Belajar Wirausaha dari Nabi Muhammad

belajar berdagang dari nabi muhammad

Nama Khadijah dikenal sebagai saudagar wanita kaya raya. Suatu hari Beliau yang hendak mengirim kafilah dagangnya ke Syam, membutuhkan seorang pemimpin. Rombongan perdagangan ini membutuhkan seseorang terbaik dan dapat dipercaya. Khadijah mendengar seorang pemuda asal Mekkah yang dikenal akan kejujurannya.

Akhlak pemuda tersebut baik dan dapat dipercaya. Ucapanya jujur tetapi mampu mengajak orang. Daripada berfoya- foya, pemuda tersebut lebih menyenangi bekerja untuk keseharian. Ialah Muhammad bin Abdillah, pemuda asal Bani Hasyim, yang dikenal terkemuka di antara penduduk Mekkah.

Dia Juga tidak terpengaruh kebiasaan buruk penduduk Mekkah. Tidak minum- minuman keras apalagi berjudi. Cerita tersebut bahkan terkenal diantara penduduk Mekkah sendiri. Tetapi apakah Beliau juga memiliki pengalaman wirausaha. Beliau sering menemani pamannya berdagang ke Syam.

Namun tentu berbeda antara menemani berdagang dengan memimpin. Apakah pemuda itu mampu memimpin rombongan bedagang Mekkah ke Syam?

Wirausaha Cara Nabi Muhammad

Belajar wirausaha dari Nabi Muhammad, apa yang anda pelajari dulu? Kepercayaan merupakan nomor satu. Mendengar Akhlak Nabi Muhammad terkenal diantara penduduk Mekkah. Siti Khadijah berniat mengajak Beliau menjadi pemimpin. Tetapi apakah bisa ketika tidak memiliki pengalaman di wirausaha.

Walaupun Siti Khadijah memiliki pengalaman panjang. Tetapi Beliau tidak mempedulikan pengalaman Nabi Muhammad. Baginya Akhlak atau kepercayaan merupakan nomor satu. Maka belajar wirausaha dari Nabi Muhammad berarti jagalah kepercayaan.

Apakah Beliau yang tidak memiliki kemampuan mengatur, membimbing, dan mengawasi mampu?

Khadijah hanya meyakini kejujuran merupakan modal terpenting. Sehingga disuruhlah pelayannya untuk memanggil sang pemuda. Sesampainya di depan Siti Khadijah, layaknya lamaran pekerjaan, ada sesi wawancara untuk memastikan ceritanya. Beliau pun melontarkan beberapa pertanyaan ke Nabi Muhammad.

Beliau begitu tenang menjawab setiap pertanyaan. Beliau mendengarkan dengan seksama setiap perkataan. Begitu cerdas, memiliki keilmuan yang tinggi, dan pandangan luas tentang berdagang. Jika anda belajar wirausaha dari Nabi Muhammad, maka banyaklah belajar dan miliki wawasan luas tentang itu.

Dikela berhadapan dengan lawan bicara wanita. Wajahnya menunduk menjaga pandangannya. Tetapi tanpa sedikitpun tidak mendengarkan lawan bicara. Seingat Siti Khadijah hanya sekali Beliau mengakat wajah sedikit. Yakni ketika mendengar dirinya diterima menjadi pimpinan rombongan dagang, dengan tersenyum dan kembali menunduk.

Karir Nabi Muhammad Sebagai Pedagang

Sikap yang bersahaja membuat Khadijah RA semakin yakin. Disuruhnya sang pemuda pulang ke rumahnya. Tawaran kerja itupun disampaikannya kepada pamannya, Abu Thalib. Keduanya senang karena ini kesempatan besar yang tak terduga. Sang paman sendiri yakin sekali bahwa keponakannya mampu menjalankan itu.

Abu Thalib berkata, “ini adalah rezeki yang Allah berikan kepada mu”

Tibalah hari dimana Nabi Muhammad mulai berkarir. Sebagai pemimpin rombongan dagang Beliau sangat percaya diri. Mereka berjalan untuk menuju Syam. Dibantu utusan Khadijah bernama Masyarah berangkatlah mereka ke Syam. Begitu sampainya pemuda itu begitu bersemangat dan cekatan berdagang.

Walaupun berdagang tidak boleh menutupi kekurangan. Dengan jujur Nabi Muhammad menyampaikan kekurangan barang. Kalau terdapat cacat Beliau tidak segan untuk memberi tahu. Walaupun begitu Beliau tetap mampu mengajak pembeli mendengarkan. Segera Beliau memberikan barang yang terbagus untuk gantinya.

Jika barangnya sangat bagus, Nabi Muhammad tidak segan memuji barang tersebut. Beliau juga mengajak pembelinya untuk membeli. Jadi tidak sekedar menujukan barang bagus atau jelek. Untuk harga pun dibuat setara dengan yang dipasaran. Tidak ditambah- tambahkan harganya lebih mahal, semua dilakukan atas dasar sama suka.

Tidak mengambil untung sebesar- besarnya rahasianya. Itulah caranya belajar wirausaha dari Nabi Muhammad. Karena harga yang dijual wajar maka banyak orang datang. Mereka beralih dari mereka yang berjualan dengan untung sebesar- besarnya. Sehingga urusan berdagangan di Syam berjalan lancar hingga akhir.

Nabi Muhammad mampu mendapatkan untung besar. Padalah harga jualannya tidak tinggi. Semua berkat Akhlak yang menarik pembeli lebih banyak. Semua barang dagangan yang dibawah habis. Sebelum pulang, mereka tidak lupa membeli barang dari Syam, untuk dijual kembali ke Mekkah.

Sepulangnya penduduk Mekkah antusias membeli barang. Karena Nabi Muhammad pandai memilih barang terbagus. Alhasil sesampainya di Mekkah semua barangnya habis. Jadilah keuntungannya berlipat ganda, inilah yang membuat Siti Khadijah semakin mantap, pilihannya untuk mengangkat Nabi Muhammad tepat.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *