Kumpulan Pertanyaan Haji Tentang Haid dan Thawaf

pertanyaan thawaf

Ada banyak pertanyaan Haji tentang haid dan Thawaf. Artikel ini akan membahas kumpulan pertanyaan Haji tentang wanita. Pertanyaan pertama apakah boleh menjadikan satu Thawaf Ifidah dan Wada. Apakah diberbolehkan menggabungkan niat Thawaf Ifidah dan Wada.

Pertanyaan Haji Apakah Sah Melakukan Thawaf Ifadah disambung Wada

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah menjawab:

Tidak ada dosa jika anda melakukan hal tersebut. Jamaah Haji diperbolehkan melakukan Wada atau perpisahaan, langsung setelah menjalankan Thawaf Ifidah. Sebenarnya Ifidah saja sudah cukup bagi syarat sah Ibadah Haji seseorang.

Akan tetap sah ibadah Haji, baikpun melakukan Thawaf Wada maupun tidak. Anda mau berniat Wada setelah Ifidah ataupun tidak. Maksudnya jika semua syarat sah Ibadah Haji sudah selesai. Seseorang sudah menyelesaikan rukun Haji maka selesailah prosesi Ibadah tersebut.

Maka jika anda melanjutkan Thawaf Wada diperbolehkan. Untuk pelaksanaan pun dipermudah bagi wanita maupun orang tua. Keduanya dapat dilakukan baik pagi maupun malam hari.

Pertanyaan Haji Apa yang Dilakukan Setelah Thawaf Wada

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al- Jibrin menjawab:

Thawaf merupakan rukun akhir rangkaian Ibadah Haji. Begitu selesai Thawaf Wada anda bisa melanjutkan berdoa kembali. Kota Mekkah merupakan tempat paling suci untuk memanjatkan doa kepada Allah.

Berhentilah di depan Multazam, seraya berdoa agar diberikan kesempatan kembali baik ketika Haji ataupun Umroh. Anda juga bisa mendoakan keluarga atau saudara agar ikut merasakan. Bagaimana nikmatnya menjalankan Ibadah Haji.

Berjalanlah keluar secara wajar dan tidak berjalan mundur karena takut membelaki Ka’bah. Berjalan biasa layaknya berjalan normal meninggalkan Ka’bah. Apakah yang terjadi jika kita terlalu lama berada di Mekkah.

Syaikh Abdullah mengatakan, bahwa jika anda terlalu lama berhenti di Mekkah, dan tidak ada apapun selama setengah jam. Maka anda akan menguulangi Thawaf Wada lagu. Jika anda melakukan jual- beli panjang, ataupun mengerjakan sesuatu yang mengharuskan memukim.

Anda juga harus mengulang kegiatan Thawaf Wada. Adapun jika anda membeli oleh- oleh untuk keluarga. Bukan untuk berdagang bahkan sampai bermukim. Syaikh mengatakan anda tidak perlu mengulang Thawaf Wada.

Pertanyaan Haji Tidak Dapat Keluar dari Mekkah Setelah Thawaf Wada

Al Lajnah Ad- Daimah Lil Ifta ditanya tentang setelah Thawaf Wada. Apakah harus keluar dari Mekkah apabila posisi sudah malam. Apa diperbolehkan bermalam dulu setelah Thawaf Wada di Mekkah.

Jawabannya sesuai Sunnah Rasulullah Salallahu ‘Alahi Wa Sallam. Bahwa Ibadah terakhir sebelum meninggalkan Mekkah adalah Thawaf. Ini berdasarkan Hadist Ibnu Abbas:

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan manusia (dalam menunaikan ibadah haji) agar mengakhirinya dengan thawaf di Baitullah, tapi diberi keringan bagi wanita yang sedang haidh” Mutafaq ‘Alaih

Penjelasan lebih lanjut jika sudah niat keluar atau Thawaf Wada. Kemudian posisi anda sudah di malam hari, maka diperbolehkan bermalam di Mekkah. Namun jika mau mengulangi Thawaf paginya maka itulah yang terbaik.

Pertanyaan Haji Berhenti Thawaf Wada Karena Penuh Sesak

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah ditanya oleh penduduk Jeddah. Di Mekkah mereka telah menyelesaikan Manasik Haji selain Thawaf Wada. Mereka terpaksa menunda karena posisi penuh hingga Dzulhijah. Selepas Jamaah tidak padat, barulah mereka melakukan Thawaf Wada.

Jika anda melakukan Thawaf Wada tetapi berjeda waktu maka benar. Ibadah Haji anda tidak ada masalah dan sah. Ketika anda benar- benar akan mau keluar Mekkah. Barulah anda bisa menjalankan Thawaf Wada seketika.

Menurut kebanyakan Ulama jika keluar tanpa Wada. Maka Jamaah mengganti dam berupa seekor kambing. Menyembelih di Mekkah dan dibagikan ke orang- orang miskin sekitar. Menurut kebanyakan Ulama bahwa Thawaf ini merupakan wajib.

Kalau penduduk Jeddah atau sekitarnya masih di Saudi. Jika kembali ke Mekkah setelah keluar, melakukan Thawaf Wada maka tetap terkena Dam.

Pertanyaan Haji Apakah Wanita Haid atau Nifas Tidak Wajib Thawaf Wada

Al Lajna Ad Daimah Lil ifta pernah ditanya tentang Haid dan Nifas. Pertanyaan dari seorang Muslimah ketika posisinya sudah di Mina. Ketika orang mengatakan bahwa harus Thawaf Wada. Beberapa orang mengatakan diperbolehkan untuk tidak melakukan.

Bagi wanita yang haid ataupun nifas tidak wajib Wada. Untuk orang yang lemah atau sakit boleh dibantu tandu. Sesuai dengan Hadist Nabi yang jelas menjelaskan wanita haid memiliki pengecualian. Begitupula untuk wanita nifas tidak diwajibkan Thawaf Wada.

Semua pertanyaan diatas bersumber dari buku kumpulan fatwa. Sumbernya adalah para Ulama- Ulama Saudi Arabia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al Musnad, terbitan Pustaka Imam Ash Syafi’i, halaman 159- 164, Penerjemah H. Asmuni Solihan Zamakysari Lc.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *