Kisah Pasukan Gajah Gagal Menghancurkan Ka’bah

kisah pasukan gajah

Mungkin anda tidak asing akan kisah pasukan gajah. Mereka gagal menghancurkan Ka’bah karena berkat Rahmat Allah. Kisah ini bermula dari seorang Raja yang iri akan Baitullah. Disana banyak orang beribadah mengamalkan ajaran Nabi Ibrahim.

Sementara dirinya telah membangun satu gereja agung. Gereja tersebut begitu indah tidak kalah dari Baitullah menurutnya. Kisah pasukan gajah gagal menghancurkan Ka’bah. Bermula pada tepat tahun kelahiran Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Sallam, yakni pada 571 Masehi.

Tahun gajah ditadai dengan munculnya 60.000 pasukan gajah. Dipimpin oleh seorang gubernur Yaman, Abrahah, yang memakai gajah terbesar diantara prajuritnya. Tujuan mereka menuju Mekkah dan meratakan Ka’bah agar Umat Nabi Ibrahim berpaling.

Negeri Yaman adalah negeri Kristen terbesar diakal itu. Didirikanlah sebuah gereja besar oleh Raja Yaman disana. Gereja bernama Qullais dianggap lebih menarik dibanding Ka’bah. Sayangnya, rencana menarik Umat Nabi Ibrahim gagal, mereka tetap melakukan Ibadah Haji menuju Ka’bah.

Rencana Licik Abrahah Menarik Jamaah

Aneka cara menarik dilakukan Abrahah menarik perhatian. Tujuan menaklukan Ka’bah kemudian terdengar hingga Mekkah. Salah satunya seorang pria berasal dari Khabilah Bani Faqim bin Addiy. Yang merasa tersinggung karena Baitullah disamakan gereja buatan mereka.

Ketika dia datang ke Yaman, menyusuplah dan masuk ke dalam gereja, dia sengaja mengotori lantai gereja dengan kotoran. Jika semula hanya berupa berita tanpa rencana melakukan. Abrahah terlanjur marah karena ulah penduduk Mekkah tersebut.

Abrahah yang mendapatkan laporan bersumpah menghancurkan Ka’bah. Berangkatlah dia bersama pasukan bergajah menuju Kota Mekkah. Berada di barisan terdepan menunggangi gajah terbesar. Abrahah yakin satu gerakan gajahnya saja maka Ka’bah akan runtuh.

Serangan Pertama Pasukan Gajah di Mekkah

Tibalah mereka di Al Muhammis berhentilah pasukan gajah disana. Dikirim oleh Abrahah, seorang utusan bernama Al Aswad bin Mawsud, diutus memakai kuda untuk masuk meneroboh Mekkah. Disana dia diutus untuk memintakan uang denda kepada bangsa Arab khususnya Kaum Quraish.

Disana termasuk kekayaan 200 ekor unta milik kakek Nabi Muhammad. Beliau Abdul Muthalib diminta menyerahkan atau dirampas. Menyadari bahwa dihadapan Abrahah adalah sosok penting. Yang mana merupakan salah satu pimpinan disegani Kaum Quraish.

Abrahah merasa beruntung semakin menujukan kekuatannya. Namun justru kejadian ini membuat Kaum Quraish marah. Mereka siap memerangi Abrahah tanpa ketakutan sedikitpun. Namun, melihat kekuatan pasukan gajah, mereka mengurungkan niat memilih menahan diri dulu.

Tiada satupun kekuatan di Arab mampu menandingi mereka. Kaum Quraish menyadari hal tersebut memilih menahan diri. Berdasarkan komando Abdul Muthalib, semua penduduk Ka’bah harus mundur hingga di perbukitan sekeliling Ka’bah.

Mereka menghindari pertumpahan darah karena kalah kekuatan. Terucap kepada Abdul Muthalib, Abrahah melalui penerjemah bertanya,”apakah keperluan mu?” Abdul Muthalib tidak menjawab untuk melakukan perlawanan,

“Keperluanku hanya untuk meminta Raja Abrahah mengembalikan 200 ekor unta yang dirampas Raja,” tutur Beliau.

Abrahah jujur kagum akan keberanian Abdul Muthalib. Tapi menantang penduduk Mekkah sebagai balasan ucapan.

“Apakah engkau hanya membicarakan 200 ekor unta yang raja rampas darimu dan engkau meninggalkan Rumah yang tiada lain adalah agamamu dan agama leluhur (nenek moyang) mu, padahal kami datang untuk menghancurkannya dan Kau tidak sedikitpun menyinggung (menghalangi) nya?’

Abdul Muthalib menjawab dengan berani kepada Abrahah. Beliau hanya ingin unta miliknya dikembalikan. Dan tanpa takut menjawab tantangan menghancurkan Ka’bah. Beliau hanya menjawab sesungguhnya Ka’bah ada pemiliknya, sedangkan unta itu merupakan hak Abdul Muthalib.

Sesungguhnya tiada akan bisa siapapun jika berhadapan Allah. Baitullah merupakan bangunan milik Allah Ta’ala sendiri. Jadi tiada perlu masyarakat Mekkah takut akan dihancurkan.

“200 unta yang kau rampas, adalah milikku, kembalikan Padaku, dan rumah tersebut (ka’bah) mempunyai Pemilik yang akan melindungi Nya” ucap Abdul Muthalib.

Abrahah sombong berkata, “Kamu tak pantas menghalang-halangiku.” Abdul Muthalib berjawab penuh percaya diri, “Itu terserah antara engkau (abrahah) dengan-NYA.”

Kekalahan Pasukan Gajah Oleh Burung Ababil

Esok harinya pasukan Abrahah sudah tidak dapat menahan. Mereka ingin segera meratakan Ka’bah hingga menjadi tanah. Ketika akan bergerak menuju Mekkah datanglah Nufail bin Habib. Yang kemudian menjadi tawanannya. Dia menantang pasukan gajah agar tidak masuk ke Kota Mekkah.

Abrahah segera menghardik Nufail karena menghalangi. Nufail membisikan kalimat kepada gajah milik Abrahah. “Duduklah engkau Mahmud, atau pulanglah dengan tenang ke tempatmu yang semula, karena sesungguhnya kau sedang berada di tanah haram!”

Dari kalimat tersebut merubah peringai gajah milik Abrahah. Tampat dia tidak berani untuk datang menuju pertempuran. Terduduklah dia walaupun dipukuli di kepala agar patuh. Walaupun tombak dimasukan ke hidunya agar bergerakl; Mahmud seolah mengerti bahwa di depannya kebinasaan.

Dengan cepat Nufail meloloskan diri seperti perintah Abdul Muthalib. Dia segera naik ke pegunungan bersembunyi dari pasukan gajah. Ketika Mahmud diarahkan pulang ke Yaman, sang gajah berlari sangat cepat seolah menghindari kebinasaan.

Namun Abrahah tetap ngotot mengrahkan dia ke Mekkah. Pasukan gajah berhenti tidak bergerak karena jendralnya mogok. Ketika mengarahkan diri ke Mekkah, Mahmud segera berhenti terduduk tidak mau bergerak.

Hingga tampak dari kejauhan awan hitam bergerak mendekati. Ternyata bukan awan hitam melainkan sekumpulan burung. Mereka adalah burung Ababil yang diutus Allah langsung. Mereka membawa tiga butir batu kecil dari neraka, ditangan dua cakarnya dan satu di paruhnya.

Memang mereka jauh lebih kecil dibanding gajah Abrahah. Namun panasnya batu neraka melelehkan kekuatan mereka. Batu itu menembus ke daging gajah- gajah milik Abrahah. Pristiwa ini terjadi di lembah Muhassir dimana menjadi kekalahan telak pasukan Yaman.

Sisa pasukan yang selamat segera mencari sosok Nufail. Mereka berharap bisa ditunjukan ke mana Kota Yaman. Abrahah sendiri bersama gajahnya Mahmud berhasil melarikan diri. Berlari kencang gajah Abrahah membawanya, tetapi sayang, Abrahah sudah terlanjur terluka dan masti ketika di Yaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *