Hanzhalah bin Abu Amir Sahabat Nabi Dambaan Bidadari

syahidnya sahabat nabi hanzhalah

Kisah Sahabat Nabi dambaan bidadari karena keberaniannya. Beliau Hanzhalah bin Abu Amir, Sahabat Nabi yang wafat disaat Perang Uhud. Bagaimana Malaikat memandikan jenazah Beliau yang gugur. Dalam kesaksian Urwah RA, bahwa jazatnya dimandikan diantara bumi dan langit.

Sebuah tempat perak menampung jazat Sahabat Nabi Hanzhalah. Malaikat memandikan jenazah Beliau yang mati Syahid. Beliau menjadi satu diantara para Sahabat berjuang di jalan Allah. Peperangan panjang mencapai puncak perjuangan Beliau.

Tidak sedikit Sahabat gugur di medan pertempuran. Nama Hanzalah bin Abu Amir begitu terkenal karena kegagahan. Banyak sudah orang Quraish mati ditangan Beliau. Para bangsawan mati di peperangan tersebut diatas tanah suci Mekkah.

Sahabat Nabi Hanzhalah RA

Mereka, Kaum Quraish, sunggu membenci Hanzhalah karena keberaniannya. Kegagahan Hanzhalah membuat mereka terpuruk. Untuk menyiasati itulah mereka memilih menahan diri. Mereka tidak boleh menangis. Tidak boleh mereka terburu- buru menebus tawanan.

Sahabat Nabi Hanzalah berperang tanpa merasa takut. Beliau membuat Kaum Quraish marah dan sangat benci. Terlahir dari keluarga beragama, dan sudah menyadari akan kedatangan Rasulullah. Itu karena terlahir dari ayah seorang pendeta taat bernama Amru.

Ayahnya sudah mengetahui bahwa akan turun Nabi terakhir. Bahkan ketika orang bertanya tentang cirinya dia mampu menjawab. Sangat jelas apa yang diajarkannya merujuk Nabi Muhammad. Sayangnya, ketika Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasulullah, justru ayah Hanzhalah paling menolak.

Padahal ketika ditanya ketika itu, dia menjawab ketika Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wa Sallam, muncul maka dialah yang pertama akan beriman. Bahkan kemudian ayah Hanzhalah menjadi salah satu pembenci.

Hingga anaknya mendapatkan Hidayah dari Allah Subhanallahu Wa Taala. Ayah Hanzhalah tetap membenci Rasulullah entah kenapa. Sahabat Nabi Hanzhalah menjadi marah kepada ayahnya sendiri, karena menolak ajaran Rasulullah hingga hasud.

Amarah yang membuat darah naik turun karena menolak kebenaran. Puncaknya Hanzhalah meminta ijin untuk menghabisi. Namun Rasulullah melarang Hanzhalah menghabisi ayahnya sendiri. Keyakinan Beliau menjadi semakin besar, melihat kebenaran Islam dan watak Rasulullah yang welas asih.

Ajaran Islam yang benar membawa keyakinan mendalam. Beliau rela menghabiskan waktu belajar tentang Islam. Kemudian Beliau menikahi wanita bernama Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Saul. Yang mana merupakan anak dari sahabat ayahnya.

Istirnya anak dari tokoh munafik, berkata beriman, tetapi di hati penuh kekhafiran. Dia bahkan berpura- pura bersama Rasulullah ketika Perang Uhud. Bersembunyi ketika peperangan dimulai dan memilih kembali ke Madinah.

Padahal Madinah kala itu tengah bersiaga perang. Dimana Kaum Quraish, dibawah pimpinan Abu Shufyan, tengah mempersiapkan serangan besar- besaran. Walaupun begitu Hanzhalah tetap menikahi Jamilah dibawah situasi memanas.

Sahabat Nabi Hanzhalah Dambaan Bidadari Surga

Karena akan berperang dirinya harus menguatkan iman. Ketika esok harinya akan berperang, Hanzhalah tetap melamar kekasihnya Jamilah. Butuh keberanian dan keteguhan hati untuk tetap beriman. Esok harinya Perang Uhud dimulai, Hanzhalah meminta ijin untuk bermalam pertama.

Ketika harusnya meluangkan waktu penuh kebahagiaan di malam hari. Pasangan pengantin ini langsung dihadapkan kepada peperangan. Apapun bisa terjadi kepada pasangan ini jika perang dimulai. Hanzhalah berjanji tetap akan tegas menghadapi orang- orang Kafir.

Esok hari seruan Jihad berkumandang menandakan pagi. “Hayya ‘alal Jihad. Hayya ‘alal Jihad” Hanzhalah melepaskan pelukannya dari sang istri. Hatinya mantab berjuang dibayangi kematian. Sang istri hanya bisa mendoakan apakah menang, atau mati Syahid.

Berangkatlah Beliau dibawah kesedihan derai air mata istri. Hanzhalah berangkat ke medan perang tanpa ragu. Beliau berangkat mengangkat perlengkapan perang. Berangkat bersama Hamzah, Zubayr, dari Muhajirin dan Anshar.

Hanzhalah langsung menaiki kuda dengan gagah berani. Tali kekang diangkat dan kudanya melesat secepat kilat. Ditengah peperangan berkecamuk dia mengangkat pedang. Tangan kekar Hanzhalah menebaskan pedang, menebas mereka, musuh berguguran satu per- satu.

Takbir bersahutan mengangkat semangat pejuang Jihad. Berkali orang Quraish berusaha mengalahkan Beliau. Tetapi tidak satupun mampu menorehkan luka tajam ke tubuhnya.

Dari kejauhan Abu Sufyan melihat kegesitan Hanzhalah di medan perang. Dia mengingat bagaimana Hanzhalah menghabisi anaknya di Perang Badar. Dendam dan amarah hatinya mendidih. Sayangnya, dia tidak memiliki kekuatan, hingga datanglah dihadapan Abu Sufyan.

Hanzhalah sudah menghabisi semua tentara didepan. Abu Sufyan tertinggal sementara sisa pasukan melarikan diri. Ego Abu Sufyan kuat hingga mengangkat pedang melawan. Dia terpaksa melayani duel satu lawan satu dengan Hanzhalah.

Abu Sufyan tersungkur dari kudanya dan susah bangkit. Tebasan pedangnya tumpul tanpa kekuatan. Pedang Hanzhalah sudah siap menghabisi Abu Sufyan. Dalam keadaan genti terucaplah ucapan, “Hai orang- orang Quraish, tolong aku!”

Hanzhalah RA Gugur Di Medan Pertempuran

Tiba- tiba Syadad bin Al Aswad muncul entah dari arah mana. Dia memang sudah dipersiapkan menghadapi Hanzhalah. Tebasan terakhir Beliau dihentikan oleh Syadad bin Al Aswad. Disusul tebasan di tengkuk belakang tanpa peringatan.

Hanzhalah jatuh tersungkur karena diserang dari belakang. Para Sahabat Nabi lainnya segera sadar berlari menuju arahnya. Para Sahabat lain hendak menolong tetapi tidak cukup waktu. Semua seolah sudah direncanakan, tiba- tiba muncul gerombolan orang Quraish mengitari Hanzhalah.

Dihempaskan lah pedang- pedang mereka di tubuh Hanzhalah. Sang pejuang Syahid tersebut tidak bisa mengelak. Tubuhnya dicabik- cabik oleh tebasan banyak musuh. Dikroyok hingga nafas terakhirnya, inilah wafatnya Pejuang Allah, Beliau mati Syahid di medan pertempuran Perang Uhud itu.

Hujan turun disekitar tubuh Hanzhalah yang tergeletak. Meratakan semua hingga bersih darah dari tubuh Beliau. Air hujan lokal itu membasahi seluruh tubuh tanpa terkecuali. Terlihat bayangan putih turun bersama cahaya dari atas langit.

Begitu bersih sudah tubuh sang Syuhada, maka bayangan putih tersebut naik ke atas langit bersama cahaya. Para Sahabat membawa jenazah Beliau ke hadapan Rasulullah. Mereka mulai bercerita tentang pristiwa tersebut.

Rasulullah kemudian minta mereka memanggilkan istri Hanzhalah ke situ. Setelah istirnya tiba, Rasulullah kemudian bercerita perihal kejadian tersebut kenapa. Rasul bertanya,” apa yang telah dilakukan Hanzhalah sebelum kepergiannya ke medan perang?”

Istri Hanzhalah berucapa sambil pipi memerah, “Hanzhalah pergi dalam keadaan junub dan belum sempat mandi ya Rasulullah.”

Kemudian Rasulullah berucap kepada mereka yang hadir. “Ketahuilah oleh kalian. Bahwasannya jenazah Hanzhalah telah dimandikan oleh para malaikat. Bayang-bayang putih itu adalah istri-istrinya dari kalangan bidadari yang datang menjemputnya.”

Dengan malu-malu mereka (para bidadari) berkata; “Wahai Hanzhalah, wahai suami kami. Lama kami telah menunggu pertemuan ini. Mari kita keperaduan.”

Bersumber dari buku “Yas’alunaka Fiddiini wal Hayaah” yang diterjemahkan menjadi “Dialog Islam” karya Dr. Ahmad Asy-Syarbaasyi (dosen Universitas Al-Azhar, Cairo), Penerbit Zikir, Surabaya, 1997, cetakan pertama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *