Hikmah Cerita Luqman Al Hakim dan Keledai

hikmah cerita luqman al hakim

Apa hikmah cerita Luqman Al Hakim dan keledai miliknya. Siapakah sosok yang disebut dalam Al Quran tersebut. Beliau bernama Luqman Al Hakim dengan pengetahuan dan hikmah. Lukman biasa diceritakan bersama sosok putranya.

Pernahkan anda merasa dibicirakan orang. Berkehidupan sosial penuh saling memperhatikan antar sesama. Baik berupa kebaikan ataupun keburukan akan menjadi gunjingan. Terkadang kita hidup di lingkungan serba salah.

Inilah hikmah cerita Luqman Al Hajim dan keledai miliknya. Luqman Al Hakim namanya sering diceritakan oleh Al Quran. Kenapa Allah bercerita tentang sosok Beliau, padahal bukanlah Nabi ataupun Rosul. Ternyata karena Ahlak dan pola mendidik anak yang patut dicontoh.

Cerita Teladan Luqman Al Hakim dan Anaknya

Sosok asli Luqman berbeda menurut pandangan Ulama. Oleh Ibnu Katsir Beliau sosok orang Sholeh, ahli Ibadah dan memiliki ilmu Hikmah tinggi. Ibnu Katsir lebih lanjut nama Luqman Al Hakim merujuk kepada sosok bernama Luqman bin Unaqa bin Sadun.

Luqman juga dikatakan merujuk kepada Luqman bin Sarad. Ini seperti dikisahkan Ali Suhaili dari Jabir dan Al Khuzaimi. Sementara Ibnu Khatim merujuk kepada Abu Zur’ah Shafwan bin Walid, Abdurrahman bin Yazid, menyebut mengenaik sosok Beliau sebagai Ahli Hikmah.

Beliau diangkat karena memiliki ilmu dan Hikmah. Lelaki yang datang di sebuah majelis karena takdir Allah.

“Bukankah engkau budak dari bani fulan yang menggembalakan kambing kemarin. Luqman menjawab “Ya” Lelaki itu berkata “Apa yang membawaku menyaksikanmu hari ini?” Luqman berkata “Takdir Allah, menunaikan amanah, jujur dalam perkataan dan meninggalkan apa-apa yang tidak berguna.” (Tafsir Al Quran Al Azhim Juz 12 hlm 333-335)

Allah Azza Wa Jalla mengangkat Luqman dalam Al Quran. Karena Luqman merupakan Ahlul Hikmah terbaik. Mungkin anda sudah pernah mendengar kata hikmah. Tetapi apakah pengertian hikmah tersebut, dalam pengertian umum adalah mampu menyelesaikan masalah demi kemaslahatan.

Beliau mampu menyelesaikan masalah untuk kebaikan semua orang. Sayangnya, namanya manusia tentu tidak terpuasakan akan keputusan Luqman. Solusi terbaik Luqman terkadang ditolak karena pikiran sendiri.

Dalam sebuah Ayat menyebutkan tentang Luqman mengajar. Beliau mengajarkan bahwa tidak ada kezaliman terbesar selain menyekutukan Allah. Ini diperkuat dengan Ayat lain bahwa sesungguhnya Syirik adalah dosa besar.

Tidak ada hikmah ketika seseorang menyekutukan Allah. Karena tiada Tuhan selain Allah maka tidak ada bandingan. Hanya menyusahkan diri sendiri padahal kita diberikan kesempatan. Kita bisa berdoa memohon melalui ibadah kita dan ketaatan kita kepada Allah Subnallahu Wa Ta’ala.

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman: 13).

Hikmah Cerita Luqman Al Hakim dan Keledai

Suatu hari Luqman bersama anaknya tengah berjalan di tengah pasar. Mereka pergi ke pasar menggunakan keledai. Ketika itu Luqman duduk di atas keledai, sementara sang anak berjalan di belakang keledai. Anak Luqman berjalan kaki mengikuti dibelakang sementara semua orang melihat.

Pandangan mereka penuh makna meskipun tanpa terucap. Dan Luqman berkata kepada anaknya mengenai semua orang. Beliau berkata, “Lihat itu orang tua yang tidak merasa kasihan kepada anaknya, dia enak-enak naik keledai sementara anaknya disuruh berjalan kaki.”

Kemudian terdengar gunjingan mengenai mereka. Mendengar hal tersebut Luqman mengajak anaknya naik ke punggu keledai. Hasilnya gunjingan lain menyusul oleh orang- orang. “Hai teman-teman, lihat itu ada dua orang menaiki seekor keledai. Kelihatannya keledai itu sangat tersiksa, kasihan ya.”

Merasa tidak nyaman dengan gunjingan yang semakin terdengar. Luqman dan anaknya memilih berjalan kaki bersama keledai mereka. Hasilnya tetap terdengar gunjingan kembali orang- orang.

“Hai, lihat itu. Ada dua orang berjalan kaki, sedangkan keledai itu tidak dikenderai. Untuk apa mereka bawa keledai kalau akhirnya tidak dinaiki juga.”

Sesampai di rumah Luqman menasehati sang anak tentang semua. Bahwasanya kita tidak akan pernah lepas dari gunjingan. Omongan orang terhadap kita akan selalu terdengar. “Bagaimana cara menanggapinya ayah?” ucap anak Luqman menanggapi.

Luqman mengatakan bahwa jangan menanggapi tanpa Allah. Orang berakal tidak akan menanggapi, salain karena pertimbangan berdasarkan Allah. Petunjuk Allah merupakan satu- satunya jalan melakukan tindakan. Pertimbangan keputusan terbaik adalah berdasarkan kebenaran Allah sendiri.

Luqman Al Hakim kemudian mengajari anaknya tentang rejeki. Sesungguhnya bermalas- malasan mencari rejeki akan berakibat buruk. Sifat fakir akan menghantui kita dengan tiga perkara. Yakni tipis keimanan tentang agama, lemah akalnya atau mudah tertipu, dan hilang kemuliaan hatinya (kepribadiaan).

Selama anda melakukan sesuatu sesuai syariat, dengan ilmu yang benar, dan karena Allah semata. Maka keikhlasan kita tidak perlu mendengar omongan orang. Ucapan negatif justru akan membuat kita enggan melakukan sesuatu, bahkan enggan melakukan kebaikan padahal Islam menganjurkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *