Kisah Mengharukan Umar bin Khattab dan Penjual Susu

kisah penjual susu beriman umar bin khattab

Pada masa Khalifah kedua terjadi kisah menarik. Kisah mengharukan Umar bin Khattab dan penjual susu. Dimana dibalik kemajuan Islam pada zaman Beliau. Ternyata dibaliknya masih ada orang dalam kemiskinan. Mereka yang terpaksa berbuat curang padahal beriman. Dan sudah menjadi kebiasaan Khalifah turun langsung ke masyarakat itu.

Malam hari yang gelap gulita dimana angin dingin berhembus. Di sana ada Amirul Mukminin, Umar bin Khattab, tengah menyusuri lorong Kota Madinah. Melalui sisi kota yang penduduknya tengah terlelap itulah. Beliau mendatangi rumah- rumah untuk mengetahui kondisi rakyat.

Beliau sadar bahwa tugasnya kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Sebagai pemimpin Beliau sadar akan tugasnya dihadapan Allah SWT. Maka Beliau tidak mau satupun masyarakatnya terdzalimi. Ketika malam semakin larut menjelang fajar menyingsih. Ketika kakinya tengah menuju ke masjid, terdengar percakapan dua orang lirih.

Penjual Susu yang Berlaku Curang

Siapakah mereka yang berbicara lirih dibalik gubuk. Kisah mengharukan Umar bin Khattab dan penjual susu. Langkah Amirul Mukminin tertahan di depan gubuk reot itu. Mendengar percakapan itu ternyata mereka adalah ibu dan putrinya. Penjual susu kambing yang biasanya berjualan di pasar pagi hari.

“Nak, campurlah susu itu dengan air,” perintah sang ibu kepada putrinya.

Karena miskinnya sang ibu berniat mencampur susunya. Agar mendapatkan untung lebih banyak dicampurnya air. Tujuannya agar susu oplosan itu lebih banyak untuk dijual.

Namun siapa sangka ucapan putrinya membuat kaget Amirul Mukminin.

“Maaf, Bu, tidak mungkin aku melakukannya. Amirul Mukminin tidak membolehkan untuk mencampur susu dengan air, kemudian menjualnya,” tolak putrinya halus.

Tetapi sang ibu bersikeras untuk mencampur susunya. Ia berkata bahwa itu hal yang lumrah dilakukan. Semua orang di pasar melakukan itu untuk mendapat untung.

“Itu suatu hal yang lumrah, Nak. Semua orang melakukannya. Lagi pula Amirul Mukminin tidak akan mengetahuinya,” bujuknya

Sang putri kemudian menjelaskan tentang Allah kepadanya. Bahwa Allah SWT sesungguhnya mengetahui itu. “Bu, boleh jadi Amirul Mukminin tidak mengetahui apa yang kita lakukan sekarang, tetapi Allah SWT Maha Melihat dan Mengetahui!” jawab sang putri, wanita Sholehah yang sadar akan hukum Allah.

Pemimpin Besar dari Wanita Sholehah

Mendengar ucapanya membuat Khalifah Umar bin Khattab terharu. Bahagia hingga terharu terasa di dada Beliau. Khalifah Umar bin Khattab kagum akan keimanan gadis itu. Keteguhan hati sang putri walaupun miskin, tetapi di hatinya beriman kepada Allah SWT. Kagum akan kejujuran dan keteguhan hatinya yang kuat.

Khalifah teringat akan tujuannya semula, bergegas ke masjid untuk menuju ke Masjid untuk Sholat Subuh. Selesai melaksanakan Sholat, Beliau segera memanggil putranya yang bernama Ashim. Beliau meminta putranya untuk melamar putri sang penjual susu. Karena memang sudah saatnya putranya itu untuk berumah tangga.

Sebelum berangkat Beliau menjelaskan kisah dibalik gubuk itu.

“Aku melihat dia akan membawa berkah untukmu kelak jika kamu mempersuntingnya menjadi istrimu. Pergilah dan temui mereka, lamarlah dia untuk menjadi pendampingmu. Semoga kalian dapat melahirkan keturunan yang akan menjadi pemimpin umat kelak!” ujar Umar bin Khattab kepada putranya, ‘Ashim.

Akhirnya Ashim menikahi gadis Sholehah itu dan lahirlah seorang putri. Dialah Laila, yang tumbuh menjadi gadis yang taat beribadah dan cerdas. Ketika dewasa ia kemudian dipersunting oleh Abdul Aziz bin Marwan. Dari keduanya lahirlah pemipin besar yang disegani, Umar bin Abdul Aziz, yang mewarisi akhlak nenek dan kepemimpinan buyutnya.

Inilah kisah mengharukan Umar bin Khattab dan penjual susu. Semoga dari keimanan kita akan lahir penerus yang terbaik. Mereka yang kelak akan menjadi pemipin besar Indonesia, Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *