Menjamu Rasulullah Ketika di Madinah

kisah abu ayyub

Semua orang terpanggil termasuk Abu Ayyub, berebut menjamu Rasulullah ketika di Madinah. Tibanya Beliau dan Abu Bakar disambut suka cita. Penduduk Madinah berlomba- lomba menyuguhkan yang terbaik.

“Rasulullah, tinggalah bersama saya,” ucapan- ucapan itu terdengar selalu. Mereka berlomba menawarkan jamuan terbaik. Penduduk Madinah berlomba menunjuk- nunjuk rumah paling bagus dan pantas.

“Rumah saya sangat layak ditinggali Rasulullah,” ucap seseorang. Disusul ucapana lain, mereka saling membanggakan tempat tinggalnya, makanan dan minuman terbaik yang bisa dihidangkan, dan semua khusus bagi Baginda Rasulullah Salallahu Alaihi Wa Sallam.

Bukan hanya orang biasa tapi para pembesar Madinah. Mereka membujuk semenarik mungkin agar Rasulullah tinggal. Pokoknya beradu cepat dan tepat menarik perhatian Rasulullah, tujuannya untuk tinggal bersama mereka.

Abu Ayyub Menjamu Rasulullah di Madinah

Nabi Muhammad SAW yang berakhlak mulia, beliau sadar bahwa bisa terjadi perpecahan. Karena hal sepele pembesar Madinah bisa saling bermusuhan. Atau diantara mereka akan saki hati yang terbawa sampai ke depannya.

Di detik- detik itulah Beliau menebarkan senyum terindah, kemudian melepaskan pelanan untanya. Beliau bersabda, “biarlah unta ini memilih tempat tinggal untukku. Biarkan ia berjalan.”

Para pembesar Madinah setuju, mereka kagum akan kharisma Rasulullah SAW, alhasil mereka tidak berkeberatan dengan ide tersebut. Unta itu kemudian melangkah berjalan lambat. Mereka yang melihat cuma bisa berharap unta itu berhenti di rumah mereka.

Alangkah senang jika rumahnya ditempati manusia paling agung. Suasana hening karena semua mata tertuju ke unta. Hingga sang unta nampak akan berhenti di depan sebuah rumah. Sungguh senang hati Abu Ayyub ketika unta itu berhenti tepat di depan rumahnya.

Abu Ayyub hanyalan orang biasa yang sederhana. Jika dibanding para pembesar Madinah rumahnya biasa. Dia tidaklah kaya maupun berpengaruh. Bukan siapa- siapa tetapi itulah ketetapan Allah, yang mana tepat berdiri di depan rumah yang tidak megah maupun reyot.

Bagianya kedatangan Rasulullah begitu besar untuk penduduk Yastrib. Apalagi jika Beliau akan tinggal menetap di dalam rumahnya.

Orang Datang Menemui Rasulullah

Semenjak Nabi Muhammad SAW berada di rumah Abu Ayyub. Tempat itu begitu ramai didatangi masyarakat Madinah. Datangnya mereka untuk menimba ilmu, mendengarkan isi Al Quran, mendengarkan nasihat bijak, dan memetik apa yang bermanfaat dari Kekasih Allah itu.

Seorang remaja pendiam datang, perangainya sopan yang menjadi pertama mengetuk rumah Abu Ayyub. Dia bernama Zaid bin Tsabit, datang membawa semangkuk roti berkuah susu dan minyak samin sebagai jamuan kepada Rasulullah SAW.

“Duhai Rasulullah, terimalah roti ini dari ibu saya,” tutur Zaid bin Tsabit, yang kala itu masih berumur 11 tahun.

Rasulullah SAW menerima mangkuk itu, Beliau pun mendoakan keberkahan kepada Zaid bin Tsabit. Dari doa Rasulullah maka tumbuhlah anak itu menjadi terpandang. Dia tumbuh menjadi sosok cerdas, yang cakap dalam membaca, menulis dan menghafal.

Kepandaian literasi Zaid lah yang membawanya dipercaya. Nabi Muhammad SAW mengangkat Beliau menjadi sekertaris. Ditugasi untuk menuliskan ayat- ayat Al Quran yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, yang hidupnya dihabiskan untuk berkhidmah kepada Al Quran.

Datangnya Zahid disusul para Sahabat datang silih berganti. Tidak kurang tiga sampai empat mangkuk makanan disugguhkan kepada Rasulullah SAW. Mereka orang Anshar penduduk Madinah sangat bersuka cita karena datangnya Beliau.

Rasulullah tidak menolak makanan apapun disuguhkan. Beliau makan sedikit kemudian diberikan kepada orang sekitar. Rasulullah mengajak semua orang bersama- sama menikmati makanan, berbagi makanan menjadi watak Beliau yang mulia.

Berbeda dengan kita yang menghabiskan makanan, atau membuang- buang makanan sisa. Penduduk Madinah seolah bersaing melayani makan Beliau, satu piring diangkat sudah datang satu lagi dibawahnya.

Sementara itu mereka yang mendapatkan piring dari Rasulullah. Mereka senang karena bisa makan dari jari Rasulullah. Salah satunya Abu Ayyub yang ikut berlomba mendapatkan suguhan. Seperti hari biasanya, Abu Ayyub juga menyuguhkan makanan kepada Baginda Nabi juga.

Tetapi, tidak seperti hari biasa, makanan yang dibawa Abu Ayyub tidak disentuh sama sekali. Dia merasa sedih, kaget, kemudian bertanya dalam hati.

“Apakah Nabi tidak lagi menyukai makananku atau bahkan tidak lagi mengasihiku?”

“Wahai Rasulullah, demi ayahku, engkau, dan ibuku, mengapa kaukembalikan makananku tanpa ada sedikit pun bekas tanganmu?” Abu Ayyub bertanya.

Beliau pun menjelaskan alasan kenapa tidak makan. Rasulullah bertanya apakah ada bawang. Karena tercium bau bawang di mangkuk makanan itu. Bukan menolak pribadi Abu Ayyub, hanya bau bawang akan menganggu tugas penjaga wahyu.

“Aku khawatir (bau itu) akan menganggu penjaga wahyu. Jika kalian, makanlah,” ucap Rasulullah menenangkan Abu Ayyub.

Tujuh bulan Rasulullah tinggal di rumah milik Abu Ayyub. Di tempat itu dimana rencana mengenai Madinah dibuat. Beliau juga mengkonsep Masjid Nabawi di sana. Sedangkan ke depannya Beliau tinggal di sebuah rumah yang dibangun di dekat Masjid Nabawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *