Kisah Ibu Berhaji Tanpa Melihat Ka’bah Renungan Islam

cerita azab ibu

Sungguh mulia hati pria bernama Hasan terhadap ibunya. Ini kisah ibu berhaji tanpa melihat Ka’bah. Sebuah kisah renungan Islam tentang hak dan batil. Alkisah Hasan ingin mengajak ibunya berangkat Haji karena kini sudah memiliki banyak uang.

Muliau hati Hasan mengajak ibunya melengkapi rukun Islam. Cuma ketika sesampainya di depan Ka’bah tidak terlihat apapun. Ibu Hasan tidak menemukan Baitullah, hanyalah kanvas hitam tanpa bisa diraba dimana dia.

Padahal semua sudah memenuhi syarat berangkat. Sudah punya uang lebih memberangkatkan Hasan dan ibu. Dicek kesehatan pun sudah tiada masalah ketika hendak berangkat. Uang Haji sudah ditransfer ke pihak travel. Semua kebutuhan sehari- hari sudah siap dibawa di dalam tas koper.

Lantas apa yang salah dengan Haji keduanya. Hasan bingung mendengar keluhan sang ibu tersebut. Bagaimana bisa tidak melihat semua baik- baik saja di luar Baitullah. Keduanya sehat wal afiat tanpa kekuarangan apapun.

Kisah Ibu Berhaji Tanpa Melihat Ka’bah

Hasan dan ibu juga bersemangat ketika akan memulai Thawaf bersama. “Labaik Allahuma Labaik, saya tiba penuhi seruanmu ya Allah,” ucap mereka. Hasan kemudian membisiki ibu,”Ummi undzur ila kabah (bu, lihatlah kabah)”

Hasan mengarahkan ibu memandang Ka’bah agung. Tetapi kenapa tidak terlihat apapun di depan. Wanita tua itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjuk. Padahal semua normal kecuali ketika ibu memandang Ka’bah.

Hasan kembali membisiki ibu dimana letak Ka’bah. Sayangnya kembali ibu mengeluh tidak melihat apapun. Kebingungan menyelimuti ibu hingga mengusap mata beberapa kali. Hasilnya tidak terlihat apapun kecuali kanvas hitam tanpa setitik cahaya.

Kenapa ibu Hasan melihat Masjidil Haram gelap gulita. Padahal semua kembali normal ketika mereka kembali ke rumah. Hasan tidak putus asa mengajak berhaji hingga tujuh kali. Apa gunanya berangkat Haji tanpa melihat Baitulah, tanpa merasak kehadiran Nya, sungguh pengalaman buruk.

Tanpa berpikir negatif Hasan kembali berangkatkan Haji ibu. Hingga Hasan sampai dititik tidak percaya semua. Tidak habis pikir kenapa bisa begitu. Dia mulai mempertanyakan tentang apa keselahan ibu. Apakah ibu melakukan dosa besar hingga diazab Allah di Masjidil Haram.

Ulama dan Ibu Buta Renungan Islam

Dia berkesimpulan untuk mencari pendapat orang lain. Harus mencari Ulama yang mengerti betul kenapa. Kisah ibu berhaji tanpa melihat Ka’bah ini menyebar. Hingga terdengar ke telinga seorang Ulama terpandang. Dia dikenal sebagai orang Shaleh, dikenal seantero Abu Dhabi karena kebijakannya.

Hasan mulai mengutarakan masalahnya kepada Ulama. Dia mendengar semua penjelasan Hasan seksama. Waktu itu Hasan berangkat sendiri karena ibunya bersedih. Sang Ulama lantas meminta Hasan menghubungi ibunya di tanah air.

Dimintanya ibu mengubungi sang Ulama untuk bercerita. Sang Ulama kemudian meminta intropeski diri. Apakah ibu memiliki kesalahan terhadap Allah Subhanallahu Wa Taala. Dimintanya ibu Hasan berterus terang apakah memiliki dosa serius.

“Anda wajib berterus terang kapada ku, karena masalah mu bukan masalah sepele,” tutur sang Ulama.

Ibu Hasan terdiam sebentar tanpa terucap. Sang Ulama kembali meminta setengah memohon. Akhirnya dia bercerita bahwa dulu waktu muda. Dia pernah bekerja sebagai perawat rumah sakit. Sebuah pekerjaan mulai sambung Ulama menanggapi.

Namun, sepanjang karirnya tersebut, ibu Hasan gemar mengambil uang bukan haknya, menipu sana- sini, melalukan aneka trik antara halal dan haram. Dosa paling besar ialah ketika dia merubah kelamin anak pasien. Karena memang banyak orang merasa kecewa dengan keadaan kelamin anak mereka.

Dari perempuan diubah menjadi laki- laki dengan berbagai cara. Dia mendapatkan upah dengan “mengakali” hal tersebut. Termasuk menukar bayi hingga tidak jelas siapa orang tuanya. Memang banyak orang tua tidak puas karena anaknya terlahir perempuan.

“Astagfirullah,” sang Ulama terkaget mendengar itu.

Inilah dosa besar tersebut karena telah merusak generasi. Ibu Hasan telah membuat dosa besar karena merusak nasab. Kelak sang anak perempuan akan kesulitan menikah. Jika ada anak yang sakit maka akan kesulitan diobati dan sebagainya.

Ini dosa besar sekali Ulama menyampaikan. “Kemudia apa lagi yang anda lakukan?”

“Di rumah sakit aku memandikan orang mati,” tuturnya. Namun dia melakukan hal tersebut untuk kebutuhan sihir.

Diantara kegiatan memandikan dia melakukan guna- guna. Salah satu syaratnya ada memasukan benda- benda ke dalam jasat. Seluruh perangkat sihir itu wajib dipendam bersama mayat. Suatu hari dia pernah melakukan ritual sihir tersebut kepada seorang Ulama.

Dimasukannya benda sihir ke mulut jasat tersebut untuk syarat. Tapi entah kenapa selalui terpental tidak dapat masuk. Karena sukar bercampur kesal dia memaksakan masuk. Disumpalnya mulut orang Sholeh tersebut. Karena tidak cukup kuat maka dijahitlah mulutnya hingga rapat.

Hanya itu dosa pernah dilakukan ibu Hasan disampaikan. “Hanya itu yang kalian jalani? Masya Allah. Saya tidak bisa membantu. Saya angkat tangan,” sang Ulama angkat tangan.

Kesimpulan terakhir hanyalah dia harus bertobat. Harus meminta ampun kepada Allah dan berserah diri. Karena akhirnya hanya Allah yang sanggup mengampuni. Sang Ulama undur diri tanpa bisa memberikan solusi konkret.

Tujuh hari selepas itu terdengar berita Ibu Hasan meninggal. Entah sudah bertobat ataupun belum namun semua tampak aneh. Atas Ijin Allah tanah untuk mengubur ibu selalu tertutup. Padahal sudah digali berulang kali, namun selalu merapat kembali seolah menolah jasat.

Anak Sholeh Memohonkan Tobat Ibu

Sudah diganti tempat masih terus menutup merapat. Kejadian tersebut sangat cepat seperti kilat. Hingga orang tidak sadar bahwa tanahnya merapat. Terus berulang kali membuat kebingungan pelayat ibu Hasan. Mereka yakin bahwa kejadian aneh mengerikan tersebut berhubungan.

Mereka meyakini bahwa ini azab Allah kepada ibu Hasan. Mereka hampir berputus asa untuk menguburkan. Namun sebagai Muslim mereka berkewajiban menguburkan. Hari semakin terik menuju sore tetapi jenazah belum dapat dikuburkan.

Mereka memutuskan meninggalkan jazat tersebut diatas tanah. Di tanah kering kerontang tersebut jenazah ibu terbengkalai. Hasan segera berlari mendekati janazah karena khawatirnya. Dia tidak tega meninggalkan tanpa menguburkan, tatapi tidak ada pilihan lain.

Sekembalinya Hasan seorang diri mengunjungi jenazah. Nampak seorang pria berbaju hitam khas Mesir disana. Siapakah pria tersebut Hasan sama sekali tidak tahu. Dia tidak nampak mukanya hanya jubah hitam panjang.

Pria tersebut mendekati Hasan dan meyakinkan dia. Bahwa jasat ibunya akan ditangani olehnya ke depan. “Saya tangani jenzah ibu mu, pulanglah!” tegasnya. Dia lega akhirnya ibu bisa dikuburkan dengan baik. Hasan berterima kasih tetapi diingatkan untuk segera pergi.

Dia berharap orang itu akan menggalikan lubang pemakaman. Namun sang pria kembali memerintahkan pulang. Setengah membentak dia melarang Hasan kembali ke situ. Tidak pula boleh menoleh ketika mulai meninggalkan mereka berdua.

Ketika hendak berjalan keluar pemakaman dia ingat satu hal. Hasan belum melihat terakhir kalinya jasat ibu Hasan. Ingin rasanya berbalik arah untuk melihat terakhir kali. Sedetik melihat ke belakang dia terkaget- kaget. Pucat muka Hasan melihat apa yang terjadi dihadapannya kini.

Jenasah ibu dibakar, tubuhnya terlilit api, dan apinya menyelimuti seluruh tubuh. Melihat penampakan horror tersebut Hasan bereaksi. Namun dari sisi lain bara api menyambar muka Hasan. Api itu seolah mengingatkan akan janjinya untuk tidak kembali.

Hasan akhirnya kembali dengan luka bakar diwajah. Sang Ulama lantas mendengarkan kisah Hasan tersebut. Dia menyarankan agar Hasan segera bersholat. Memohon ampunan kepada Allah dengan khusyuk. Dia harus memohon ampunan atas dosa- dosa ibunya tersebut kepada Allah.

Benar saja dari saran tersebut semua kembali semula. Bekas wajah hitam dipipi hilang tanpa bekas. Ulama tersebut bersyukur karena dia sudah sembuh. Ulama tersebut kemudian menyarankan Hasan rajin berdoa. Jadilah anak Sholeh mintalah ampunan agar ibunya bisa dimasukan ke surga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *