Kisah Raja Yahudi dan Pemasang Kiswah Pertama Ka’bah

penguasa yaman yahudi

Mungkin anda pernah mendengar kisah Raja Yahudi dan penyihir. Kisah ini bahkan tertulis dalam Wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Jauh sebelum lahirnya Raja Yahudi tersebut berada. Mekkah memang terbukan bagi siapapun, bahkan Kaum Quraish membebaskan siapapun.

Banyak orang- orang dari Khabilah lain datang. Tidak sedikit Kaum lain dari luar Mekkah berkunjung. Seperti yang pernah diceritakan semula disini. Mereka mengadakan peribadahan sesat dari apa diajarkan Nabi Ibrahim Alaihi Sallam.

Mereka menyembah berhala, melakukan pesta pora, dan bernyanyi- nyanyi. Antar Kaum dan Khabilah saling menunjukan siapa paling berkuasa. Sementara Kaum Quraish mendapatkan keuntungan dari kedatangan mereka ke Mekkah.

Tidak sedikit pula penganut Agama Yahudi datang. Mereka melalukan Thawaf layaknya Nabi Ibrahim lakukan. Namun tentu dengan Tauhid yang telah melenceng. Dalam catatan sejarah, ada seorang Raja Yahudi pertama, yang juga tercatat orang pertama memakaikan Kiswah.

Mencoba Menaklukan Madinah

Menurut sejarah dia dikenal sebagai orang pertama memakaikan Kiswah. Orang pertama pula Raja Arab yang menganut Agama Yahudi. Namanya Abu Karib Tubaan As’ad, Raja Tubba, Kerajaan asal Kota Yaman. Jadi bagaimana dia bisa menguasai tanah Arab terutama Mekkah.

Awalnya dia ingin meratakan Madinah dan membunuh penduduknya. Sempat juga terpikirkan menodai Kota Mekkah. Dia berhenti ketika bertemu dua Rahib Yahudi. Hanya dendam Tubaan masih besar kepada Madinah karena satu hal.

Dikala itu putranya dibunuh ketika diutus ke Madinah. Tentu tuduhan tersebut tidak tepat dan meragukan. Sejak awal sudah ada niat dibalik pengiriman sang putra. Sejak awal ayah Tubaan memang tidak memiliki niat tidak baik.

Serta- merta dia datang bersama rombongan pasukan. Dari Madinah Kaum Anshor dipimpin Amru bin Thallah melawan. Khabilah- khabilah dari Anshor bertempur salama dua hari. Uniknya mereka bertempur siang hari dan malam harinya Tabaah dijamu.

Tentu sang Raja Yaman kaget karena Akhlak Kaum Anshor. “Sungguh kaum yang kami perangi ini memang sangat mulia.” Diantara waktu pertempuran munculah dua Rahib Yahudi. Mereka meminta Tabaan berhenti berperang saja.

“ika Anda tidak menghiraukan anjuran kami ini, baginda raja pasti terhalang menaklukkannya, dan kami tidak menjamin Anda terlepas dari adzab,” ujar keduanya.

Tubaan lantas bertanya kenapa demikian terjadi. Lantas kedua Rahib itu bercerita tentang akan datangnya seorang Rasul. Akan ada Nabi yang akan berhijrah ke Madinah dari Kaum Quraish. Mereka bahkan menceritakan bahwa Nabi tersebut adalah Nabi akhir jaman.

Di Madinah maka Nabi tersebut akan berdomisili. Akan berdiri pemerintahan ditempa Tubaan perangi. Mendengar itu ditambah keilmuan kedua Rahib tersebut. Dia mengurungkan niatnya berperang dengan Kota Madinah.

Di perjalanan dia mengarahkan pasukannya ke Mekkah. Dia bahkan mengajak kedua Rahib tersebut bersama. Diantara wilayah Usfaan dan Amaj, datang orang Suku Hudzail, mereka menawarkan sesuatu kepada Raja Tubaan untuk tidak ditolak.

Mereka menawarkan harta kekayaan tersembunyi. Mereka menujuk sebuah rumah dimana orang berkumpul. Mereka menyembah- nyembah rumah tersebut. Sebenarnya tujuan Suku ini hanyalah kebinasaan Raja Tubaan.

Menguasai Mekkah dan masuk yahudi

Suku Hudzail tau bahwa siapapun merusak Baitullah binasa. Tempat itu sama sekali tidak boleh dirusak siapapun. Niat Tubaan merebut apa di dalam Ka’bah terhenti. Dia ingat tentang kedua Rahib Yahudi dan bertanya tentang tempat tersebut.

Mereka mengutarakan niat buru Suku Hudzail. Kedua Rahib juga bercerita bahwa tempat itu suci. Siapapun mencoba meruntuhkan akan terkena hukum Allah. Ka’bah merupakan rumah Allah terlindungi dari siapapun.

“Anda akan binasa bersama pasukan anda,” tutur mereka. “Lalu apa yang harus kulakukan ketika tiba disana?” tanya Tubaan, yang sama sekali tidak tau tentang Baitullah.

Sang Rahib meminta Raja Tabaan melalukan Thawaf. Ikuti apa yang dilakukan orang- orang disekitar Ka’bah. Agungkan Ka’bah seperti halnya Nabi Ibrahim. Dia harus bercukur layaknya dilakukan Beliau ketika di sana. Raja juga diminta merendahkan diri dihadapan Ka’bah sampai keluar Mekkah.

“Apa alasan kalian berdua melarangku?” selidik Tubaan.

“Demi Allah, rumah suci itu adalah rumah yang dibangun oleh bapak kami, Ibrahim ‘alaihissalam Dan juga karena berita yang sudah kami kabarkan kepada Anda tadi. Tetapi penduduknya telah menodai kehormatannya dengan memajang berhala- berhala di sekitarnya dan dengan hewan-hewan yang mereka sembelih di sisinya, mereka itu najis, pelaku syirik!”

Tubaan mendengar perkataan mereka yang tulus. Lantas dipanggilah mereka dari Suku Hudzail untuk dihukum. Dia memotong tangan dan kaki mereka sebagai hukuman. Dia melalukan apa diperintahkan tanpa menambahi, seperti layaknya orang lain.

Dia berdiam dan beribadah selama 6 hari di Mekkah. Raja Tubaan menyembelih setiap hari, dagingnya dibagi- bagikan kepada orang sekitar Ka’bah. Kemudian datanglah mimpi aneh kepada Sang Raja Yahudi tersebut. Dia diperintahkan menutupi Ka’bah dengan kain tebal Kiswah pertama.

Kemudian hari bermimpi kembali menutupi K’abah lagi. Kali ini harus dengan kain lebih baik dibanding sebelumnya. Dia menyelimuti dengan kain khusus Al Mulaa dan Al Washaail. Inilah Raja beragama Yahudi pertama yang menutupi Ka’bah dengan Kiswah.

Sebagai warisan dia meminta Suku Jurhum menjaga. Mengganti kain dan dibersihkan setiap kurun waktu. Diprintahkan juga untuk tidak menyembelih binatang. Tidak boleh mengorbankan darah binatang atau haid agar selalu suci. Raja Tubaan juga membuatkan pintu dan memberikan kunci kepada mereka.

Tersebarnya Agama Yahudi Hingga ke Negeri Yaman

Raja Tubaan kemudian kembali ke Negara Yaman dari Mekkah. Dia mengajak kedua Rahib tersebut bersama. Ia mengajak orang menjadi pemeluk Agama Yahudi. Namun mereka menolak bahkan meminta Tubaan bertobat melalui bara api.

Jaman itu orang Yaman menyembah api dan bertuhan berhala. Mereka menyelesaikan masalah lewat bara api. Tubaan kemudian mengadu antara berhala dan kitab suci Yahudi. Semua berhala dan beberapa orang dimasukan api. Disusul dua Rahib yang berkalungkan kitab suci di leher mereka.

Mereka semua mati kecuali kedua Rahib Yahudi. Mereka kembali bersama kitab suci mereka di leher. Mereka dari Suku Himyar melihat tersebut tersadar. Mereka beramai- ramai memeluk Agama Yahudi yang dibawa kedua Rahib tersebut.

Cerita lain datang dari sang putra, Hassan bin Tubaan A’sad, yang hobi melakukan peperangan. Dia menyerbu mereka tanah Arab maupun non- Arab. Jujur peperangan sangat menguras tenaga Kaum dibawah Hassan. Hingga ide jahat muncul untuk membunuh Raja mereka tersebut.

Beberapa Kaum seperti Himyar, meminta saudara Hassan, yang bernama Amru untuk merebut kekuasaan. Namun Dzu Ru’ain Al Himyari menolak pemberontakan tersebut. Dzu Ru’ain kemudian menulis secarik syair tentang niat mereka kepada Amru.

Inti surat tersebut lihat siapakah yang akan bertahan. Apakah Amru yang akhirnya membunuh Hassan. Atau dirinya sendiri yang menolak melakukan pemberontakan. Ketika tiba di Yaman keadaan Amru tidak baik karena sakit aneh.

Para tabib menyebut dia menderita hukuman kerena ulahnya. Membunuh saudara dengan dzalim akan menuai penyakit. Bahkan para dukun angkat tangan atas penyakit Amru. Tidak akan tidur nyenyak Amru hingga keadaan was- wasan dihilangkan selamanya.

Dia membunuhi semua saudara hingga giliaran Dzu Ru’ain. Dia kemudian menyuruh Amru membuka surat tersebut. Hingga waktunya Amru meninggal dan porak- poranda kekuasaan Yaman. Suku Himyar yang berkuasa atas Yaman terpecah, hancur porak- poranda hingga datang seorang pria.

Dialah Likni’ah bin Yanuuf Dzu Syanaatir, membunuh pemuka Himyar dan mempora- porandakan kerajaan didalam. Likni’ah ini dikenal menyukai sesama jenis. Dia kemudia jatuh hati kepada Zur’ah Dzu Nuwas bin Tubaan Asa’ad. Dia adalah adik terkecil Hassan yang selamat, yang tumbuh menjadi pria tampan.

Zur’ah menyiasati sifat buruk lelaki fasik itu. Dia membawa pisau dan menikam Likni’ah ketika lengah. Begitu sukses dia diangkat oleh Kaumnya menjadi Raja. Ternyata meskipun memiliki garis keturunan baik. Dia terlahir sebagai orang tidak beragama hingga akhir hayat.

Dia dikenal sebagai Shahibul Ukhdud atau pemilik parit- parit. Dia beragama Yahudi namun menyimpang. Dia dipanggil Dzu Nuwas yang juga senang berperang. Dzu Nuwas pernah bertemu para pengikut Nabi Isa bin Maryam.

Dia memaksa mereka masuk Yahudi dari Agama Nabi Isa. Tentu saja mereka tidak mau, hingga Dzu Nuwas menghukum mati mereka langsung. Mereka semua dilempar ke parit- parit berbara api. Mereka bahkan dicacah dulu sebelum dimasukan ke parit- parit.

Karena Dzu Nuwas dan pasukannya, inilah kenapa Allah menurunkan kepada Rasulullah sebuah ayat yang berbunyi:

“Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk disekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orang yang mu’min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji,” (Al-Buruuj: 4-8)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *