampu menghancurkan bangunannya.

Terpendam ratusan tahun ternyata ada fakta dibalik Al Baiat. Menurut sejarah Masjid Al Baiat dibangun pada 144H. Pada zaman dinasti Abbasiah, untuk memuliakan Abbas bin Abdul Muthalib, dibangun atas sejarah baiat Aqabah.

Disinilah masyarakat Yastrib atau Madinah bersumpah. Mereka bersumpah setia kapada Rasulullah sebagai pemimpin. Masyarakat Madinah berjanji akan taat dan tidak berlaku sirik. Sumpah setia ini dalam bahasa Arab berarti Baiat.

Kala itu Rasulullah ditemani pamannya Abbas bin Abdul Muthalib. Meskipun Beliau Abbas bin Abdul Muthalib belum beriman, pada waktu perjanjian tersebut menjadi penjaga. Beliau menjaga Rasulullah dari segala bahaya walaupun bukan Muslim.

Baiat Rasulullah Kepada Penduduk Madinah

Baiat di Aqabah terjadi dua kali dalam sejarah. Apa itu baiat adalah mengutarakan sumpah kesetiaan kepada Rasulullah. Dalam hal ini dilakukan dua kali oleh masyarakat Yastrib. Pertama terjadi pada 621M, antara Rasulullah dan 12 orang Yastrib yang kemudian mengucapakan dua kalimat Syahadat.

Terjadi pada tahun kedua setelah pengangkatan ke Nabian Rasul. Mereka bersumpah setia kepada Nabi Muhammad. Isi baiat penduduk Madinah tersebut: Pertama, berjanji bahwa warga Yastrib -yang kemudian dirubah menjadi Madinah- untuk tidak mensekutukan Allah dengan apapun.

Kedua, mereka akan bertaqwa kepada Agama Islam, melaksanakan perintah Allah, dan Ketiga, bahwasanya mereka akan meninggalkan segala larangannya.

Tahun 622M terjadi baiat kedua oleh Rasulullah di Aqabah. Oleh Rasulullah kepada 73 orang pria dan 2 orang wanita Yastrib. Kedua wanita tersebut adalah Nusaibah bintu Ka’ab dan Asma bin Adiy. Sumpah itu terjadi pada tahun ke tiga belas sejak pengangkatan Nabi Muhammad sebagai Rasul.

Mereka dibawa oleh Musha’ab bin Umair dan beberapa orang. Mereka adalah orang yang telah dibaiat dan masuk Islam pada perjanjian pertama. Pada malam hari menjumpai Rasulullah di Aqabah. Sang paman Abbas bin Abdul Muthalib kembali hadir, dia menjaga keponakan Beliau agar aman.

Selepas berbaiat maka mereka menjalankan perintah Allah. Mereka meninggalkan apa dilarang meskipun disukai. Penduduk Yastrib ini juga menjalankan Infaq kapapanpun. Disaat lapang maupun sempit mereka berinfaq dan beramal Sholeh.

Mereka tidak terpengaruh oleh caci- maki pembenci Islam. Para pria akan menjaga Rasulullah sama seperti menjaga perempuan dan anak mereka. Para pria Yastrib ini berjanji akan menjaga Rasulullah dari serangan pembenci Islam.

Sejarah Masjid Al Baiat yang Terlupakan

Maka tempat perjanjian inilah menjadi Masji Al Baiat. Meskipun merupakan sejarah penting Agama Islam. Tidak banyak Jamaah Haji atau Umroh mengingat. Ketika Jamaah Haji melempar Jumroh Aqobah, mereka bahkan tidak mengingat nama tempat ini.

Masjid berukuran 400 meter persegi yang unik. Dari tampak luar saja sudah mengundang perhatian. Ukuran panjang bangunan 17 meter, lebar 29 meter, dan tinggi 7 meter. Ditemukan ketika pembangunan Jamarat pada tahun 2005, dan diketahui kalangan terbatas.

Kenapa begitu karena takut menjadi tempat Syirik. Masjid terpencil yang gaya arsitektur tidak nampak seperti biasanya. Masjid kuno berwarna banguna krem asli bukan cat, dikelilingi oleh tralis besi dan kuat menjaga dari luar.

Mangkanya sangat sedikit Jamaah mampu Sholat disana. Benar- benar tidak terurus tanpa jendela dan pintu. Dari luar anda akan dapat melihat apa isi didalamnya. Menurut cerita ketika hendak membangun Jamarat pada 2005 silam.

Alat berat menyentuh sebuah batu mengganjal kerja. Inilah Masjid Al Baiat yang tidak dapat dirusak oleh teknologi apapun. Aneh bangunan batu ini tidak dapat dihancurkan buldozer. Sadar bahwa mereka menemukan bukan batu biasa, mereka memilih mencari ahli.

Maka dipanggilah tenaga ahli yang ternyata menemukan sebuah Masjid disini. Digalilah hingga terlihat bentuk aslinya dari keseluruhan. Selesai digali tempat ini dibiarkan begitu saja tanpa perawatan. Cerita tentang ini lantas menyebar melalui viral sosial media.

Masjid Al Baiat ini tidak difungsikan layaknya Masjid biasa. Tetapi jika dikunjungi maka akan tampak terpelihara. Ada sajadah di tempat Imam, tempat menaruh microphone, dan disudut ada rak menaruh Al Quran.

Masjid ini juga tidak memiliki atap atau layaknya pelataran. Padahal bisa saja Masjid ini dihancurkan karena tidak fungsional. Apalagi untuk menghindari pengkultusan terhadap Masjid Al Baiat. Masalahnya apakah pemerintah Saudi tidak mampu menghancurkan Masjid ini.

Wallahu A’lam Bishawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *