Kisah Pembebasan Palestina Yarusalem Umar Bin Khattab

masjid umar bin khattab

Kota Yarusalem merupakan kota penting bagi tiga Agama. Kisah pembebasan Palestina Yarusalem amat panjang. Umar bin Khattab sendiri pernah membaskan tanah ini dalam naungan Islam. Pentingnya tempat ini untuk Islam sudah tercatat baik dalam Al Quran dan Hadist.

Walaupun begitu berulah di jaman Khalifah Umar kembali. Kota ini merupakan tempat para Nabi tinggal. Dari Nabi Sulaiman, Nabi Daud, dan Nabi Isa, dan diklaim Yahudi sebagai tanah mereka.

Yahudi atau Bani Israil merupakan asal banyak Nabi dan Rasul. Jadi mereka merasa yakin bahwa tanah itu merupakan hak mereka. Tetapi Demi Allah, tanah Yarusalem telah terpatri dalam Islam dari semenjak dijadikan kiblat oleh Rasulullah SAW.

Nabi Muhammad pernah datang ke sini. Dalam satu perjalanan menakjubkan bernama Isra Miraj. Dari Mekkah menuju Yarusalem, dari Yarusalem naik ke atas, Sidratul Muntaha. Ketika Islam sudah stabil di tanah Mekkah dan Madinah, Yarusalem berada di tangan Bizantium.

Umar bin Khattab di Tanah Palestina

Kekuasaan Bizantium tidak menginginkan Agama baru masuk. Islam dianggap baru dari luar kekuasaan mereka. Asing padahal dekat karena Islam sudah dikabarkan dalama Agama Kristiani. Bizantium sendiri tidak merasa harus memerangi kepemimpinan Rasulullah SAW di Madinah.

Hingga, pada Oktober 630M, Nabi Muhammad SAW nampak membawa 30.000 pasukan ke Tabuk. Perbatasan antara Madinah dan kekuasaan Kekaisaran Bizantium.

Ekspedidi Rasulullah ke sana menjadi babak baru di masa depan. Tidak terjadi kontak militer. Tanpa ada peperangan terjadi sekalipun. Masa pemerintahan Abu Bakar ash Siddiq, hubungan tidak menegang ataupun berkembang ke kembalinya Yarusalem ke pangkuan Islam.

Pada masa Umar bin Khattab, barulah ekspedisi giat dilakukan ke utara termasuk Bizantium. Pasukan khusus yang dipimpin orang- orang hebat, seperti Khalid bin Walid dan Amr bin Ash, berjalan berhadapan dengan Kekaisaran Romawi.

Jatuhlah beberapa kota milik Bizantium, seperti Suriah dan Damaskus, jatuh ke pangkuan Islam. Hingga datanglah mereka ke tanah Palestina, walaupun berbeda keyakinan, baik Yahudi dan Kritiani menyambut Islam, bahkan Ortodok yang yakin Nabi Isa AS adalah Tuhan membuka tangan.

Tahun 637M, pasukan dibawah kedua Sahabat telah tiba di depan Kota, dan mereka berhadapan dengan Uskup Sophorinius, sebagai perwakilan kekuasaan Bizantium menolak menyerah.

Kisah Penaklukan Palestina Yarusalem Tanpa Pertumpanah Darah

Uskup menolak masuknya pasukan Islam ke kota. Juga menolak beperang berpegang tegus untuk tidak menyerah. Pasukan Islam memberikan opsi penyerahan secara damai. Uskup Sophorinius setuju tetapi meminta permintaan khusus, yakni hadirnya Khalifah Umar bin Khattab sendiri.

Mendengar hal tersebut Khalifah Umar segera berangkat. Berangkat sendiri mengendarai keledai, hanya ditemani seorang penjaga. Setibanya disana, Khalifah segera disambut Uskup Sophorinius, dan menunjukan keadaan Kota Yarusalem lebih dekat.

Akhlak Khalifah Umar bin Khattab dianggap sangat baik. Uskup kagum dengan ketegasan Beliau. Tetapi tetap teguh pendirian dan memiliki dasar kuat untuk Yarusalem. Pakiannya sederhana dibanding kepemimpinan Bizantium, yang barang tentu penuh dengan kegelamoran khas Kekaisaran.

Dijaknya Beliau hingga di depan Makam Suci. Menurut kepercayaan Kristen disinilah Nabi Isa disemayamkan. Saat waktu Sholat tiba, Uskup mempersilahkan Khalifah untuk Sholat di dalam gerejah; tetapi Beliau menolak.

Alasannya bukan karena tidak diperbolehkan di Islam. Namun Beliau menyampaikan rasa takut, bila Beliau Sholat di geraja, maka Umat Islam akan merubah tempat tersebut menjadi Masjid.

Beliau takut mendzalimi hak Umat Nasrani di Palestina. Khalifah justru Sholat di luar gereja, hingga tempat tersebut dibangunkan menjadi Masjid bernama Masjid Umar bin Khattab.

Ketika sudah Yarusalem ditangan Umat Islam tidak serta merta. Tidak ada kedzaliman melainkan perjanjian. Bahwa Umat Islam dan non- Muslim harus saling menjalankan hak dan kewajiban sesuai perjanjian bersama tersurat.

Khalifah Umar menjanjikan atas jiwa, harta, gereja, salib, dan orang- orang yang lemah. Walaupun sudah ditangan kepemimpinan Islam. Orang Yarusalem tidak diwajibkan pindah Agama. Tidak ada satupun terancam dan diusir keluar dari Kota Yarusalem.

Namun dalam satu tambahan bahwa tidak ada orang Yahudi. Mereka dianggap musuh karena merusak ketenangan. Oleh penduduk Yarusalem, bahkan orang Kritiani, menyebut mereka suka membunuhi mereka (Umat Kritiani) di tawanan Persia.

Islam Merupakan Rahmat Bagi Siapapun

Islam berbeda dengan Yahudi yang menolak perbedaan. Islam memberikan kebebasan sesuai hak dan kewajiban. Salah satu kewajiban yaitu membayar pajak kepada Pemerintahan Islam. Sementara jika ada yang mau tinggal bersama Bizantium, diperbolehkan keluar dengan aman.

Mereka bahkan diperbolehkan kembali. Jika mereka merasa Yarusalem dibawah Islam lebih baik. Para penduduk Yarusalem ini diperbolehkan kembali ke tempat kelahiran mereka ini.

Walaupun terdapat perjanjian soal pengusiran Yahudi. Oleh beberapa ahli meragukan hal tersebut. Karena faktanya pemandu Khalifah di Yarusalem adalah Yahudi. Pria bernama Kaab al Ahbar, dimana Beliau mengijinkan Yahudi beribadah di sana.

Waktu kekuasaan Bizantium, Yahudi dilarang mendekati Kuil Sulaiman dan Tembok Ratapan. Pada zaman Bizantium orang Kritiani diberikan pembatasan- batasan. Begitupula orang Yahudi diberikan batasan beribadah di Yarusalem.

Islam tidak melarang tetapi menata ulang Yarusalem. Kisah penaklukan Palestina Yarusalem lebih tepatnya penataan. Dikembalikan fungsinya sebagai Negara berdaulat dalam Islam. Bagi yang memaksa orang masuk Islam akan diberikan hukuman, dan tidak ada pelarangan Ibadah.

Islam menjanjikan wilayah beribadah sesuai kebutuhan masing Agama.  Area Kuil Sulaiman, dimana di sana Rasulullah naik ke langit, dibersihkan dari muntahan dan sampah dari Umat Kritiani. Mereka sangat membenci Yahudi tetapi diakurkan oleh peran Khalifah Umar bin Khattab.

Beliau mengajak pasukan bersama beberapa Yahudi. Mereka membersihkan komplek Ibadah. Termasuk membersihkan Masjidil Aqsa, agar nyaman menjadi tempat Ibadah Umat Muslim.

Bahkan pada masa Khalifah Umar hingga Umayyah, menjadikan Yarusalem sebagai pusat perdagangan dan ziarah. Tiada pertumpahan darah ataupun saling berperang kembali.

Tahun 2012, ketika konflik Islam,  Kriten, dan Yahudi memuncak. Penduduk Yarusalem meminta pakta Khalifah Umar dikembalikan. Mereka merasa lebih nyaman menjadi penduduk ketika perjanjian tersebut ada.

Sebagai catatan Yahudi penduduk asli Yarusalem, mayoritas menolak mentah Isreal karena bukan Yahudi (mereka). Bersama Islam, Kriten, dan Yahudi asli Yarusalem telah merasa aman menjalankan Ibadah mereka di sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *