Inspirasi Hidup dari Sepotong Roti

kisah roti

Taukah anda bahwa semua hal dapat kita pelajari. Apa inspirasi hidup dari sepotong roti. Aneh memang terdengar belajar dari sepotong roti. Tapi memang hidup seperti sepotong roti kok. Terbuat dari bahan- bahan yang tidak bisa berdiri sendiri. Roti mengandung terigu, telur, mentega, gula, ragi, dan bahan lainnya.

Bahan utamanya terigu merupakan fondasi kita manusia. Yang direkatkan dengan gula dan dimasak dengan mentega. Raginya mengembangkan hidup kita. Sementara gula dan bahan lainnya ialah warna- warni kehidupan. Hal terkecil pun dalam roti dapat mempengaruhi bentuknya, rasanya, dan apa roti itu jadi atau tidak.

Cerita Inspirasi Hidup dari Sepotong Roti

Kita disatukan dari bahan itu menjadi cita rasa. Kudapan yang menggoda selera lidah kita. Agar semua bahan itu tercampur maka butuh proses juga. Dari diaduk, diputar, diremas, diuleni, dibanting, dan seterusnya. Jika tepat perlakuannya maka akan jadi. Semua proses itu akan menyatukan semua dalam diri kita.

Perlakuan yang keras layaknya hidup menyatukan. Dari terigu sebagai fondasi, telur perekat, dan gula yang memaniskan. Selepas adonan selesai masih juga mendapatkan proses dari luar lagi. Nah, aneka proses dari luar inilah yang kita sebut cobaan, masalah yang akan membuat adonan kita jadi atau tidak.

Inspirasi hidup dari sepotong roti apakah itu. Apakah seseorang akan bantet dan tidak layak tahap selanjutnya. Seseorang adalah kesatuan bahan- bahan baku roti. Kita pun tidak sendirian karena akan ada potongan roti lain. Kita mungkin gagal menjadi satu kesatuan, atau dimasak sendiri dan akhirnya gagal sendiri.

Tantangan kehidupan juga belum berhenti. Walaupun kita telah matang sebagai individu. Hasilnya ialah jati diri anda sendiri sebagai roti apa nanti. Apakah anda roti john yang panjang, roti kasur yang lembut, donat yang berlubang, atau roti cakwe yang gurih. Selepas itu proses selanjutnya ialah pemasakan.

Apakah nanti digoreng, dipanggang, atau bahkan dikukus. Anda harus kuat melewati tahapan apapun. Dari menahan panasnya oven ataupun panas dari kukusan. Walaupun berbeda- beda hasilnya sama- sama roti enak. Identitas kita harus dimengerti dulu, apakah kita Musliam atau bukan, barulah tau kita enak atau tidak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *