Apakah Umrah Berulang Kali Apakah Boleh dan Sah

Menjalankan Umrah berulang kali apakah boleh dan apakah sah Umrah dikerjakan. Pergi ke Masjidil Haram merupakan impian semua Muslim. Beribadah di sana merupakan anugrah. Tidak ada rejeki lebih banyak dibanding seorang Muslim beribadah ke sana layaknya ke rumah sendiri.

Banyak Muslim masih susah beribadah ke sana. Biaya Umrah yang mahal terjangkau hanya beberapa kalangan. Anda butuh biaya Umrah berkisar 20 jutaan. Lantas Muslim yang berpenghasilan minim, hanya mampu menjalankan Umroh dan beribadah ke Masjidil Haram sekali. Butuh bertahun- tahun seorang muslim bisa beribadah ke sana.

Maka apa hukum Umrah berulang kali. Seorang Muslim beribadah berulang kali ke Masjidil Haram, apakah diperbolehkan dan apa landasan hukum itu. Apa pandangan Islam terhadap Muslim beribadah Umrah berulang kali. Syarat Muslim ibadah diterima Allah ada dua: MuslimĀ  harus ikhlas dan Mutaba’ah atau mengikuti cara Nabi Muhammad.

Kita harus mengikuti petunjuk cara Nabi Muhammad. Adalah merupakan ibadah disyariatkan. Maka ibadah ini memiliki aturan jelas dan bisa dikaji jika ada permasalahan.

Catatan bahwa Nabi Muhammad selama hidup hanya melakukan empat kali. Ibnu Abbas, menjelaskan:

” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan umroh sebanyak empat kali. (Yaitu) umroh Hudaibiyah, umroh Qadha’, umroh ketiga dari Ji’ranah, dan keempat (umroh) yang bersamaan dengan pelaksanaan haji beliau.” (HR. Tirmidzi, no 816 dan dan Ibnu Majah no. 2450)

Keterangan berapa banyak Nabi Umrah dan Haji

Penjelasan lebih lanjut oleh Iman Ibnul Qayyim. Bahwa Nabi Muhammad ibadah Umrah sebanyak empat kali. Tiga kali melakukan tanpa beribadah Haji. Sekali Nabi Muhammad beribadah Umrah beserta Haji. Ibadah Pertama Nabi ketika Hudhaibiyah tahun 6H, Beliau dan para sahabat berbait di bawah syarajah, miqat di Dzul Hulaifah Madinah.

Ketika itu Nabi Muhammad dan sahabat dihalangi kaum musyrikin masuk ke Kota Mekkah. Lahirlah perjanjian Hudaibiyah. Isi perjanjian Hudaibiyah salah satunya kamu Muslimin dilarang Umroh, harus kembali ke Madinah seketika. Barulah tahun berikutnya umat Muslim bersama bisa melaksanakan Umroh Qadhiyyah tahun 7H.

Tigar hari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berada di Mekkah. Umroh umat Muslim ketiga bernama Umroh Ji’ranah tahun 8H. Terakhir kali Nabi Muhammad Umroh adalah ketika mengerjakan Haji Wada’. Ibadah itu dikerjakan pada bulan Dzul Qa’dah.

Alasan lebih jelas tidak memerintahkan berulang kali menurut kajian Majalah Assunnah (majalahasunnah.com), berikut

Pertama: Umrah Nabi Muhammad berkadaan safar

Empat Umroh dikerjakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melakukan karena syafar atau dalam perjalanan. Sahabat yang menyertai Nabi, tidak ada yang keluar dari tanah haram untuk berniat Umroh. Baik sebelum ataupun sesudah perjalanan Haji.

Kedua :Nabi keluar dari tanah haram bukan sengaja Umroh

Umrah Nabi Muhammad dari Ji’ranah yang mana tanah halal, kemudian ke tanah haram tidak bisa dijadikan dalil bahwa anda bisa lakukan berulang kali. Nabi ketika itu akan menaklukan kota Mekkah, dan kota Mekkah masih berstatus halal. Salam tujuh belas hari Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam berada di Mekkah.

Ketiga: tidak yang sengaja keluar tanah haram Umroh

Sahabat Nabi Muhammad tidak ada yang sengaja keluar tanah haram untuk niat Umroh. Thawaf sendiri sudah jadi ketetapan Nabi, bahkan ketika Nabi Ibrahim ‘Alaihisallam, penduduk Mekkah Thawaf tanpa niat Umroh. Sudah ada syariat bahwa penduduk Mekkah ber Thawaf. Itu lebih utama dibanding keluar tanah haram dan masuk lagi untuk Umroh.

Empat: Inti sari ibadah ini adalah Thawaf

Adapun sifat Sya’i adalah bersifat menyertai. Bukti tersebut terlihat dari aturan bahwa Sya’i tidak dikerjakan kecuali setelah Thawaf. Sementara Thawaf sudah dilakukan oleh penduduk Mekkah tanpa keluar ke tanah halal dulu. Selama proses penaklukan Mekkah, dalam 17 hari, tidak ada Nabi Muhammad keluar dulu dan masuk kembali untuk Umroh

Maka jika dipikirkan Thawaf merupakan keutamaan. Tanpa Thawaf maka Umroh akan tidak berarti. Bahkan menurut penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, bahwasanya Thawaf lebih utama dibanding Umroh untuk penduduk Mekkah. Tidak ada larangan berapa kali Umroh, tetapi menambah Thawaf lebih baik hukumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *