Info Badal Haji Orang Tua yang Sudah Meninggal

hukum badal haji

Pengertian Badal Haji ialah menghajikan untuk orang lain. Apakah hukum Badal Haji orang tua yang sudah meninggal. Lantas apakah mungkin membadalkan orang tua yang masih hidup. Serta beberapa pertanyaan lain yang mungkin anda miliki tentang Haji.

Semoga artikel info Badal Haji orang tua ini, akan membukakan sedikit pemahaman mengenai cara Ibadah Haji tersebut.

Badal Haji secara Ilmu Fiqih, yang tertulis utamanya dalam kitab seperti Al Hajju ‘Anil Ghair, atau berhaji untuk orang lain. Disini seseorang akan melakukan semua rangkain Ibadah. Hanya diniatkan pahalanya untuk orang lain, dan tidak terbatas kepada mereka yang sudah meninggal.

Hadist- Hadist Badal Haji

Sumber dasarnya para Sahabat yang membadalkan keluarga. Itu sudah direstui atau diamini sendiri oleh Rasulullah SAW. Ada satu Hadist Sahih yang menceritakan seorang wanita yang kebingungan. Karena ibunya bernzar untuk berhaji namun meninggal duluan.

Sang wanita lantas bertanya apakah boleh diwakilkan. Dan Rasulullah SAW menjawab bahwa wajib diwakilkan. Karena Beliau mangatakan bahwa hutang nazar itu wajib. Bayarlah hutang kepada Allah SWT lebih utama dibandingkan tidak dilaksanakan.

Dalam Hadist lain lebih jelas mengenai hukum Badal. Dimana seseorang bertanya mengenai ayahnya yang sakit. Apakah boleh ia mewakilkan untuk menjalankan Ibadah Haji. Jawabanya boleh karena sang ayah sudah tidak mungkin lagi melakukan.

Berikut Hadist mengenai Badal Haji:

Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainnah datang kepada Nabi SAW dan bertanya: Sesungguhnya ibuku nadzar untuk haji, namun belum terlaksana sampai ia meninggal, apakah saya harus melakukah haji untuknya?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, bagaimana pendapatmu kalau ibumu mempunyai hutang, apakah kamu membayarnya? Bayarlah hutang Allah, karena hutang Allah lebih berhak untuk dibayar.” (HR Bukhari).

Seorang wanita dari Khats`am bertanya, Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah mewajibkan hamba-nya untuk pergi haji, namun ayahku seorang tua yang lemah yang tidak mampu tegak di atas kendaraannya, bolehkah aku pergi haji untuknya? Rasulullah SAW menjawab, Ya (HR Jamaah)

Hukum Menurut Para Ulama

Jumur Ulama meyakini berdasarkan dalil diatas: Bahwa membadalkan Haji diberbolehkan. Bahkan yang membolehkan bukanlah sembarangan. Seperti Ibnul Mubarak, Al Imam Asy Syafi’i, Al Imam Abu Hanifah, dan Al Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahumullah.

Sayarat seseorang membadalkan untuk orang lain. Sesuai Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Bahwasanya ada seseorang yang tengah menghajikan orang bernama “Syubrumah”. Ketika Rasulullah mendengar itu, kemudian Beliau bertanya kepada pria tersebut siapakah gerangan itu.

Orang tersebut kemudian menjawab “Saudara ku”, maka Rasulullah SAW bertanya kembali apakah dirinya sudah berhaji. Pria tersebut menjawab bahwa dirinya belum berhaji. Maka Rasulullah SAW memerintahkan pria tersebut untuk berhaji dahulu, barulah tahun depan untuk saudaranya.

Siapapun diperbolehkan tidak harus orang tua kandung, tidak pula harus sama jenis kelamin, dan tidak haru yang sudah meninggal. Baik- buruknya Ibadah ditentukan oleh Allah SWT dari anda, maka lakukan yang terbaik ketika anda mewakili seseorang menyempurnakan Rukun Islam.

Wallahu A’lam Bishshawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *