Seperti Apakah Sosok Ali bin Abi Thalib Pria Sederhana

seperti apakah ali bin abi thalib

Ketika anda terpuruk maka tirulah Khalifah kelima ini. Seperti apakah sosok Ali bin Abi Thalib. Pria sederhana yang beriman kepada Allah dan Rasul Nya. Beliau adalah menantu terbaik Rasulullah SAW sendiri. Ali bin Abi Thalib secara garis keturunan juga sepupu Nabi Muhammad SAW.

Sosoknya sederhana dengan keimanan yang luar biasa. Beliau selalu mengdengar ucapan Rasulullah. Ali bin Abi Thalib percaya dan ikut gembira ketika mendengar Sahabat lain berbahagia. Kesederhanaanya diuji ketika Beliau akan melamar putri kesayangan Rasulullah SAW. Dimana saingannya tidak hanya pangliman perang tetapi juga pengusaha kaya dan terkenal di jazirah Arab.

Ali bin Abi Thalib Memandang Dunia

Nama seperti Abu Bakar As Shiddiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf. Siapakah Ali bin Abi Thalib dibanding kekayaan harta mereka. Nama- nama itu tidak hanya pandai berperang tetapi kaya raya. Bahkan ketika Beliau melamar Fatimah pun, hanyalah berbekal baju zirah yang pernah dipakainya.

Dijualnya baju itu untuk dijadikan mahar lamaran kepada Rasulullah. Ketika banyak Sahabat ditolak lamarannya. Kenapa hanya lamaran Ali bin Abi Thalib yang diterima. Tidak lain karena Beliau percaya kepada Allah dan Rasulullah. Keimanan Beliau lah yang membuatnya diterima di sana.

Bukan harta melimpah tetapi ketawadhuan dalam beribadah. Keimanannya merasuk sampai ke prilakunya sehari- hari. Ali bin Abi Thalib tidak jarang mengorbankan jatah makannya. Untuk membahagiakan orang lain dirinya mau bekerja keras. Alhasil kehidupannya begitu sederhana tak jarang juga dalam kekurangan. Tetapi Rasulullah SAW justru menyukai sifatnya yang begitu bukan menyalahkan.

Ketika mendengar putrinya sakit karena menahan lapar. Beliau memilih percaya kepada Ali bin Abi Thalib. Sesungguhnya tiada kesusahan tanpa alasan yang bijak dari sang menantu. Nabi Muhammad yakin Ali bin Abi Thalib mengerjakan sesuatu pasti untuk keridhaan Allah semata. Walaupun Beliau menawarinya harta yang melimpah dengan sekali doa. Ali bin Abi Thalib pasti memilih mensedekahkan itu di jalan Nya.

“Bagaimana keadaan mu Nak?” Rasulullah bertanya kepada putrinya.

“Kepala ku sakit, bertambah sakit karena aku belum makan, tidak ada makanan yang dapat ku makan,” ucap Fatimah tanpa menyebunyikan keadaanya.

Tiada ucapan yang menyudutkan sang suami Ali bin Abi Thalib. Begitu pula tiada ucapan yang buruk kepadanya dari Rasulullah. Keduanya tau benar seperti apakah Ali bin Abi Thalib. Jika tidak ada makanan di rumah pastilah karena alasan mulia. Mereka juga yakin sekarang Ali bin Abi Thalib tengah bekerja keras untuk mencari nafkah di luar sana.

“ Berbahagialah engkau. Engkaulah pemimpin seluruh wanita di dunia “, demikianlah jawab Nabi.

Rasulullah tau bahwa Ali bin Abi Thalib merupakan suami terbaik. Sosok yang diridhoi dirinya dan Allah SWT. Keimanannya sungguh membuatnya memilih hidup sederhana. Cahaya iman dalam dirinya meneduhkan dan membimbing orang ke jalan kebenaran. Kalaupun Beliau meminta pastilah Allah SWT akan melimpahkan rejeki sebesar- besarnya kepadanya.

Ali bin Abi Thalib dan Ketakutan Akan Imannya

“Anakku, ayah dan suamimu tidak miskin, aku telah ditawari harta dunia tapi aku memilih apa yang ada pada Tuhanku. Anakku , sesungguhnya Allah telah melihat ke bumi lalu ia memilih ayahmu dan suamimu”

Seperti apakah Ali bin Abi Thalib dalam sejarah panjangnya. Pernah suatu ketika dirinya gusar karena banyak hal. Yakni mengenai keadaan ekonomi rumah tangganya. Bayangkan dia cuma memiliki air untuk diminum saja. Tetapi ketika dicoba akan hal itu, taukah apa yang paling digusarkan Ali bin Abi Thalib dari keadaanya?

Beliau gusar akan keimannya kepada Allah SWT. Takut kalau- kalau ini merupakan teguran kepadanya. Perasaan takut jikalau Beliau melakukan kesalahan. Hingga Ali bin Abi Thalib gusar dan takut, kalau- kalau nanti Beliau didatangi oleh Malaikat maut. Sementara dirinya dalam keadaan kekurangan dan mempertanyakan apa yang diberikan Allah.

Nabi Muhammad kemudian menenangkan Beliau “Bergembiralah Ali Sesungguhnya keprihatinan itu merupakan tabir perlindungan dari neraka. Keprihatinan terhadap ketaatan seorang hamba ciptaannya adalah pengamannya dari azab.”

Ingat bahwa prihatin merupakan jihad atas diri sendiri. Bahwa keutamaanya Ibadah 60 tahun. Prihatin jika Malaikat maut datang ketika hidupnya susah. Itu justru akan menghapuskan dosa- dosanya.

“Ketahuilah Ali, “ imbuh nabi lagi “ keprihatinanmu itu tidak mempengaruhi rezekimu tetapi memberimu pahala. Karena itu bersyukurlah kepada Allah, dan jadilah orang tawakal, niscahya kau akan menjadi kekasih Allah”

Dengan apa Ali bin Abi Thaib bersyukur jika kekurangan. Dengan Islam jawab Nabi Muhammad ketika ditanya itu. Kemudian dengan apa nanti Beliau taat kepada Allah ketika kekurangan?

“Dengan mengucapkan La haulawala Quwwata illa billahil’ Aliyyil azhim “

Ali bin Abi Thalib kemudian bertanya kembali, “apa yang harus saya singkirkan?”

“Kemarahan,” Nabi Muhammad menjawab keprihatinan Beliau.

Taukah anda Jika kemiskinan dekat dengan kekhufuran. Mungkin Ali bin Abi Thalib takut akan menjadi khufur. Takut khufur nikmat tetapi tanpa ada yang bisa disyukuri. Beliau takut bila harta yang didapatnya haram. Seperti yang disampaikan ketika dirinya bertemu Salman Al Farisi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *