Sejarah Kenapa Ada Berhala di Ka’bah

sejarah kenapa berhala di ka'bah

Menurut cerita yang pernah kami sampaikan terdahulu. Ada alasan kenapa ada berhala di Ka’bah. Dulu bangunan ini bersih hanya ada bangunan Ka’bah. Para pendatang pun datang untuk melakukan Thawaf, semua sesuai tuntunan Nabi Ibrahim AS dan disempurnakan Rasulullah SAW.

Salah satu cerita kenapa ada berhala di Ka’bah. Walaupun tidak semua karean ada beberapa cerita lain. Yakni cerita tentang petinggi Quraish yang menaruh berhalanya di sana. Padahal Kaum Quraish dianggap paling mengerti bahwa Ka’bah merupakan tempat suci disucikan.

Berjalannya waktu semakin banyak Jamaah yang datang. Dari luar Kota Mekkah sendiri melakukan ritual di sana. Bahkan ketika Agama Kritiani berkembang di luar Arab. Justru tempat ini yang paling banyak dikunjungi dan dijadikan tempat orang melakukan ritual peribadahan.

Berhala Kaum Quraish

Bahkan orang- orang Yahudi dengan kepercayaanya. Mereka melakukan Ibadah sesuai petunjuk rahib- rahib mereka. Cerita tentang kesucian Ka’bah dimanfaatkan Kaum Quraish. Mereka mengada- adakan kegiatan diluar apa yang ritual keagamaan, apa yang dibawa para Nabi dan Rasul.

Mereka tidak mencontoh Nabi Ibrahim AS, atau mengarang- ngarang sendiri. Bermula dari orang yang berkumpul di sekitar Ka’bah. Orang dari berbagai Khabilah, mulai saling menunjukan kekuatan. Mereka berlomba untuk siapa paling unggul termasuk di bidang seni.

Mereka melakukan kontes sastra dan syari. Membuat keramaian disekitaran Baitullah. Mereka juga mengadakan kontes siapa yang paling jago. Mereka tersebut dari yang bergama menjadi pemuja seni layaknya berhala.

Mamar bin Luhayyi, seorang pematung, seniman ini membuat patung yang terbesar dan terkuat. Tujuannya untuk dipuja- puja oleh siapapun yang datang melihat. Namanya hubal yang menjadi berhala paling besar, yang dibuat oleh Kaum Quraish sendiri untuk dipuja- puja.

Ia menaruh patungnya di dekat Ka’bah karena merupakan pusat peribadahan, dan perhatian orang- orang banya. Dari mengaggumi berkembang menjadi pemujaan menurun. Bahkan nama hubal digaungkan Abu Sufyan ketika Perang Uhud, untuk menyemangati melawan Umat Islam.

Dari kekaguman berubah menjadi pemujaan dan berlanjut. Hingga memunculkan ritual- ritual yang belum pernah ada. Seperti mewajibkan penduduk untuk menyembah berhala. Ritual yang dimulai Thawaf sebelum pergi atau sepulang berpergian, mereka akan mengelilingi Ka’bah dan melewati berhala, yang kemudian dilanjut menyembah si berhala.

Ritual tersebut kemudian berubah ketika Islam tiba. Yakni Rasulullah SAW merubahnya menjadi Sholat ketika pergi dan pulang. Sholat Sunah yang dikerjakan ketika menjalankan Ibadah Haji atau Umroh. Nabi Muhammad SAW mencontohkan sendiri yakni Sholat di Masji, sebelum bersosial.

Bukan hanya patung hubal tetapi masih banyak lagi. Menurut Ibnu Abbas bahwa ketik Rasulullah SAW masuk Baitullah. Di sana sudah terdapat banyak berhala sampai 360 buah, jadi jumlahnya bukanlah sedikit tetapi banyak sekali.

Kisah Hancurnya Berhala

Berhala- berhala tersebut dibuat oleh suku atau keluarga. Masing- masing menyembahkan berhala untuk disembah. Aneh memang mereka membuat sendiri tetapi untuk dituhankan. Patung- patung berhala itu terbuat dari kayu, batu, atau yang dibuat dari bahan coran.

Selepas Fathu Mekkah atau pembebasan Mekkah, Umat Islam tidak langsung menghancurkan berhala- berhala itu. Rasulullah SAW sendirilah yang menghancurkan semua. Beliau pertama memutari Baitullah sambil menujuk setiap patung, dan terjadilah Mukjizat yang tak teduga.

Patung yang ditunjuk di barisan depan hancur. Kemudian terjungkal kedepan, disusul yang dibelakangnya jatuh dan hancur. Bagian belakang juga terjungkal ke depan dan hancur semua. Begitu seterusnya hingga tidak satupun tersisa di sekitar Baitullah.

Pristiwa ini tercatat dalam Sirah Ibnu Ishaq, “saat itulah Fudhalah bi Umair berkata, ;apakah kalian belum melihat bagaimana cahaya Allah turun dari tengah-tangah kita saat berhala itu dihancurkan?!”

Sesudah semuanya hancur maka puingnya dikumpulkan. Bersama oleh Umat Muslim sisa- sisa berhala dibakar. Sampai simbol Tauhid kita yakni Ka’bah terbesas dari simbol kesesatan itu. Pristiwa ini menjadi pelajaran bahwa ketauhidan dan kemusyrikan bisa saja tercampur di dalam diri kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *