Arti Kehidupan Bagi Islam Nabi Ibrahim AS

cobaa nabi ibrahim

Tiada ujian terberat kecuali menyangkut orang yang tercinta. Apa arti kehidupan bagi Islam melalui Nabinya. Inilah kisah Nabi Ibrahim AS yang telah melewati masa ratusan tahun. Berbeda dengan umur manusia sekarang, Beliau berumur ratusan tahun dengan banyak pengalaman dan pelajaran.

Bayangkan ratusan tahun bukan sekali atau dua kali. Apa arti kehidupan bagi Islam melalui jalan Beliau. Dimulai dari Ketagwaan Beliau walaupun tidak kunjung memiliki keturunan. Hampir saja tidak ada harapan baginya tetapi tiada kata menyerah.

Tahun- tahun perjuangan bagi Beliau berat. Apa arti kehidupan bagi Islam yang diajarkan Nabi Ibrahim. Bermula dari mempertanyakan keberadaan tuhan hingga bertemu Allah SWT. Melalui Malaikat Jibril, diembannya tugas mulia untuk memperbaiki bangsanya, dan berjuang melawan tirani kekuasaan.

Ingat ketika Beliau bertahun- tahun mengajarkan Tauhid. Bahwa tiada tuhan selain Allah kepada bangsanya. Ketika mereka menjadi penyembah berhala hingga keras kepala. Untuk mengingatkan mereka bahkan tidak bisa sekedar nalar biasa. Kejahaliyahan kaumnya akan patung- patung berhala akhirnya tumbang.

Bermimpi Mempunyai Anak Seperti Nabi Ismail

Ingat ketika Baliau ditangkap oleh bangsanya sendiri. Dimana kaumnya menghianatinya. Nabi Ibrahim dibakar hidup- hidup dalam keadaan terikat. Tiada perlawanan hanyalah Allah yang Maha Penolong. Dengan Mukjizat Allah SWT dirubahlah api yang panas menjadi dingin. Dan selamatlah Nabi Ibrahim dari panggangan api yang membara.

Ingatlah ketika Beliau menyelamatkan mereka dari Raja dzalim. Mereka yang tertindas atas kekejaman Namrud. Dari kepercayaan akan berhala- berhala menjadi penyembah Tauhid. Tetapi di usia rentanya, Baliau justru tidak memiliki keturunan dan siapa yang akan merawat Beliau?

Harus Ikhlas menerima kenyataan istrinya belum mengandung. Fakta bahwa usianya kini sudahlah uzur. Padahal keberhasilan yang gemilang telah dicapainya. Satu abad sudah perjuangan Nabi Ibrahim AS untuk menyampaikan Risalah. Bagi Beliau tiada sempurna keberhasilan tanpa adanya anak di pangkuan.

Maka Nabi Ibrahim AS pun berdoa:

“Maka Kami memberinya kabar gembira dengan seorang anak yang amat penyantun (QS. Ash-Shaafat :101).

Tetapi bukanlah dari istrinya Siti Sarah melainkan dari istri kedua. Untuk itu dibutuhkan kesabaran yang luar biasa. Walaupun Nabi Ibrahim memilih menikahi wanita biasa. Beliau lah Siti Hajar, wanita biasa yang berkulit hitam, dan kecantikannya tidak lebih dari istrinya Siti Sarah.

Nabi Ismail AS terlahir sebagai anak yang baik. Kesholehannya sudah terlihat semenjak masih kecil. Anak yang sopan dan santun terhadap orang tua dan sesama. Sebagai anak satu- satunya, maka Nabi Ibrahim mencurahkan semua kasih sayang Beliau kepadanya.

Mengorbankan Nyawa Dalam Islam

Arti kehidupan dalam Islam teruji di cerita Nabi Ismail. Tak kalah Nabi Ibrahim AS mendapatkan mimpi berulang. Bahwa Beliau harus mengorbankan anak satu- satunya. Bagaimana bisa Beliau mengorbankan buah hatinya itu. Seseorang yang telah ditunggunya selama berabad.

“Wahai Ibrahim, taruhlah sebilah pisau dileher anak mu dan sembelihlah dia dengan tanganmu sendiri.”

Tembok besar keberhasilan seolah akan roboh. Padahal Beliau begitu berani menentang Raja Namrud. Kini, ketika diperintah Allah SWT, Beliau seolah tidak mau percaya dan ragu. Hingga berkali- kali barulah tetap hatinya bahwa ini perintah. Beliau tidak ragu bahwa ini benar dari Allah SWT, bukanlah dari bisikan setan yang menyesatkan.

Dalam kepasrahan yang dilandari Imannya kepada Allah SWT. Beliau lalu bertanya langsung kepada Nabi Ismail. Nampak Nabi Ibrahim dengan janggut dan rambut memutih. Duduk di sudut Mina yang sepi, dihadapan putranya yang masih belia, yang umurnya barulah 13 tahun ketika itu. Tapi akhirnya Beliau memasrahkan diri dan bertanya.

“Ismail, anaku. Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”

Satu pertanyaan berat yang disusul kesunyian seketika. Nabi Ibrahim menunggu apa jawaban putranya. Hingga, Beliau berkata satu hal yang tidak terduga:

“Ayahku, patuhilah dan jangan ragu-ragu untuk memenuhi perintah Allah Yang Maha Kuasa. Engkau akan mendapatiku sebagai orang yang patuh dan dengan pertolongan Allah akau dapat menanggungnya” (QS.Ash-Shaafat :102).

Ketika Beliau mulai mengangkat pisaunya dalam kesunyian. Kembali keraguan menginggapinya. “Apakah aku bukan ayahnya,” pertanyaan yang mempertanyakan kasih sayangnya. Tetapi kembali Beliau mengingat bahwa ini merupakan perintah Allah SWT. Dengan penuh rasa takut mulailah pisau tersebut disembelihkan ke leher putranya.

Siapa sangka semua akan berubah seketika itupula. Nabi Ismail berubah menjadi domba yang disembelih. Selamatlah putra satu- satunya tersebut dari “ritual suci” untuk Allah SWT. Ritual yang sering digemborkan manusia- manusia dikala itu.

Lalu apakah yang kita bisa dapatkan dari pristiwa tersebut?

Ini mengajarkan bahwa mengorbankan nyawa adalah sia- sia. Jika maksud tujuannya hanya untuk menyenangkan Alla SWT, bukanlah itu amalan seharusnya. Dari sinilah pembatalan terhadap pengorbanan manusia disuarakan. Ambil contoh ritual sungai Nil di Mesir, yang mengorbankan nyawa manusia untuk persembahan dewa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *