Perisai Nabi Saad bin Muadz Pria Sejati Diantara Pejuang

pernikahan sahabat nabi

Kekuatan Saad bin Muadz ditunjukan bukan hanya fisik. Perisai Nabi Saad bin Muadz pria, merupakan pria sejati diantara pejuang. Selain membela Nabi Muhammad sejak awal masuk Islam. Beliau sampai akhir hayatnya lebih mendahulukan Rasulullah dibanding yang lain.

Beliau masuk Islam melalui Mu’sab ibn Umair. Dari Beliau lah orang- orang lain dari bagian Bani Aus, Banu Abdul Ashhal. Dalam ceritanya ketika Beliau menaruh tombaknya, ketika Rasulullah datang bersama mereka yang mengikutinya untuk menemui Banu Abdul Ashhal.

Kisah Sahabat Nabi Saad bin Muadz

Mu’sab kemudian bertanya apa yang akan dia dilakukan? Dia melihat orang- orang Madinah memilih masuk Islam. Maka Saad menemui Rasul, sekembalinya wajahnya berubah dan berkata bahwa:

“Saya tidak akan berbicara dengan laki- laki atau perempuan sampai dia beriman kepada Allah dan Rasul -Nya.”

Bagi orang Ashhal, sosok Saad merupakan pemberani, paling dipercaya diantara orang- orangnya, dan yang memiliki peniliain terbaik. Maka ketika Saad sudah masuk Islam, semua orang dari Banu Abdul Ashhal mengucapkan Syahadat.

Siapakah sosok Sa’ad banyak cerita mengenai Beliau. Menurut sebuah artikel dia hanyalah seorang mantan budak. Kulitnya sangat hitam bahkan lebih hitam dari Bilal bin Rabah. Umurnya 31 tahun ketika masuk Islam dan telah bebas menjadi orang merdeka.

Ketika Rasulullah pindah ke Madinah, kehidupan bagi Umat Islam telah berbeda. Mereka diterima oleh sebagian besar penduduk Madinah. Maka Sa’ad mulai berpikir untuk menata hidup. Beliau ingin memiliki istri dan keluarga sendiri.

Meskipun ingin menikah tidak ada yang mau. Setiap kali Beliau melamar sang wanita atau keluarganya menolak. Oleh karenanya Saad merasa sangat kecewa. Beliau pun mencurahkan isi hatinya kepada Rasulullah untuk mencari solusi.

“Apakah saya begitu rendah untuk semua lamaran saya ditolak?” Saad bercerita kepada Rasul SAW.

Kemudian Rasulullah meminta Sahabat untuk mencarikan wanita. Bukan sembarang wanita melainkan yang cantik di Madinah. Setelah menemukan Saad dan beberapa Sahabat berangkat ke rumahnya.

Rasul meminta Sahabat melamarkan atas nama dirinya. Tibalah mereka di sebuah rumah untuk melamar. Para Sahabat diterima sangat baik oleh pemilik rumah. Ayah sang wanita menjamu mereka dan meminta ada alasan apa mereka datang ke rumahnya.

Awalnya ayah sang wanita berpikir Rasulullah lah sendiri. Beliau yang akan melamar putrinya. Tetapi ketika Saad berkata bahwa dirinya yang melamar. Sang ayah marah bahkan menghina Saad untuk ketidak maluannya.

Sekali lagi Beliau merasa bersedih karena penolakan. Saad mengadu kepada Rasulullah SAW. Di tempat lain, sang wanita mengatakan bahwa lamaran tersebut telah dijamin Rasulullah SAW dan atas keinginan Allah SWT atas diri Saad.

Sang ayah mendapatkan pukulan karas mendengar itu. Dia menyadari kesalahannya dan berlari mencari Saad bin Muadz. Dia ingin meminta maaf, dan di depan Rasulullah SAW sendirilah lamaran Sahabat Nabi Saad bin Muadz diterima.

Rasulullah Muhammad meminta Saad untuk meminjam uang dari Abdul Rahman bin Auf, Ali bin Abi Thalib, dan Usman bin Affan untuk membeli keperluan pernikahan. Ketika menjalankan pernikahan, Saad mendengar Rasul menyerukan berjihad karena musuh telah menyerang kita.

Bukannya membeli perlengkapan pernikahan dulu. Beliau malah membeli pedang, pakaian perang, dan perisai. Bukannya menjalankan pernikahan Beliau memilih berjihad. Saad bahkan berdiri di barisan paling depan para pejuang Allah.

Dengan kebesaran Allah SWT, Beliau menjadi yang terdepan melindungi Rasulullah SAW, menjadi perisai Nabi Saad bin Muadz tidak dikenali. Berpakian baju besi, perisai dan pedang, tetapi sosoknya tidak dikenali bahkan diantara para Sahabat lain yang berada di depan.

Ketika Beliau ditakdirkan wafa di medan peperangan. Para Sahabat tidak mengenali hingga jazatnya ditemukan. Diantara baju jirah dan perisai, diantara jenazah pasukan dan musuh, terlihat sosoknya akhirnya dikenali sebagai Saad bin Muadz.

Siapa mengira pria yang akan menikah itu pergi berperang. Berita wafatnya Beliau sampai ke telingan Rasulullah SAW, dan Beliau bersabda dengan penuh kesedihan.

“Di saat meninggalnya, Singgasana Allah bergetar dan seketika para malaikat di langit dan bumi menangis,” untuk Saad bin Muadz, pria yang baru enam tahun memeluk Islam ketika usianya sudah 37 tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *