Awal Mula Kota Madinah Sebelum Jaman Rasulullah

awal mula kota madinah

Awal mula Kota Madinah adalah pusat pertanian di tanah Arab. Nama asli Madinah adalah Yastrib, yang diambil dari nama Yastrib bin Qaid bin Abid. Dia adalah seorang laki- laki dari Suku Amaliqah. Bukan nama sembarangan karena merupakan penguasa Bahrain, Hijaz dan Mesir.

Sedangkan orang yang membangun Kota Madinah pertama kali. Namanya Al Malik bin Amlak bin Arfakhsyuz bin Sam. Dialah yang membuat Yastrib menjadi pemukiman makmur. Sementara itu menurut bahasa Yastrib berarti “memaki” atau “kotor”.

Oleh karenanya Rasulullah merubahnya menjadi Madinah. Bernama lengkap Madinah al- Munawwarah atau Kota yang bercahaya. Juga disebut sebagai Madinaturrasulullah atau Kota Rasulullah. Tempat ini merupakan strategis sebagai pusat perdagangan Tanah Arab.

Kota Madinah Sebelum Islam

Walaupun sudah bernama Madinah menurut Adzim Irsad. Nama Yastrib masih kuat dikalangan mereka Kaum Yahudi. Mereka yang tidak mengikuti Rasulullah seperti tercantum dalam Al Quran.

Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.

Perlu diketahui bahwa dulu banyak orang Yahudi disini. Mereka merupakan para imigran besar- besaran. Jumlahnya yang banyak hingga menjadi mayoritas penduduk. Kala itu mereka menghindari penguasaan oleh Babilonia dan Yunani.

Mereka tinggal di Yastrib membentu beberapa suku, yaitu Bani Quraizah, Bani Nadir, dan Bani Qainuqa. Mereka menjadi penduduk dominan di Yastrib. Namun beberapa suku lain datang menjadi warga Yastrib. Diantaranya dari bangsa Arab, diantaranya yang akan kita bahas adalah Suku Aus dan Khazraj.

Kedua suku Arab tersebut merupakan keturunan Kabilah Qathan atau Al Qathani. Mereka suku terbesar bangsa Arab yang berasal dari Yaman. Sebuah pristiwa bernama banjir Al Aaram, dan runtuhnya bendungan Al Maarib membawa mereka.

Suku Al Qathani dikenal sangat senang berselisih. Mereka bahkan berperang dengan sesama sendiri. Keinginan saling menang memang kuat diantara mereka. Suku Al Qathani sendiri menjadi korban bangsa Yahudi di kota Yastrib, saling beradu merebut kekuasaan hingga Rasulullah datang ke Yastrib ini.

Mereka dipersatukan dibawah kepemimpinan Rasulullah. Kedua suku besar inilah bersatu dibawah kepemimpinan Rasul. Sementara itu Yahudi tetap bisa tinggal disana dengan damai. Tentu semuanya dibawah bendera Islam.

Kota Madinah Sebelum Rasulullah Wikipedia

Bangsa Arab mulai eksodus dari Yaman sekitar abad empat. Menurut cerita sudah ada kaum Yahudi kuat mendiami. Mereka ada sebelum dua suku Arab kuat: Bani Aus dan Bani Khazraj. Sebelumnya sudah ada tiga suku Yahudi, yaitu Bani Qaynuqa, Bani Quayza, dan Bani Nadir.

Menurut cerita Bani Qurayza, menurut Ibn Kordadbeh, mereka bertugas sebagai pengambil pajak untuk kerajaan Persia. Jadi dulu kota Yastrib dibawah pengaruh kerajaan tersebut hingga merdeka.

Kedua suku Arab awalnya mengikuti aturan suku Yahudi, hingga menjadi merdeka dan membuat aturan sendiri. Memasuki abad ke lima mereka sudah tidak bisa dikendalikan. Ada dua sumber mengatakan tentang hubungan bangsa Arab dan Yahudi disini.

Ada yang mengatakan bahwa mereka melakukan revolusi. Satu lain mengatakan bahwa Bangsa Yahudi bermain diantara mereka. Maksudnya mereka menguasai kedua Bani Aus dan Khazraj. Dimana saling mengontrol kedua suku ini agar tidak sepenuhnya merdeka.

Bani Aus dan Khazraj sangat bermusuhan sampai 120 tahun. Hingga datanglah Nabi Muhammad ketika berhijrah ke Yasrib. Mereka merupakan musuh bebuyutan. Dan keduanya sama- sama didukung oleh suku Yahudi.

Yakni Bani Nadir dan Qurayza mendukung Bani Aus, semantara disisi Bani Khazraj ada campur tangan Bani Qaynuqa. Mereka melakukan empat kali perang besar disana. Peperangan terbesar bernama perang Bu’ath, lima tahun sebelum Rasulullah datang.

Hasil perang tidak diketahui menjadi dendam lama. Abd Allah ibn Ubayy menjadi agen perdamaian diantara keduanya. Dia menolak mengukuti peperangan tersebut. Hingga datangnya Nabi Muhammad sosoknya menjadi pendamai diantara dua suku.

Untuk menyelesaikan dendam lama tersebutlah. Beberapa mengunjungi Nabi Muhammad secara sembunyi- bunyi di Al Aqaba. Tempat itu letaknya berada diantara Mekkah dan Mina. Mereka memanggil Beliau, menjadi mediator antar faksi dan mempermudah mereka masuk Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *