Kisah Hidayah Mantan Pegawai Bank Menjadi Pemulung

mantan pegawai bank pemulung

Siapa sangka nasibnya akan berbalik 180 derajat seketika. Inilah kisah hidayah mantan pegawai bank menjadi pemulung. Latar pendidikan yang bagus membuatnya hidup penuh kepercayaan diri. Jadi dia siap untuk melamar pekerjan ke perusahaan- perusahaan besar.

Upaya Carsono berbuah hasil panggilan kerja dari perusahaan. Dia diterima menjadi pegawai PT. Graha Sarana Duta Jakarta. Bekerja sejak 1989- 2000 dengan status sebagai pegawai pengawasan. Bekerja bertahun- tahun dilakukannya dengan penuh ketekunan dan konsisten.

Dia percaya itu merupakan cara penyambung hidup keluarga. Carsono harus menjadi pegawai yang baik demi keluarga. Bertahap karirnya naik sehingga banyak rencana terbayang ke depan. Akhirnya dia bertekat untuk membeli rumah sendiri walaupun kecil- kecilan.

Pria yang kemudian dikaruniai seorang anak. Berharap bahwa pekerjaanya akan mampu menghidupi di masa depan. Selain sibuk bekerja dia pun aktif mengikuti kegiatan keagamaan. Dia giat bekerja bukan cuma untuk dunia, tetapi urusan akhirat juga penting baginya kelak.

Cobaan Pegawai Bank

Karirnya naik sampai bekerja untuk sebuah bank swasta. Disana dia juga sibuk dalam mengelola keagamaan di institusinya. Pokoknya dia mencoba selalu menselaraskan antara dunia dan akhirat. Sholat lima waktu tidak pernah bolong mengajak temanya berjamaah,

Ya Carsono sudah berubah menjadi seorang yang mapan. Namun kehidupanya berbalik 180 derajat. Ketika krismon 98 meruntuhkan perekonomian nasional. Bank swasta tempatnya bekerja kemudian ditutup karena dilikuidasi.

Alhasil dia menjadi salah satu korban PHK besar- besaran. Bank swasta banyak berjatuhan. Untuk bertahan mereka mengakuisi bank lain. Dampaknya Carsono termasuk yang terkena pengurangan pegawai. Dari sinilah permasalah semakin membasar bagi kehidupannya.

Banyak teman- teman jatuh stress karena tidak punya pekerjaan. Adapula yang jatuh sakit sampai tubuhnya kurus kering. Ada yang juga rumah tangganya hancur karena tidak berpenghasilan. Tetapi Carsono tetap bertahan karena keimanannya kepada Allah SWT teguh.

Untuk bertahan hidup dia mengerjakan berbagai pekerjaan. Bekerja sebagai pemulung sungguh tidak terpikirkan. Tidak masalah jika dia bekerja pekerjaan yang dianggap hina itu. Dia sempat enggan ketika mungkin melihat temannya di jalan.

Keimanan Seorang Pemulung

Dia adalah sosok yang gigih bekerja. Uang yang diberikan perusahaan diusahakan. Carsono sudah membuka banyak usaha sendiri. Tetapi dia gagal hingga bekerja sebagai pemulung dilakoni. Dia pernah usaha penggemukan sapi, jualan beras, petai, buka warung dan beternak bebek.

Dia melakoni semuanya tetapi tetap gagal. Carsono juga tidak tinggal diam di rumah, termasuk mengetuk pintu dari rumah ke rumah. Kemanapun dia melangkah seolah pekerjaan tetap menjauh. Sementara kebutuhan keluarga harus dipenuhi segara, maka tidak ada kompromi soal pekerjaan.

Berbulan- bulan posisinya di titik paling bawah roda kehidupan. Carsono masih bersabar dan terus berusaha. Mungkin ini ujian Allah SWT terhadap keimanannya. Sabar dan bertawakal agar sisa- sisa uanganya.

Kesusahan mencari kerja menemukan pintunya yakni pemulung. Sebuah komunitas pemulung ditemukannya dalam pencarian. Saban pagi, bersama teman seperjuangan, dia berangkat mencari barang- barang bekas. Dari satu tempat ke tempat lainnya dilakono mencari sesuap nasi.

Menjadi pemulung mencari barang plastik, kaleng, dan besi dari tempat sampah. Dari gang ke gang dilalui melawan tatapan merendahkan. Carsono tidak malu yang terpenting menghasilkan. Lagipula memulung merupakan pekerjaan halal, lebih baik dibanding meminta- minta di jalan tanpa usaha.

Seragam topi menutupi wajahnya dari paparan. Baju lengan panjang lusuh melekat di badan berkeringat. Dari pagi, siang, dan malam dilalui untuk mencari tumpukan sampah. Dulu, dia bisa istirahat di tempat ber AC, dengan gaji yang tetap dibanding mencari sampah yang secuil harganya

Inilah kisah hidayah mantan pegawai menjadi pemulung. Bila rasa capek menerpa tubuhnya; dia mencari tempat teduh. Cukup pohon menjadi naungan, atau duduk- duduk dibawah atap bangunan. Angan- angan Carsono menerawang di jaman ketika karirnya masih moncer dulu.

Rasa malu pernah hinggap di diri Carsono. Bayangkan ketika di jalan dirinya bertemu rekan kerjanya dulu. Dia juga bertemu tetangga sekomplek, atau siapapun yang dia kenal. Terus terang Carsono kikuk ketika bertemu mereka di jalanan.

Memulung Pekerjaan Halal

Dulu dia sengaja menyusuri tempat asing untuk memulung. Sekarang rasa malunya telah hilang. Toh, yang dikerjakan apa sekarang merupakan pekerjaan halal. Bagi Carsono bekerja untuk menopang hidup. Bukan lagi mengejar gaya hidup ataupun kata mapan.

Pemulung bukan pekerjaan idaman bahkan terlihat hina. Tubuhnya mungkin kotor dan jijik di mata orang. Tetapi kalau sudah bertemu Allah SWT, dirinya membersihkan diri dari segala kotoran, termasuk membersihkan rasa sesal karena kini dirinya adalah pemulung.

Dia selalu menebarkan kebaikan ke siapapun. Ilmu agamanya selalu ditambah dan dibagikan ke sekitar. Mangkanya dia mengajak sesama pemulung untuk giat beribadah. Carsono ingin merubah stigma pemikiran masyarakat tentang mereka.

Anggapan bahwa mereka mengambil barang orang tidak benar. Baginya tidak demikian, pekerjaan pemulung itu halal tidak mencuri. Untuk itulah dia mengajak rekannya mengaji, sholat berjamaah, dan mendirikan TPA untuk anak- anak mereka.

Berjalannya waktu bahkan dia membuat Mushola. Sebuah Mushola ukuran 3×4 cm di tengah pemukiman pemulung. Didirikan pada Ramadhan 2007 untuk Sholat berjamaah dan baca Al Quran. Dindingnya terbuat dari kayu- kayu bekas pakai, tetapi itu bukanlah masalah yang terpenting ilmunya.

Kisah hidayah pegawai bank menjadi pemulung. Kini, Carsono bersama keluarganya tinggal di kontrakan sederhana, apakah dia lelah akan kehidupan. Justru dia semakin bersyukur hidup sederhana tetapi berkah. Baginya berjalan dibawah tuntunan Agama tidak ada rasa malu atau takut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *