Alkisah Seorang Haji Mabrur Tukang Sol Sepatu

tukang sol sepatu naik haji

Alkisah seorang Haji Mabrur dunia akhirat berikut kisahnya. Berawal Ulama bernama Mekkah, Abdu Abdurrahman Abdullah ibn Al Mubarak Al Hanzhali Al Marwazi, atau Ibnul Mubarak yang tertidur karena kecapaian.

Beliau tertidur selepas rangkaian panjang Ibadah Haji, terlelap karena kelelahan. Kemudian datang mimpi tentang dua Malaikat bercakap. Keduanya berbincang tentang Haji Mabrur. Mereka berbincang tentang berapa jumlah Jamaah Haji.

“Tujuh ratus ribu jamaah,” ucap salah satu Malaikat.Dan satu Malaikat berkata tidak satupun diterima Hajinya.

Percakapan tersebut membuat Ibnul Mubarak bergetar. Beliau menangis dalam mimpinya. Sadar bahwa Ibadah Hajinya telah sia- sia. Beliau kemudian berkeluh kesah, bagaimana semua orang datang dari jauh, menempuh perjalanan melewati laut dan gurun pasir.

“…dan semua usaha mereka sia- sia?” Beliau berkata.

Ternyata percakapan tersebut berlanjut lagi. Diantara begitu banyak ada satu orang beruntung. Padahal dia tidak berhaji. Tidak pula memiliki kemampuan finasial. Namun berkat dirinya, seluruh amalan Haji tersebut diterima semua.

Haji Mabrur Kisah Tukang Sol Sepatu

Ada seorang tidak berhaji tetapi diterima Hajinya. Padahal dia tidak melalukan rangkaian Ibadah apapun. Seluruh dosa orang tersebut diampuni. Siapakah Haji Mabrur dunia akhirat tersebut terjawab. Siapa yang membantu semua Jamaah Haji, amalannya diterima padahal tidak Mabrur.

Kenapa bisa begitu karena kehendak Allah Ta’ala. Siapakah orang tersebut? Siapakah Haji Mabrur dunia akhirnya tersebut. Namanya Sa’id ibn Muhafah, yang ternyata hanya tukang sol sepatu di Kota Dimasyq (Damaskus).

Mendengar perbincangan tersebut begitu mengejutkan. Abdullah Al Mubarak, kaget dan segera bangkit dari tempat tidur. Beliau langsung ke Syiria, datang ke Kota Damaskus, sambil berjalan hatinya bergetar hebat.

Sesampai disana Beliau mulai mencari sosok Sa’id ibn Muhafah. Dimanakah tukang sol sepatu tersebut dapat ditemui. Hampir semua orang ditanyai mengenai keberadaannya. “Ada, di tepi kota,” tutur seorang tukang sol sepatu, dia menunjuk ke arah tersebut dan diikuti Abdullah Al Mubarak.

Sesampai disana Beliau hanya melihat sosok pria lusuh. Benarkan dia bernama Sa’id ibn Muhafah, Ibnul Mubarak lantas bertanya siapakah dia. Sa’id menjawab dan membenarkan namanya. Dia tau siapa Ibnul Mubarak, dia berkata bahwa didepannya seorang Ulama besar yang terkenal.

Sa’id nampak terharu karena dicari- cari Ulama. Namun Ibnul Mubarak justru merasa kebingungan sendiri. Bagaimana memulai pertanyaan tentang mimpi tersebut. Akhirnya Beliau mengutarakan maksud tentang mimpinya.

“Saya hendak tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, dan membuat mabrur ibadah haji para jama’ah yang lain ?”

“Wah saya sendiri tidak tahu”

“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini”

Seorang Haji Mabrur Tukang Sol Sepatu

Sa’id mulai bercerita tentang kisah hidupnya. Setiap musim Haji dia selalu mendengarkan Talbiyah. “Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika laa syariika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syariika laka’ dan, setiap kali aku mendengar talbiyah itu, saya selalu menangis.”

Dia kemudian berdoa, “”ya Allah aku rindu Makkah. ya Allah aku merindu Ka’bah. Ijinkan aku datang, ijinkan aku datang ya Allah” Setiap tahun dia memanjatkan do’a yang sama. Ketika mendengar suara Talbiyah rindu akan Allah membuat Sa’id menteskan air mata.

Sejak pertama kali itulah dia juga mengumpulkan uang. Setiap tahun dia menyisihkan uang untuk berangkat Haji. Akhirnya dia mampu mengumpulkan 350 dirham, uang tersebut cukup buat berhaji, dan Sa’id siap berangkat Haji tahun itu.

Tetapi dia batal berangkat Haji seperti mimpi Ibnul Mubarak. Beliau lantas bertanya kenapa Sa’id tidak berangkat. Ketika itu istri Sa’id tengah hamil tua, dan waktu itu dia sedang mau berangkat. Disaat itu istrinya ngidam berat dan tidak bisa ditinggalkan.

Ketika itu sang istri mencium bau masakan lezat. Dia meminta Sa’id mencari bau tersebut untuk dimakan. Tanpa menolak Sa’id segera mencari sumber bau lezat. Padahal dia mau berangkat Haji bukan tidak ada kerjaan. Dicarilah sumber bau tersebut hingga dia menemukan sumber bau tersebut.

Ternyata bau tersebut berasal dari gubuk hampir runtuh. Tinggalah seorang Janda dan enam orang anak. Sa’id segera meminta masakan tersebut kepada ibu itu. Sang ibu hany diam memandangi Sa’id tidak bergumam. “Dijual berapa pun saya beli,” ucapnya meyakinkan sang ibu.

“Makanan ini tidak dijual tuan,” jawabnya sambil menangis.

Sang ibu kemudian berkata bahwa daging ini halal, tetapi haram untuk istri Sa’id. Kenapa karena ternyata daging tersebut bangkai. Karena berhari- hari tidak makan, dan anak- anak terus menangis ingin makan. Jadi dia memasak bangkai keledai yang ditemukan di jalanan.

Dia berkata bahwa kita sama- sama Muslim. Berbeda dengan dirinya yang terdesak hampir mati. Sa’id dan istri bukanlah orang sesusah mereka. Inipun sesuai dengan Hadist yang disampaikan oleh Rasulullah. Hadist tentang urgensi makanan ketika keadaan terdesak.

” Sesungguhnya Allah dan rasul-Nya telah melarang kalian memakan daging himar ahli (keledai peliharaan), karena hewan itu najis (kotor),”
(HR. Bukhari)

Mendengar ucapan wanita tersebut tersentuh hati, Sa’id menangis, kemudian pulang kepada istrinya yang tengah hamil. Ia menceritakan itu kepada sang istri, yang kemudian juga ikut menangis. Pasangan suami istri tersebut memasak makanan dan mendatangi rumah janda tersebut.

Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham, Sa’id serahkan kepada Janda dan enam anaknya tersebut. “Pakailah uang ini untuk sekeluarga. Gunakanlah untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi,” ucap Sa’id. Mendengar ceritanya Abdullah Al Mubarak meneteskan air mata dan berucap.

“Kalau begitu engkau memang patut mendapatkannya,” ucapnya kepada Sa’id, seorang Haji Mabrur yang sama sekali tidak melakukan Ibadah Haji.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *