Apa Arti Melempar Jumroh dan Tempat Jamarat Haji

apa arti melepmar jumroh

Jika ditanya mengenai apa arti melempar Jumroh. Menurut Ulama terdapat dua pengertian. Aktifitas kita melempar kerikil di tempat Jamarat Haji. Apakah kegiatan melempar setan di tugu Jamarat. Satu kesimpulan mengatakan benar dan yang lain bukan itu maksudnya.

Hadist apa arti melempar Jumroh salah satunya: Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma, bahwasanya aktifitas melempar di tempat Jamarat, berasal dari apa yang dilakukan Nabi Ibrahim AS. Dalam riwatanya mengatakan bahwa iblis muncul ketika sedang melakukan rangkain Ibadah Haji.

Iblis menampakan diri tiba- tiba di tempat Jumroh Akobah. Dengan petunjuk Allah maka Nabi Ibrahim mengambil kerikil kecil. Dilemparinya iblis hingga menghilang masuk ke tanah. Hingga kedua kali iblis muncul kembali dihadapan Nabi Ibrahim Alahissalam.

Salah Kaprah Apa Arti Melempar Jumroh

Ketika iblis datang ke dua kalinya maka Nabi Ibrahim AS kembali. Beliau melempari dengan menggunakan batu krikil. Sayangnya pengertian melempari bisa disalah artikan. Pasalnya dalam bahasa makna kata “rajam” berubah menjadi kepuasan.

Melempari berarti menyalurkan kemarahan kita terhadap iblis (setan). Tidak jarang Jamaah melempar tidak sesuai Sunnah Rasulullah. Makna merajam disini mengartikan bahwa itu nyata. Dihadapan mereka seolah adalah setan sesungguhnya dan harus dilempari.

Makan lain menyimpulkan bahwa kegiatan tersebut literal. Artinya bahwa mereka bukan melempar setan sesungguhnya. Melainkan Jamaah Haji melempar sebagai bentuk rangkaian Ibadah. Alhasil karena perbedaan tersebut, tidak jarang Jamaah Haji melempar sembarangan.

Kita bisa melihat botol, batu besar, dan apapun dilempar. Melepmar menurut pengertian Ulaman kedua adalah melempar simbol. Bukan untuk menyakiti setan tetapi mempermalukan sosok. Membuat setan merasa terhina karena Jamaah Haji menjalankan perintah Allah Ta’ala.

Prinsip tersebut sesuai Surah Al Baqarah Ayat 203. Yang mana dimaknai bahwa melempar Jumroh merupakan cara. Bukan sebagai pembalasan atau menyakiti setan sesungguhnya. Melainkan melawan hawa nafsu kita, dan tiada dosa jika melempar dua hari atau menyempurnakan tiga hari.

Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya. Q.S Al Baqarah Ayat 203

Melempar Jumroh merupakan satu kewajiban dilakukan. Diantara melempar tersebut sesungguhnya ada Dzikir kepada Allah. Biasanya dilakukan setelah Wukuf di Arafah dan Mabit di Muzdhalifah. Maka pada paginya Jamaah akan melempar Jumroh di tempat Jamarah.

Pembangunan Tempat Jamarat untuk Melempar Jumroh Haji

Semakin banyak Jamaah Haji mampu berkunjung ke Saudi. Tidak ayal membuat pemerintah melakukan segala upaya. Mereka ditugasi untuk memberikan pelayanan Ibadah nyaman. Oleh karenanya banyak sudah pembangunan dilakukan oleh Pemerintah Saudi.

Tempat Jamarat atau tempat melempar setan itu. Dulunya hanya berbentuk tugu biasa dalam satu garis lurus. Tiga tempat Jamarat ditarik lurus guna mewakili Ula, Wustha dan Aqobah. Dulu banyak Jamaah Haji menjadi korban karena berdesakan melakukan pelemparan.

Target melempar Jumroh yang kurang memadai. Tidak sedikit orang terinjak atau terkena lemparan batu. Padahal inti dari Ibadah ini adalah bersabar untuk menjalankan. Bahwasanya ini merupakan satu dari tahapan panjang Haji, sehingga jangan memaksakan diri sampai menyakiti.

Dibangunlah satu jembatan Jamarah untuk membagi alur. Sehingga posisi melempar akan bertingkat tidak satu lantai. Pada tahun 1975, maka hadirlah dua tingkat, dimana orang bisa melempar Jumroh pada waktu bersamaan.

Penanganan Jumlah Haji meningkat termasuk mengenai sasaran Jumroh. Dari sebelumnya berbentuk pilar panjang keatas. Berubah menjadi memanjang, melebar dan meninggi ke dua tingkat. Pemerintah Saudi menghancurkan struktur semula pada 2005, dan menggantinya dengan yang baru.

Struktur baru memang terlihat sangat berbeda dari dulu. Namun kesepatakan Ulama meyakini bahwa hal itu tidaklah masalah. Perubahan bentuk ini juga menandakan bahwa tidak ada pengkultusan. Jembatan Jamarat kini berpanjang 950 meter dan lebar 80 meter.

Jika sebelumnya dua tingkat, kini, menjadi lima tingkat masing- masing tingginya 120 meter. Jemabatan tempat Jamarat memiliki 12 pintu masuk dan keluar. Ada pintu darurat jika terjadi sesuatu berserta rangkain CCTV. Mereka mampu menampung 300.000 Jamaah per- jam untuk melempar Jumroh.

Pihak berwenang juga menyediakan pasukan kesehatan. Pada titik- titik rawan diberikan keleluasaan untuk menangani keadaan darurat. Ada penyiraman air dan sistem pendingin udara. Jadi di dalam struktur jembatan ini hanya akan bersuhu sekitar 29 derajat celcius.

Untuk lantas ke lima terdapat kanopi kain untuk menghindari panas. Proyek ini sendiri belum rampung hingga sekarang. Namun sudah mampu digunakan oleh Jamaah Haji dengan aman. Pemerintah Saudi menargetkan pembangunan jangka panjang, totalnya 12 lantai dan menampung 5 juta Jamaah Haji.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *