Hukum Batal Wudhu Ketika Thawaf Haji Umroh

hukum wudhu thawaf

Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh peserta Umroh. Bagaimana jika seorang wanita bersentuhan ketika Thawaf. Disini utamanya, bagaimana ketika bersentuhan antara laki- laki dan perempuan bukan mahram. Banyak pendapat Ulama disini menyampaikan.

Utamanya tentang kemungkinan yang tidak bisa dihindari. Ibadah Thawaf merupakan salah satu ibadah inti. Dimana kita mengelilingi Ka’bah selama tujuh kali. Disini bercampur tidak hanya wanita. Tidak adanya garis pembatas mungkin menjadi kesulitan.

Beberapa ulama menyatakan bahwa bersentuhan kulit membatalkan. Walau secuil bersentuhan membatalkan wudhu kita. Bersentuhan kulit bukan mahram walau sedikit membatalkan wudhu.

Pemahaman tersebut disebut pemahaman hakiki. Sementara Ulama lain menggunakan pemahaman maknawi. Bahwa bersentuhan kulit tidak langsung membatalkan wudhu. Menurut pandangan ini bahwa yang menyentuh batal. Sedangkan orang yang disentuh tidak akan batal wudhu.

Berhati- Hati Ketika Thawaf

Kalau berbicara Thawaf maka akan menjadi perbedaan lagi. Situasi berdesakan memungkinkan terjadi sentuhan. Namun dapat dihindari dengan pakaian yang tertutup aurat baik. Ada Hadist sendiri yang menceritakan bagaimana Rasulullah mebai’at wanita.

Dari asy-Sya’bi bahwa Nabi saw. ketika membai’at kaum wanita beliau membawa kain selimut bergaris dari Qatar lalu beliau meletakkannya di atas tangan beliau, seraya berkata, “Aku tidak berjabat dengan wanita.” (HR Abu Daud dalam al-Marasil)

Dalam Hadists lain bagaimana Rasulullah membai’at tanpa menyentuh. Sama sekali tanpa bersentuhan juga bisa dilakukan. Namun kembali ketika Thawaf apakah mungkin ada keringanan. Mengikuti pendapat Ulama juga tidak serta merta. Perbedaan Mazhab menjadi alasan, oleh karena itu menghindari adalah keharusan.

Menurut pendapat Mazhab Imam Hanafi. Bahwa ketika Rasulullah SAW pernah mencium Aisyah R.A, bisa langsung sholat tanpa wudhu kembali. Bersentuhan kulit tidak membatalkan wudhu jika mahram. Mangkanya ketika beribadah baiknya anda berada didekat mahram anda.

Imam Maliki berpendapat jika tanpa syahwat tidak batal. Sementara pendapat Imam Syafi’i, apapun keadaan bersentuhan kulit membatalkan. Apapun keadaan kamu ketika Thawaf maka ulangi wudhu. Oleh karena itu pihak travel membentuk kelompok baik laki- laki dan perempuan terpisah.

Bagaimana jika bersentuhan tidak sengaja. Ditambah tidak tau apakah yang menyentuh laki- laki atau perempuan. Menurut mazhab Hanafi maka tidaklah batal wudhu. Selama ada keraguan siapa menyentuh anda, apakah laki- laki atau perempuan maka wudhu tidak batal.

Pendapat Ulama Tentang Thawaf

Menurut Imam Nawawi masalah Thawaf hal ini sulit dihindari. Tetapi baiknya menjadi kesadaran masing- masing Muslim. Untuk laki- laki janganlah mendesak ke barisan perempuan. Begitupula sebaliknya perempuan berkumpulah bersama sesama.

Oleh karena itu dirilah kita yang memahami keadaan. Ingat anda jangan mengambil yang mudah. Tidak boleh menggabungkan mazhab untuk kemudahan sendiri. Pertanyaan lain timbul mengenai Thawaf dan bersentuhan bukan muhrim.

Menurut pendapat Ulama kembali terjadi perbedaan. Apakah ibadah Thawaf merupakan satu utuh atau dapat dipisahkan. Jikalau merupakan ibadah utuh maka harus mengulang. Jika anda batal wudhu ditengah Thawaf apapun penyebabnya, ulangi dari hitungan awal.

Pendapat lain bahwa ibadah berdiri sendiri. Jika batal wudhu cukup menyempurnakan putaran Thawaf. Menurut Syeh Sulaiman Ar Ruhaili berkata bahwa ibadah Thawaf kesatuan. Seperti halnya hitungan rakaat Sholat tidak diputus.

Perkataan Syeh diperkuat dengan Hadists Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wa Sallam sendiri:

“Thawaf di ka’bah adalah shalat. Hanya saja Allah memperbolehkan berbicara di dalamnya. Maka barang siapa berbicara saat towaf, janganlah berbicara kecuali pembicaraan yang baik.” (HR Tirmidzi dan Daraquthni).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *