Siapa Halimatu Sa’diyah Ibu Susu Nabi Muhammad

biografi halimatu sa'diyah

Siapa Halimatu Sa’diyah ibu susu Nabi Muhammad. Agama Islam menceritakan tentang Beliau. Tetapi tidak banyak diketahui latar belakangnya. Inilah biografi Halimatu Sa’diyah, dimulai dari keluarga dan tempat kelahiran serta hubungannya dengan Rasul.

Hidup Beliau memberikan contoh ikatan keluarga. Islam mengajarkan keluarga jauh daripada sebatas ikatan darah. Kiatan susuan sangat kuat dalam pembelajaran Islam. Ambil contoh seseorang yang satu sususan dilarang menikah.

Kita menyebutnya Umm Ridah atau ibu susuan atau ibu angkat. Suami dari wanita ini dianggap ayah dari anak yang disusui. Anak kandungnya dilarang menikah dengan anak susuan. Dalam Hukum Islam juga memberikan hak kepada ibu susu terhadap anak susuan.

Anak susuan adalah saudara kandung anak ibu asli. Sementara dalam Agama lain, tidak ada hukum lengkap dibanding menjadi Muslim.

Biografi Halimatu Sa’diyah dan Nabi Muhammad

Sudah menjadi hal lumrah untuk menyusui bayi. Para wanita datang ke Kota Mekkah, untuk mengambil bayi susuan untuk anak yatim. Siapa Halimatu Sa’diyah, adalah dari khabilah Banu Saad, yang beruntung mengambil Nabi Muhammad untuk disusui.

Halima mendapatkan bayi paling mulia di dunia. Sementara yang lain memilih anak dari orang kaya. Ayah Nabi Muhammad, Abdullah, meninggal ketika Beliau dilahirkan. Dalam sekejap air susu Halima mengalir deras, memenuhi haus bayi kecil suci dan membawa Beliau.

Sesampai di rumahnya air susu tidak berhenti mengalir. Ketika sampai di rumah kambing- kambinya sama. Mereka menghasilkan banyak susu untuk satu keluarga. Halima menyadari bahwa ini bukanlah bayi biasa; melainkan sudah seperti Malaikat.

Halima Saadia (nama dalam Arab) merupakan putri Abdullah bin Harith, dan istrinya Harith Abu Zowaib. Di rumah dia memiliki putri bernama Shaima dan putra, Abdullah. Shaima sendiri berumur sekitar lima tahun. Dia sering membantu ibunya menjaga Nabi Muhammad.

Shaima biasa memandikan Nabi Muhammad, mengajaknya bermain, dan semua penuh rasa cinta. Dia menjadi saksi bagaimana rumah mereka berubah. Semenjak datang bayi Beliau, maka rumah yang miskin itu berubah menjadi serba kecukupan dan penuh kedamaian.

Dia senang bernyanyi dan diselipi doa sambil merawat Rasulullah, “Ya Rabb, Jagalah Muhammad tetap hidup bersama kami, hingga aku bisa melihat dewasanya, hingga menjadi pemimpin. Melawan musuh- musuhnya dan mereka yang iri, dan berikanlah kemenangan tiada terputus.”

Tiada terasa sudah 24 bulan berlalu Rasul tinggal. Ibu Rasulullah, Ibu Aminah, sering datang mengunjungi dan menunjukan waktunya. Sudah saatnya Beliau kembali ke ibunya bersama ke Mekkah. Shaima sangat kaget mendapati akan kehilangan bayi Nabi Muhammad SAW.

Halima merasa berat tetapi harus mengikhlaskan. Ibu Aminah merasakan cinta tulus dari keluarga tersebut. Maka diijinkan Nabi Muhammad untuk tinggal dalam Khabila Banu Saad. Mereka tinggal bersama di sebuah kawasan dekat Kota Taif, Saudi Arabia.

Kelurga Susuan Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasalam

Umur lima tahun barulah Nabi Muhammad kembali ke Mekkah. Ibu Aminah hanya merawat Beliau sekitar setahun lagi. Kemudian Rasulullah diserahkan ke Bani Najjar, yang masih keluarga, Nabi Muhammad tinggal bersama mereka di Kota Madinah dan wafat.

Ibu Aminah wafat ketika kembalinya dari Madinah, di tempat yang bernama Abwa. Beliau tumbuh bersama kakeknya, dan pamannya, Abu Thalib. Beliau tumbuh menjadi orang yang penuh integritas. Mendapatkan gelar amanah karena kejujuran Beliau.

Ketika peperangan Hunain, ada 6000 orang dibebaskan dari tahanan, semua karena Rasulullah merupakan saudara susuan Beliau.

Kisahnya dimulai dari Bani Hawazen berencana menyerang Mekkah. Mereka kalah telah dalam peperangan Hunain. Ada 6000 tahanan, baik pria dan wanita, dengan 24.000 unta dan 40.000 kambing di Jiraini, ditangan Umat Muslim.

Dalam tahanan ini seorang wanita berumur 60 tahunan. Beliau mengaku sebagai saudara perempuan Nabi Muhammad. Wanita tersebut Shaima kemudian diantar ke hadapan Rasul. Wanita tersebut bersama Nabi Muhammad SAW berbincang.

“O, Nabi Allah, aku Shaima, adik kecil susuan mu, putri dari Abu Kabsha dan Halima Saadi bint Zuwaib,” Beliau berkata.

Nabi Muhammad lantas mempersilahkan wanita itu duduk. Shaima lantas bercerita tentang tingkah Beliau. Nabi Muhammad kecil pernah menggigit lengan Shaima; dan membekas hingga sekarang. Rasulullah mengingatnya dan menangislah Beliau dihdapan Shaima.

Shaima kemudian memeluk Islam, dikembalikan ke Khabilah, dan terbebas sudah. Nabi Muhammad juga memberika seorang pelayan, beberapa unta, dan kambing sebagai hadiah. Kemudian datanglah 14 delegasi dari Banu Saad dan Hawazen menyampaikan proposal.

Dalam proposal tersebut untuk membebaskan tawanan. “Diantara tahanan itu ada ibu susuan dan saudara perempuan susuan anda; mereka merawat anda dan menggendong anda dalam lindungan. Kami tau anda merupakan anak susuan, anak sapihan, muda jujur dan bijaksana.”

“Dan sekarang anda tumbuh dengan kebanggan ini, menjadi paling mulai diantara kita, bahkan Rabb telah mengangkat anda.”

Dalam perkataan tersebut dibebaskanlah 6000 tahanan. Kenapa? Karena mereka merupakan saudara sesusuan Nabi Muhammad dari kedua wanita itu. Bahkan mereka diberikan hadiah dan akhirnya sebagian masuk Islam.

Mereka yang menghormati Halimatu Sa’diyah dan Shiama bint Harith. Mereka merupakan tonggak dalam Khabilah tersebut. Banyak anak dan saudara susuan menjadi orang penting di sana. Tanpa disadari ini menjadi kunci berhentinya peperangan antar Khabilah.

Nama Halimatu Sa’diyah menjadi harum sebagai contoh. Beliau menjadi contoh seorang wanita yang mulia. Dari tangannya lahirlah Nabi Muhammad berakhlak mulia. Juga anak- anak lain yang butuh bantuan, kasih sayang, dan pendidikan usia dini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *